Hidayatullah.com–Sejak Israel memulai penjajahan militernya atas Tepi Barat, termasuk Jerusalem Timur, dan Jalur Gaza pada 1967, Negara Zionis itu telah memenjarakan lebih dari 800.000 warga Palestina. Jadi, tidaklah mengejutkan ketika rakyat Palestina memiliki sebuah peringatan tahunan yang didedikasikan untuk para tahanan Palestina – 17 April 2018.
Hari ini, lebih dari 6.000 warga Palestina ditahan di penjara-penjara Israel, 356 dari mereka adalah anak-anaka, 62 perempuan dan 427 tahanan administratif tanpa pengadilan, menurut kelompok HAM tahanan Palestina, Addameer.
Middle East Monitor (MEMO) berbicara pada pembela HAM dan pengacara Palestina Shireen Issawi, yang telah bekerja dengan tahanan Palestina dengan memberikan bantuan hukum.
Seorang Pembela HAM
Issawi mulai bekerja dengan para tahanan pada tahin 2003, dengan mewakili tahanan yang telah dijatuhi hukuman penjara isolasi. “Beberapa dari para tahanan ini dijatuhi hukuman penjara isolasi 10 hingga 12 tahun dan kekurangan bantuan hukum yang memadai,” Issawi mengatakan pada MEMO.
“Saya telah berkeinginan menjadi seorang pengacara dan pembela hak asasi manusia sejak Saya masih anak-anak,” katanya. Menjelaskan motivasinya, dia melanjutkan: “Sebagai seorang anak-anak Saya menikmati pramuka sekolah dan berkemah, namun Saya selalu mengetahui realitas politik di sekitarku karena itulah kehidupan saya setiap hari.”
“Saya menyaksikan kebrutalan penjajahan, penangkapan, dan penggerebekan rumah pada malam hari ketika mereka akan memaksa kami keluar di dinginnya malam bahkan tanpa sepatu,” tambahnya.

Dia menjelaskan. “Tentara akan membawa mereka bahkan meskipun mereka berumur 13 atau 14 tanpa menginformasikan kami di mana mereka berada, tanpa memberikan kami informasi apapun tentang apa yang akan tentara lakukan pada mereka, dan tidak memperbolehkan orang tuaku menemani mereka.”
“Semua ini memotivasiku untuk bekerja dengan para tahanan dan melindungi hak-hak mereka, karena Saya percaya bahwa mereka merupakan orang-orang yang melawan penjajahan militer brutal ini namun di saat yang sama memiliki perhatian hukum yang sangat kecil.”
Baca: Dukung Israel, Facebook Tutup Ratusan Akun Aktivis Palestina
Issawi memiliki ketertarikan khusus dalam pekerjaan dengan para tahanan perempuan, khususnya anak di bawah umur dan para ibu, yang dia pandang sebagai orang yang paling rapuh dan sangat membutuhkan bantuan hukum. Bekerja dengan Defence for Children International (DCI), Issawi dapat mengunjungi para tahanan dan mengajukan pengaduan atas nama mereka di Dewan Hak Asasi Manusia PBB.
“Saya akan mengumpulkan pengakuan mereka tentang perlakuan kejam yang mereka hadapi dan semua pelanggaran hak mereka dan mengajukan pengaduan resmi,” katanya.
“Pekerjaanku penting dan telah membuat sebuah perbedaan,” lanjutnya. “Dari apa yang para tahanan katakan padaku, perlakuan pada mereka dari hari-ke-hari oleh sipir penjara dan administrasi penjara telah bertambah baik.”
“Ketika otoritas Israel melihat bahwa seseorang sedang memperhatikan dan bekerja keras mendukung para tahanan, hal itu bertindak sebagai pencegah pelanggaran mereka,” tambahnya. “Tentu saja Saya tidak dapat menghentikan semua pelanggaran hak mereka, namun Saya berupaya untuk membatasinya.”
Seorang Tahanan
Issawi mengatakan bahwa dia telah dikriminalisasikan karena pekerjaannya mewakili para tahanan Palestina.
Dituduh menjadi penyampai pesan pada keluarga tahanan, memberikan informasi dan mengirimkan dana antara tahanan dan organisasi politik, Issawi telah dijatuhi empat tahun hukuman penjara pada 2016, dan dibebaskan lebih awal karena bandingnya diterima pada Oktober tahun lalu setelah menghabiskan 43 bulan di penjara.
Itu bukanlah pertama kalinya Issawi dipenjara, tetapi itu merupakan yang terlama. Dia menggambarkan waktunya di penjara “sangat sulit dan memalukan”.
Pengacara itu menghabiskan kebanyakan vonis penjaranya di ruang isolasi sebagai hukuman. “Saya akan diisolasi dalam sebuah sel dengan hanya sebuah matras untuk tidur,” dia mengatakan pada MEMO.
Sel tersebut memiliki kamera-kamera yang dipasang di semua tempat, termasuk di atas toilet, tambahnya. “Pernah Saya tidak mandi selama dua bulan karena kamera-kamera itu,” katanya. “Saya juga tidak memiliki akses pada kesehatan, khususnya ketika Saya baru saja dipukuli oleh sipir penjara dan mengalami guncangan keras karena itu.”
Issawi mengatakan penghinaan dan pengabaian medis merupakan hal yang sangat biasa di penjara-penjara Israel, mengutip kasus para tahanan wanita lain yang menderita karena kurangnya perawatan kesehatan. “Israa Ja’abis, Helwa Hamamra dan Abla Al-Adam merupakan beberapa dari para tahanan yang tidak menerima perawatan medis penting yang mereka butuhkan dan Saya menyaksikan kesehatan mereka memburuk.”
Baca: Pernyataan Persatuan Ulama Palestina atas Keputusan Donald Trump terhadap Baitul Maqdis
Issawi juga tidak diperbolehkan menerima kunjungan selama sebagian besar masa tahanannya sebagai bentuk hukuman. Sementara para tahanan biasanya berhak menerima kunjungan keluarga 45 menit sekali setiap dua minggu, banyak dari para tahanan yang tidak memiliki ini, baik sebagai hukuman atau karena “alasan keamanan”.
“Ketika kunjungan diperbolehkan, mereka masih akan memperlakukan keluarga yang datang mengunjungi saudara mereka dengan buruk,” lanjutnya. “Keluarga yang berkunjung harus tiba di penjara pada jam 5 pagi dan kemudian membiarkan mereka menunggu di luar untuk waktu yang lama sebelum akhirnya memperbolehkan mereka masuk.”
“Sipir penjara mempermalukan mereka dan pemeriksaannya sangat invasif dan provokatif,” tambahnya.
Dia menyebutkan pemindahan tahanan dari dan ke pengadilan sebagai bentuk penyiksaan, Issawi mengatakan para tahanan terkadang harus menghabiskan sekitar 24 jam dalam kendaraan berkaca gelap, duduk di kursi logam yang sangat tidak nyaman dan tanpa akses pada toilet.
“Hal yang sama juga terjadi di ruang tunggu di pengadilan,” lanjutnya. “Tidak ada toilet atau jendela di ruang tunggu.”
Issawi bukanlah satu-satunya dalam keluarganya yang telah mengenal bentuk dalam sel penjara. Dia adalah saudara perempuan dari Medhat, yang juga merupakan pengacara yang bekerja dengan para tahanan Palestina, dan Samer Issawi. Dia seringkali bertindak sebagai juru bicara untuk kampanye saudara laki-lakinya Samer selama mogok makan panjangnya.
“Kami adalah sebuah keluarga yang bersatu kuat,” kata Issawi. “Kami saling mencintai dan menjaga satu sama lain, dan semua tindakan terhadap keluargaku membuat kami bahkan lebih berkomitmen pada masalah itu karena kami mengetahui bahwa setiap warga Palestina merupakan subjek dari penahanan.”
“Kami semua adalah target,” tegasnya.*
Wawancara Middleeastmonitor, diterjemahkan Nashirul Haq AR