Hidayatullah.com—Seorang komandan senior kelompok perlawanan Jihad Islam gugur dalam serangan udara zionis-’Israel’ di Jalur Gaza selatan, kata para pejabat hari Ahad. Kelompok Jihad Islam mengatakan Khaled Mansour dan dua orang lainnya gugur dalam serangan itu, lapor Voice of America.
Militer penjajah mengatakan sekitar 600 roket telah diluncurkan ke ‘Israel’ dari Jalur Gaza sejak Jumat. ‘Israel’ menanggapi serangan roket pejuang Palestina dengan serangan udara, meskipun ‘Israel’ menggunakan pencegat Iron Dome yang memiliki persentase tingkat keberhasilan yang tinggi terhadap roket.
Serangan bolak-balik saat ini telah mengakibatkan gugurnya 29 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak. “Anak-anak dan keluarga yang tidak bersalah telah terperangkap dalam lingkaran setan kekerasan selama mereka dapat mengingatnya,” kata Direktur Regional Timur Tengah Dewan Pengungsi Norwegia Carsten Hansen.
Serangan dapat meningkat lebih lanjut pada hari Ahad ketika orang-orang Yahudi merayakan hari suci di Baitul Maqdis.
Tentara penjajah mengatakan seluruh “kepemimpinan senior sayap militer Jihad Islam di Gaza telah dinetralisir”. Perdana Menteri Yair Lapid berjanji pada hari Ahad bahwa “operasi akan berlanjut selama diperlukan”.
Di Gaza, kementerian awalnya mengatakan 32 orang telah gugur sejak hari Jumat, tetapi kemudian merevisi angkanya menjadi 29. ‘Israel’ mengklaim memiliki bukti “tak terbantahkan” bahwa roket nyasar dari Jihad Islam bertanggung jawab atas kematian beberapa anak di Jabalia, Gaza utara, pada hari Sabtu.
Tidak segera jelas berapa banyak anak yang tewas dalam insiden di Jabalia. Seorang fotografer AFP melihat enam mayat di sebuah rumah sakit daerah, termasuk tiga anak di bawah umur.
Di Yerusalem, wartawan AFP mendengar dua ledakan saat roket dicegat di udara. Brigade Al-Quds, sayap militer gerakan Jihad Islam, mengatakan telah “menembakkan roket” ke kota itu, tempat sirene serangan udara meraung.
Orang-orang Yahudi pada hari Ahad menandai hari peringatan Tisha Be’av dengan mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsha, di Yerusalem (Baitul Maqdis) timur yang dicaplok ‘Israel’. Ketegangan di sana sebelumnya telah memicu kekerasan yang lebih luas, dan kepala pejuang Hamas yang berbasis di Doha, Ismail Haniyah, memperingatkan agar tidak mengizinkan orang Yahudi untuk “menyerbu” kompleks itu hari Ahad, dengan mengatakan hal itu dapat menyebabkan krisis keamanan yang “tidak terkendali”.
Agresi terburuk
Agresi ‘Israel’ adalah yang terburuk di Gaza sejak perang tahun lalu menghancurkan wilayah miskin, rumah bagi sekitar 2,3 juta warga Palestina. Militer penjajah telah memperingatkan kampanye udara dan artileri terbarunya terhadap Jihad Islam bisa berlangsung seAhad, tetapi Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi, sekutu ‘Israel’, mengatakan Kairo sedang berbicara “sepanjang waktu” dengan meredakan kedua belah pihak.
‘Israel’ mengklaim meluncurkan operasi “pre-emptive” terhadap Jihad Islam, karena kelompok itu merencanakan serangan yang akan segera terjadi setelah beberapa hari ketegangan di sepanjang perbatasan dengan Gaza. Sementara itu, zionis mengatakan, dua puluh anggota Jihad Islam ditangkap semalam dalam beberapa serangan oleh pasukan keamanan ‘Israel’ di Tepi Barat, kata tentara.
Kehidupan di Jalur Gaza terhenti, sementara distributor listrik mengatakan satu-satunya pembangkit listrik ditutup karena kekurangan bahan bakar setelah pasukan pendudukan ‘Israel’ menutup penyeberangan perbatasannya. Kementerian kesehatan Gaza mengatakan beberapa jam ke depan akan menjadi “penting dan sulit”, memperingatkan bahwa layanan vital akan segera dihentikan karena kekurangan listrik.*