Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Politik di Mata Tuan Guru Bajang M. Zainul Majdi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Februari 2018 17:45 5:45 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Februari 2018 17:43
Bagikan
Tuan Guru Bajang (TGB), M. Zainul Majdi
Bagikan

JANGAN bicara politik di masjid, ulama jangan berpolitik!  Jangan campur agama dengan politik!  Demikian sebagian orang berpendapat. Menjadi menarik, di saat kata-kata seperti itu sering terdengar, kita menyaksikan sosok Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. H. M. Zainul Majdi, seorang ulama alumni Universitas Al-Azhar Mesir sekarang menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB).

Penasaran dengan pandangannya tentang politik, hidayatullah.com menemuinya usai acara pembentukan Aliansi Strategis antara Sarikat Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan alumni Universitas Al-Azhar Mesir di Sofyan Hotel Betawi, pada Rabu lalu. Sambil menyantap sayur sop, ia menjawab satu per satu pertanyaan kami. Berikut petikannya:

Bagaimana politik di mata Anda?

Politik itu bagi saya adalah ranah perkhidmatan. Jadi ruang untuk kita mengabdi dan berdakwah. Bagaimana dakwah dalam politik itu? Pertama, merumuskan kebijakan-kebijakan yang memenuhi kaidah-kaidah kemaslahatan, nilai-nilai universal Islam seperti keadilan, kesetaraan, dan spiritualitas. Islam itu dalam kepemimpinan mengajarkan innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan. Pemimpin itu harus mampu menelurkan kebijakan yang adil dan mampu memfasilitasi kelompok-kelompok yang lemah. Bisa memberikan keberpihakan lebih pada mustadh ‘afin (orang yang dilemahkan). Wayanha anil fahsya iwal munkar (mencegah daripada perbuatan keji dan mungkar). Pemimpin itu tidak boleh memfasilitasi kekejian atau membuat regulasi-regulasi yang semakin tersebarnya kemunkaran.

Kedua, menghadirkan keteladanan yang baik kepada masyarakat.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Ketiga, memfasilitasi inisiatif kebaikan-kebaikan masyarakat. Banyak inisiatif dari masyarakat yang lahir, tumbuh dan berkembang, tapi kalau itu tidak dirajut, dia hanya menjadi inisiatif pribadi atau kelompok.

Tuan Guru Bajang (TGB) M. Zainul Majdi menggandeng tangan Ustad Abdullah Somad (UAS)

Tapi begitu dirajut dalam satu sistem dan alur yang baik, maka kebermanfaatannya pasti akan berlipat ganda. Nah, fungsi pemimpin menjadi fasilitator untuk merajut inisiatif-inisiatif kebaikan itu.

Baca: TGB Maju Pilpres 2019? Ini Jawaban Dia

Jadi politik itu adalah ranah untuk memberikan nilai dakwah. Seluruh Muslim, siapapun dia, harus berdakwah, mengajak pada kebaikan. Dalam ruang apapun. Guru berdakwah dengan profesinya, pedagang berdakwah, politisi juga berdakwah.

Jadi politik itu sebagai alat dakwah ya?

Ya. Politik adalah salah satu instrumen dakwah yang sangat penting. Karena di dalam politik ada perumusan kebijakan. Kita tahu bahwa di dalam negara hukum, kebijakan atau peraturan/ rule of law itu menjadi sesuatu yang sangat penting. Kalau keluar kebijakan yang salah karena pemegang otoritas kebijakan itu tidak mengerti untuk apa dia memimpin, tidak punya visi mengarahkan masyarakat, tidak punya tata nilai yang bisa menjadi pondasi bagaimana dia berpikir dan bertindak, maka kebijakan akan keluar enggak karu-karuan. Mungkin dia hanya memperhitungkan untung jangka pendek. Mungkin juga hanya mempertimbangkan bagaimana mendapatkan sebesar-besarnya PAD (Pendapatan Asli Daerah), walaupun sumbernya tidak jelas. Jadi penting sekali visi yang jelas bagi pemimpin kemana dia hendak berjalan dan nilai apa yang melandasainya dalam memimpin.

Politik masih dianggap kotor dan busuk oleh sebagian orang?

Menurut saya itu warisan dari pandangan yang sengaja ditanamkan oleh para penjajah yang tahu betul kalau umat Islam itu punya visi politik yang baik, punya literasi politik yang kuat, dia melek politik, maka akan merepotkan kekuasaan mereka.

Sebelum kemerdekaan kan kalau membangun masjid, silakan, kalau membangun pasar, diawasi, tapi kalau menghimpun diri dalam satu gerakan politik dihabisi. Kan begitu dari penjajahan dulu. Jadi ada pewarisan itu. Sehingga sebagian dari kita mungkin secara tidak sadar mengadopsi pandangan kolonial itu.

Baca: TGB untuk Indonesia

Namun kita perlu introspeksi juga. Ketika misalnya ada tokoh agama atau tokoh umat masuk ke ranah politik, lalu ternyata dia tidak menghadirkan sesuatu yang baik, justru dia menghadirkan kemudharatan, dan menjadi contoh kepemimpinan yang tidak punya integritas sehingga akhirnya masyarakat melihat dan  mengeneralisir itu. Oh dia kan berlatar belakang dari partai Islam atau dia ustadz, lalu kok dia begini, berarti ustadz tidak boleh masuk politik. Jadi mengeneralisir kasus-kasus yang terjadi. Dan masyarakat tidak bisa disalahkan. Bagaimana menyelesaikan itu? Mari kita bangun integritas dalam berpolitik supaya masyarakat tidak mendapat contoh yang buruk-buruk. Otomatis menurut saya kalau kita membangun politik yang baik, maka kepercayaan masyarakat akan semakin kuat dan tidak lagi ada ungkapan politik kotor. Karena pada akhirnya politik itu wadah. Bersih kotornya tergantung air yang mengisi wadah itu.

Hubungan ulama dan umara (pemerintah) baiknya seperti apa?

Ulama dan umara itu adalah dua kelompok yang sangat penting untuk kemajuan atau kemunduran suatu masyarakat atau bangsa. Kalau kedua kelompok ini baik, maka masyarakat atau bangsa akan baik. Kalau keduanya bersinergi, maka masyarakat atau bangsa bukan hanya baik, tapi melejit, maju luar biasa. Jadi saling mengisi dan dalam posisi masing-masing bisa berperan katakanlah sebagai triger mechanism. Jadi dia bisa memicu.

Misalnya ulama berdiri di mimbar meniupkan semangat bahwa Islam itu membawa pada kemajuan. Sebelum bicara hasanah fil akhirah (kebaikan di akherat), hasanah fiddunya (kebaikan di dunia) dulu. 9 dari 10 pintu rezeki itu ada di bisnis. Maka mari kita bangun enterpreneurship. Pada saat ulama ngomong begitu, pada saat yang sama umara menyiapkan regulasi. Supaya apa yang diomongin ulama itu bisa terwujud.

Tapi kalau ulama bicara tentang keadilan, regulasinya tidak menghadirkan keadilan, masyarakat pusing. Begitu pulang dari masjid, dia berhusnuzhan, tapi begitu lihat suasana yang ril, dia jadi suuzhan lagi. Terjadilah paradok, terjadi keputusasaan masyarakat. Kalau kita ingin masyarakat kondusif, nyaman, bisa mengembangkan diri dengan baik, maka ujaran-ujaran yang dia dengar di rumah ibadah, mimbar-mimbar khutbah, di youtube-youtube tentang pelajaran agama itu bisa dia lihat dalam kebijakan-kebijakan publik yang hadir.

Kalau misalnya dia dengar bahwa rezeki yang halal itu berkah, tidak boleh mencuri dan lain-lain, tapi kemudian ternyata regulasi yang ada tidak sesuai dengan itu, justru hal-hal yang sifatnya destruktif dibiarkan begitu saja, kan jadi tidak nyambung. Jadi tidak baik. Dan itu bisa menimbulkan kelemahan kolektif. Orang jadi malas bicara tentang kemajuan bangsa karena dia lihat antara tataran ideal dengan realitas itu terlalu jauh perbedaannya. Saya pikir antara ulama dan umara bisa menjadi dua komponen utama untuk menjembatani supaya antara realitas dan idealitas itu bisa semakin mendekat.*/Andi R

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amar ma'ruf nahi munkardakwahislam politikkebijakanM. Zainul MajdiNTBNusa Tenggara Baratpolitikpolitik islamrule of lawTGBTuan Guru Bajang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Program Jihad Fatayat NU Cegah Stunting
Tulisan selanjutnya Mata Novel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Berita
13 Juli 2026 17:00
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?