Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

“Karena Tak ada Organisasi Khusus, Semua Bisa Ngaku MCA”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Maret 2018 09:34 9:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Maret 2018 09:32
Bagikan
Ismail Fahmi, PhD
Bagikan

Hidayatullah.com—Setelah aparat keamanan mengumumkan  penangkapan anggota “Sindikat Saracen”, bulan lalu polisi mengumumkan penangkapan anggota “MCA”,  dengan tuduhan “pembuatan dan penyebaran hoax”,  khususnya kasus maraknya ‘orang gila’ yang meneror ulama”.

Banyak pihak menilai, penangkapan ini bagian dari ‘shock therapy’ atau juga usaha melemahkan MCA yang asli.

Baru-baru ini, pakar informatika dan analis media sosial Ismail Fahmi  membuat analisis berjudul “The War On MCA’  Periode: 1 Mei 2016 – 4 Maret 2018. Doktor sains informatika lulusan Universitas Groningen, Belanda yang dikenal dengan  teknologi buatannya “Drone Emprit” –merujuk nama burung lambang Twitter, sebuah peranti lunak ini berfungsi memonitor dan menganalisis percakapan di media online dan media sosial,  mengungkap panjang lebar isu-isu terkait MCA.

Siapakan sesungguhnya MCA itu? Mana yang asli dan mana yang abal-abal? Kapan seungguhnya aksi MCA mulai mulai muncul? Apakah ada indikasi kekuatan MCA bakal melemah setelah gempuran ini? Bagaimana peta pertempuran “War on MCA” di media social?

Anda menulis analisis soal MCA. Apa yang sebenarnya ingin Anda tunjukkan?

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Di closing-nya itu. Tentang polisi. Ini sebetulnya waktu yang tepat untuk memerangi hoax (berita palsu). Tetapi yang tampak di sini justru memerangi Muslim Cyber Army (MCA). Ini malah tidak terlalu efektif untuk memerangi hoax yang sesungguhnya. Jadi akan bangkit lagi karena adanya rasa ketidakadilan. Karena hoax yang di sebelah (yang di pro pemerintah),  enggak diapa-apain ibaratnya. Padahal kalau seandainya kita mau perang terhadap hoax, di sini ada yang ditangkap, di sana juga harus ada yang diproses juga. Kan sudah banyak juga yang dilaporkan kan.

Harusnya  semangat melawan hoax seperti itu. Kalau mau melawan hoax itu kan harus di dua pihak. Harusnya perang itu dilakukan terhadap dua kelompok dan pak polisi berada di tengah-tengah.  Hoax yang ada di mereka (pihak yang pro pemerintah) kan juga banyak, itu juga “diserang”. Kalau perlu ditangkap. Sama-sama. Tapi kan ini enggak dilakukan. Jadi kesannya, ini perang terhadap MCA.

Soal berita ada ‘MCA’ ditangkap, apa pendapat Anda?

Tentang MCA sendiri. Selama ini kan MCA dianggap tak berbentuk. Tapi dalam percakapan ada MCA. Ini akan lebih bagus jika pihak MCA lebih mensolidkan diri,  menjelaskan memang ada  MCA. Faktanya  kan ada MCA yang benar (asli) dan yang tidak benar (palsu).  Selama ini karena MCA tidak berbentuk, dan MCA tidak melakukan apapun ketika ada hoax yang dilakukan oleh orang yang mengaku-ngaku MCA, maka ketika ada hoax yang viral di mana-mana dibiarkan sama sekali. Ini menjadi target polisi. Karena bukan lagi penyebaran informasi, tapi sudah mengganggu. Kalau MCA lebih terkoordinir dengan bagus, maka itu bisa membantu menunjukan mana hoax mana yang tidak kepada publik. Jadi publik akhirnya bisa ngikutin, “oh ketika ada berita masuk di mereka, ngakunya dari MCA, itu bisa dibilang oh ini hoax ternyata.”

Mungkin bisa dijelakan lebih mudah?

Kita harus tahu, yang mengaku MCA bisa siapapun. Bisa jadi lawan. Lawan sebelah bikin berita dan gambar-gambar. Di gambar itu Pak Jokowi kemudian digambarkan babi segala macam yang kira-kira bernada kebencian, orang-orang yang enggak ngerti ini langsung ngambil dan nge-share  karena mereka banyak yang nggak puas sama kinerja pemerintah. Ketidakpuasan itu sudah sampai –kadang-kadang– pada level benci. Jadi sudah nggak mikir-mikir lagi mereka, material yang dibuat oleh lawan ini langsung di-share.

Apa targetnya?

Tujuannya agar umat kita jadi sibuk dengan urusan benci-bencian, artinya enggak membangun diri. Yang rugi kita sendiri. Makanya MCA ini pertanyaannya, mau menjadi aset atau menjadi problem? Kalau saya menawarkan MCA jadi aset. Bisa menjadi aset artinya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. MCA nggak bisa dihilangkan. Nah yang dilakukan polisi itu menganggap MCA ini seperti pabrik hoax. Dan yang pro pemerintah pun juga memberi label MCA sebagai pabrik hoax. Padahal saya kira nggak seluruhnya benar.  Ada yang sebagian yang bikin pabrik hoax, tapi sebagian lain bener. Nah yang benar inilah kemudian kita rapikan,  dan MCA bersihkan diri menjadi aset buat bangsa dan umat. Supaya umat dan bangsa ini lebih maju.

Bagaimana ide Anda soal MCA yang asli dan bisa jadi aset?

Kalau mau mencalonkan, ini kan kekuatan bagus buat program, usulan segala macam yang lebih cerdas. Ketika akan mencalonkan seseorang jadi presiden atau tokoh di Pilkada semua dengan cara yang cerdas. Karena (MCA) ini aset. Jaringannya sudah ada, follower-nya ada, kemampuan sosial medianya sudah bagus. Ini yang harus diarahkan ke sana. Itu yang mau saya fokuskan sebetulnya.

Yang terakhir buat publik. Mereka jadinya bisa hati-hati sekarang. Karena informasi yang mereka terima dan share itu tidak selamanya valid. Bahkan sengaja diciptakan untuk membuat mereka jadi makin benci atau mungkin menjadikan mereka bisa terjerat hukum.

Anda menggunakan ‘Drone Emprit’ dalam menganalisis MCA. Sejauh mana akurasi?

Drone Emprit itu menangkap percakapan yang berdasarkan kata kunci di twitter. Jadi akan masuk semuanya. Untuk MCA, sejak 2013, kita sudah collect (mengumpulkan) data. Berbagai macam isu. Ada isu PKI, Pilkada, Pilpres. Dari situ, kita punya data yang sangat besar. Dan kalau memang ada penyebutan  Muslim Cyber Army (MCA), mesti akan muncul di situ.

Anda tadi menyebut ada lawan yang mengaku-aku jadi MCA, Anda punya datanya?

Ada. Contohnya  ketika ada Facebook page-nya AA Gym. Di situ ada tulisan tentang “Tiga ibadah yang kalau Anda lakukan, diampuni Allah meskipun Anda berzina” misalnya. Kira-kira masuk akan gak, AA Gym bikin kayak gitu?

Orang cinta sama AA GYM, nge-follow itu, langsung nge-share, langsung percaya karena dikira dari AA GYM. Saya enggak yakin itu dari MCA. Karena MCA nggak mungkin memalsukan ustadnya dengan cara seperti itu. Dan hal seperti itu banyak. Saya punya datanya. Akun Facebook page AA GYM yang nggak official ada 170.000 follower. Itu besar sekali. Sindikat ini punya 50 kayak gitu (akun-akun tidak official).

Seperti akun Ustad Yusuf Mansur, Mamah Dedeh, ditipuin semua itu.  Isinya nggak mungkin ditulis ole ustad-ustad atau ustadzah itu. Saya kira inilah lawan-lawan.

Akhirnya identitas MCA menjadi tidak jelas ya?

MCA ini kan gerakan, networking. Banyak yang mengaku MCA di sana. Karena tidak ada organisasi khusus, semua bisa mengaku sebagai MCA. Dan karena sifatnya informasi, semua bisa mungkin nge-share juga. Bisa MCA  atau mungkin piha lawan yang mengaku jadi MCA. Jadi memang nggak jelasnya di situ.

Ini bisa jadi jebakan ya?

Jebakan bisa, ekonomi juga bisa. Contoh, dia buat artikel di blogspot, lalu link blogspotnya dituliskan di status. Orang-orang dari Facebook page-nya nge-link ke artikel itu, kemudian dari artikel yang di blogspot, ada iklan-iklannya.*>>> klik [Bersambung] “MCA Harus Bikin Akun Official”

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:berita palsuDrone EmprithoaxIsmail FahmikeamananMCAmedia socialMuslim Cyber Armyorang gilaperang informatikaSaracenteror ulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jurnalis israel Dinilai Banyak Media Melihat Suriah saat Ada Peristiwa saja
Tulisan selanjutnya Anggota DPR: Masa Pekerja Kasar saja Harus Impor

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?