Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Kisah Yahudi yang Masuk Islam karena Gamelan

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 11 Januari 2024 18:55 6:55 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 11 Januari 2024 18:55
Bagikan
Yahudi Masuk Islam Mualaf karena Gamelan
Bagikan

Hidayatullah.com – Aron, bukan nama asli, merupakan seorang bekas penganut Yahudi dari New York yang masuk Islam dan menjadi mualaf setelah mengikuti pertukaran pelajan ke Indonesia.

Daftar isi
  • Musik Membawanya ke Indonesia
  • Tak Mengaku Sebagai Yahudi
  • Awalnya Tidak Tertarik dengan Islam
  • Gamelan dan Islam
  • Membaca tentang Islam
  • Mengikuti Kata Hati
  • Respon Keluarga
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Dia mengisahkan pengalaman hidupnya hingga akhirnya memilih kembali masuk Islam kepada About Islam.

Aaron dibesarkan dalam keluarga Yahudi yang berasal dari Eropa Timur, tepatnya di Polandia. Mereka meninggalkan rumah dan bermigrasi ke Amerika Serikat usai Kekaisaran Rusia yang antisemit menguasai beberapa wilayah Polandia setelah tahun 1795.

Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka tiba dan menetap di New York. Keluarga Aaron tidak pernah menjadi penganut Yahudi ortodoks. Namun demikian, Yudaisme memainkan peran penting dalam kehidupan kami dan merupakan penanda penting identitas kami.

Mereka mengikuti ritual dan perayaan tradisional sambil terlibat dengan masyarakat di sekitar.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Musik Membawanya ke Indonesia

Sejak masih kecil Aaron sangat menyukai musik terutama alat musik tradisional dari berbagai penjuru dunia.

“Saat saya remaja, saya sangat menyukai musik eksperimental. Dan saya sangat tertarik dengan musik tradisional dan alat musik dari berbagai belahan dunia,” ujar Aaron.

Sampai suatu hari, seorang teman memberitahu Aaron tentang Indonesia dan menyarankannya untuk belajar etnomusikologi di sana. Ia pun lantas bertekad untuk pergi ke Indonesia dan mendaftar di Institut Seni yang menawarkan jurusan tersebut.

Tak Mengaku Sebagai Yahudi

Aaron mengakui bahwa setibanya di Indonesia dan mendaftar di Institut Seni Indonesia, dia tidak memberi tahu siapapun bahwa ia merupakan penganut Yahudi. Dia bahkan mengaku sebagai penganut agama lain.

“Di Indonesia, Anda biasanya harus menyebutkan agama Anda. Saya hanya menyatakan bahwa saya beragama Buddha. Itu adalah pilihan yang paling mudah saat itu,” Aaron berseloroh.

Hal tersebut dilakukannya karena takut orang-orang akan memusuhinya.

“Saya khawatir orang-orang akan menunjukkan permusuhan terhadap saya karena saya seorang Yahudi. Dan karena saya tidak banyak mempraktekkan agama saya sebelumnya, saya tidak keberatan untuk menyatakan bahwa saya beragama Buddha,” kata Aaron.

Saat itu, sekitar tahun 2000an, adalah hal yang keren untuk mengaku sebagai seorang Buddhis atau penganut Buddha, jelas Aaron.

“Orang Indonesia memandang kami “Buddhis Barat yang baru” sebagai sesuatu yang eksotis dan tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman,” katanya.

Baca juga: Kisah Mualaf: Islam Menjadikan Saya ‘Yahudi’ yang Lebih Baik

Awalnya Tidak Tertarik dengan Islam

Aaron tinggal selama lebih dari dua tahun di Indonesia. Selama itu dia bergabung dengan banyak proyek musik. Dirinya mengaku berupaya untuk menghindari diskusi-diskusi keagamaan sebaik mungkin dan lebih berkonsentrasi pada musik. Itu pula yang menyebabkannya jauh dari agama.

“Saya jauh dari keluarga saya. Jauh dari komunitas Yahudi saya yang biasanya mendukung saya untuk bergabung dalam perayaan-perayaan tradisional kami,” kenang Aaron.

Ia mengaku baginya Islam tampak seperti agama setempat dan merasa tidak cocok dengan agama itu. Menurutnya umat Islam yang taat hanya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berdoa daripada melakukan hal-hal yang benar-benar penting.

Gamelan dan Islam

Kemudian, suatu hari Aaron bergabung dengan sebuah pertunjukan Gamelan tradisional. Gamelan adalah alat musik perkusi tradisional Jawa yang terbuat dari logam.

Di sebelahnya duduk seorang pria tua yang mulai mengajaknya bicara. Saat itu Aaron sudah cukup mampu berbahasa Indonesia dengan baik.

Pria itu menjelaskan kepada Aaron tentang hubungan antara Gamelan dan Islam. Dia bercerita tentang ansambel Gamelan kerajaan kuno yang memiliki satu-satunya tujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad (SAW), Maulid.

Gamelan Sekaten lebih besar dari gamelan lainnya dan hanya digunakan setahun sekali. Pria tua itu melanjutkan bahwa permainan gamelan ini seharusnya mewakili pujian yang terus menerus untuk Nabi Muhammad (saw).

Cerita ini membuat Aaron terkesan karena dia tidak pernah berpikir tentang aspek spiritual dari musik. Penjelasannya memberikan dampak yang mendalam bagi Aaron.

Membaca tentang Islam

Aron pun terus menyusun musik eksperimental. Dan rekaman gamelan ia miliki menjadi bagian penting dari hal tersebut. Sejak itu Aaron mulai membaca lebih banyak tentang aspek spiritual Islam dan terutama apa yang disebut sebagai mistisisme Islam di Indonesia.

Dan sejujurnya, hal itu menyentuh saya. Hal itu mempengaruhi saya. Aaron mengerti bahwa Islam adalah agama yang hidup dan penuh dengan spiritualitas yang diinginkan dalam hidupnya.

Dia tak lagi melihat Islam sebagai agama yang kering dan ketat yang hanya berfokus pada aspek luar dan aturan.

Setelah membaca tentang Islam di Indonesia, Aaron mengetahui bahwa persepsinya tentang Islam jauh dari kenyataan. Dan semakin banyak dia membaca, semakin tertarik pula Islam baginya.

Tak hanya Islam di Indonesia, namun Islam di tempat-tempat lain di berbagai belahan dunia. Aaron terpesona dengan kekayaan Islam.

Mengikuti Kata Hati

Aaron tertarik untuk memeluk Islam dan menjadi seorang Muslim. Tetapi dia khawatir akan respon keluarganya. Apa yang akan mereka katakan? Seorang Yahudi menjadi Muslim? Aaron tidak ingin mengecewakan mereka.

Meski begitu, Allah SWT akhirnya menguatkan hati Aaron.

Dia pun mengucapkan syahadat dan masuk Islam di sebuah pusat komunitas Muslim kecil di New York City. Dia mulai sholat dan bergabung dengan halaqoh dzikir rutin di sana.

“Irama dzikir kepada Allah sungguh luar biasa. Itu seperti musik rohani yang menenangkan hati dan menenangkan pikiran,” aku Aaron.

Respon Keluarga

Aaron mengaku tak berani memberi tahu keluarganya kabar bahwa dirinya telah masuk Islam untuk waktu yang sangat lama.

“Karena saya tidak tinggal bersama mereka lagi, cukup mudah untuk menyembunyikannya. Namun, akhirnya mereka curiga terhadap saya. Saya mencoba untuk menyiasati perayaan keagamaan dan pertemuan rutin komunitas Yahudi kami,” ungkap Aaron.

Ketika saya memberi tahu mereka, mereka hanya diam selama beberapa saat. Kemudian ibu saya bertanya apakah saya bahagia. Dan saya menjawab:

“Ya!”

Tetapi ayah saya mengajukan sebuah permintaan: “Bisakah kamu menunggu untuk mengumumkannya ke publik? Maksudku, saat ini orang-orang memiliki opini yang buruk tentang Muslim. Dan ayah tidak ingin teman-teman kita berpikir negatif tentang kamu atau kita.”

Saya menuruti permintaan ayah saya. Dan sampai sekarang saya masih melakukannya. Kami hanya tidak berbicara tentang agama. Saya hanya sesekali bergabung dengan pertemuan komunitas Yahudi. Selebihnya, saya tetap menjaga kerahasiaan. Hal ini telah bekerja dengan baik bagi kami semua. Saya masih bisa bertemu dan mengunjungi keluarga saya. Alhamdulilah.*

Baca juga: Juara Tinju Dunia Gervonta Davis Masuk Islam

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:GamelanHeadlinekisah mualafmasuk islamMualaf YahudimusikPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Akankah International Court of Justice Tetapkan ‘Israel’ Bersalah Lakukan Genosida Gaza?
Tulisan selanjutnya Eurovision 1500 Musisi Finlandia Ancam Boikot Eurovision Jika Tak Larang ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?