Hidayatullah.com – Atas jasanya mempromosikan Islam di seluruh dunia ia terpilih sebagai Tokoh Islam dalam ajang Dubai Internasional Award ke-16. Siapa sangka tokoh Islam di Amerika Serikat ini dulu bukan saja seorang missionaris tetapi juga sangat membenci Islam. Bagaimana bisa terjadi?
Yusuf Estes lahir dari keluarga Kristen yang taat di Midwest, Amerika Serikat (AS). Keluarganya secara turun-temurun membangun gereja dan sekolah di Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan dasar di Houston, Texas. Semasa kecil, ia selalu menghadiri gereja secara teratur. Ia dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, Texas.
Keingintahuannya yang besar terkait ajaran Kristen membuatnya ingin mengunjungi gereja-gereja lain. Maka ia datangi gereja Metodis, Episkopal, Nazareth, Agape, Presbyterian dan lainnya.
Tak hanya rajin ke gereja, Yusuf juga kerap membagikan pesan-pesan indah agama Kristen. Ia begitu bangga dengan agama yang dianutnya hingga berpikir untuk membuat banyak orang bisa turut mendapatkan pesan damai dari kitab suci yang selalu dibawanya.
“Setiap pergi saya selalu membawa Injil dan salib,” ujarnya dalam kanal Youtube Hijrahfest Official.
Selain aktif menjalankan misi Kristen, Yusuf juga tertarik mempelajari agama lain seperti Hindu, Yahudi, dan Buddha. Namun, Yusuf mengaku tak begitu tertarik pada Islam. Entah mengapa.
Selain ketertarikan mempelajari agama, Yusuf juga memiliki minat terhadap musik. Ia bahkan menjadi pengajar Keyboard dan kemudian memiliki studio sendiri di Laurel, Maryland. Ia juga membuka toko piano dan organ di Texas, Oklahoma dan Florida. Dari bisnis itu, Yusuf meraup pendapatan hingga jutaan dolar Amerika. Tapi ada satu hal yang mengganjal.
Pikirannya tidak merasa tenang. Ia sering bertanya, “Mengapa Tuhan menciptakan manusia? Apa yang Tuhan inginkan?” Ia tak pernah menemukan jawaban pertanyaan tersebsut. Sebab agamanya selalu mengajarkan, siapa pun harus percaya tanpa perlu bertanya.
Tahun 1991, bisnis Yusuf mulai merambah keluar negeri. Negara pertama yang ia kunjungi adalah Mesir. Di sana ia bakal bertemu dengan seorang pria Muslim yang akan jadi rekan bisnisnya. Satu hal yang ada di pikiran Yusuf tentang Muslim, teroris!! Yusuf tidak percaya ia harus berhubungan dengan sosok yang begitu ia benci.
Di mata Yusuf, Muslim tidak percaya kepada Tuhan. Mereka adalah penyembah kotak hitam di padang pasir. Mereka mencium tanah lima kali sehari. “Sial, saya tidak ingin bertemu dengan mereka,” kata Yusuf.
Sikap Yusuf akhirnya luluh, ketika ayahnya menjelaskan bahwa sosok yang bakal ditemui memiliki kepribadian yang baik. Tapi alasan yang paling diterima Yusuf adalah rencana ayahnya untuk mengkristenkan setiap Muslim. “Itulah alasan kuat yang akhirnya membuat saya mau bertemu dengan pria Muslim itu,” ucapnya.
Akhirnya, Yusuf dan ayahnya bertemu dengan pria Muslim itu setelah kebaktian di gereja. Detik-detik bertemu dengan calon mitranya itu, Yusuf terkejut. Apa yang terjadi? Selengkapnya ada di video bawah ini




