Lonjakan penahanan wanita Muslim Tatar Krimea, termasuk ibu lima anak, atas tuduhan ‘terorisme’ yang didasari bukti lemah, memicu keprihatinan mendalam dan doa massal dari komunitas yang tertindas
Hidayatullah.com | SUASANA dan keprihatinan mendalam menyelimuti kota Dzhankoy, Krimea, pada Kamis (23/10/2025) ketika puluhan wanita setempat, termasuk para istri tahanan politik, menggelar acara istighosah (doa kolektif memohon pertolongan dan ampunan) secara massal.
Kegiatan ini bertujuan memberikan dukungan moral dan spiritual kepada empat wanita Muslim Tatar Krimea yang baru-baru ini ditahan oleh pasukan keamanan Rusia atas tuduhan ‘terorisme’ palsu.
Keempat wanita yang ditahan dalam operasi penggerebekan massal pada 15 Oktober 2025 tersebut adalah Esma Nimetullayeva (40), Elviza Aliyeva (20), Fevziye Osmanova (21), dan Nasiba Saidova (19).
Penahanan ini menjadi titik balik represif di Krimea yang diduduki Rusia. Berdasarkan laporan dari organisasi hak asasi manusia CrimeaSOS, ini adalah kasus pertama yang diketahui di mana pihak berwenang Rusia mengaitkan mereka dengan tuduhan keterlibatan dalam organisasi, Hizbut-Tahrir.
Istighosah yang digelar di Dzhankoy dipimpin oleh para istri, ibu, dan kerabat para tahanan politik Tatar Krimea yang telah lama ditahan.

Liniza, istri dari tahanan politik Abibulla Smedlyayev, menyampaikan bahwa penahanan ini adalah kelanjutan dari penindasan sistematis terhadap masyarakat mereka.
“Baru-baru ini mereka mengambil suami, ayah, dan putra kami. Hari ini — para wanita muda kami. Kami berkumpul dan berdoa memohon kesabaran dan kebebasan untuk semua orang yang kami cintai,” ujar Liniza, menggambarkan kekhawatiran yang mendalam di tengah komunitas mereka.
Penahanan ini semakin memperkuat kekhawatiran yang disampaikan oleh kelompok HAM internasional. The Society for Threatened Peoples (STP), melalui laporan mereka (16/10/2025), menyatakan keprihatinan mendalam atas penangkapan yang bermotif politik ini.
Ancaman terhadap Keluarga dan Pemuda Krimea
Di antara para wanita yang ditahan, Esma Nimetullayeva menarik perhatian khusus. Menurut laporan dari platform aktivis akar rumput Crimean Solidarity dan dikonfirmasi oleh ZMINA Human Rights Centre, Esma adalah seorang pembuat manisan, berusia 40 tahun, dan merupakan ibu dari lima anak di bawah umur.
Suaminya, Remzi Nimetullayev, telah ditahan sejak Agustus 2023 atas tuduhan serupa. Penahanan Esma, yang membiarkan lima anaknya kehilangan kedua orang tua, dianggap sebagai tindakan kejam.
CrimeaSOS menyoroti bahwa pengadilan pendudukan mengabaikan fakta bahwa banyak dari tahanan perempuan ini memiliki anak kecil atau orang tua lanjut usia yang bergantung pada mereka.
Tiga wanita lainnya adalah Nasiba Saidova, putri seorang Imam terkenal, adalah mahasiswa tingkat akhir yang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak.
Elviza Aliyeva adalah mahasiswa jurusan Manajemen dan bekerja sebagai kasir toko roti dan Fevziye Osmanova bekerja di sebuah toko di dekat Sevastopol.
Hampir semua wanita yang ditahan, kecuali Esma, berusia di bawah 22 tahun.
Propaganda Kremlin
Sebelumnya, dalam operasinya, Layanan Keamanan Federal Federasi Rusia (Federalnaya Sluzhba Bezopasnosti Rossiyskoy Federatsii atau FSB) mendakwa setidaknya satu orang sebagai ‘organisator’ di bawah Pasal 205.5 § 1, sementara yang lain didakwa ‘terlibat’ dalam kelompok fiktif tersebut (Pasal 205.5 § 2), yang dapat berujung pada hukuman belasan hingga puluhan tahun penjara.
Esma Nimetullayeva menghadapi dakwaan yang lebih serius sebagai ‘organisator’.
Sementara itu, propaganda Rusia memutarbalikkan fakta dengan narasi yang berbeda. “Sel wanita dari organisasi teroris telah diungkap di Krimea,” demikian bunyi tajuk utama kantor berita milik negara Rusia, TASS.
Narasi Moskow secara berulang menggunakan kata ‘teroris’, meskipun kegiatan yang disebutkan—seperti pertemuan dan diskusi keagamaan—sepenuhnya legal.
Realitasnya, dakwaan-dakwaan ini didasarkan pada ‘literatur terlarang’ yang ditanam, ‘penilaian ahli’ palsu, dan ‘kesaksian’ dari saksi rahasia yang keterangannya seringkali diragukan.
Seperti dalam kasus Nasiba Saidova, suaminya menolak menandatangani protokol penggeledahan karena buku-buku yang disebut ‘ditemukan’ diklaim berada di nakas tempat menyimpan pakaian dalam.
Ia mencatat bahwa seorang Muslim yang taat tidak mungkin menyimpan literatur keagamaan di tempat seperti itu, menunjukkan penghinaan FSB terhadap kredibilitas.
Pengacara terkemuka Emil Kurbedinov mewakili Esma Nimetullayeva. Diprediksi, para wanita ini akan ditempatkan dalam penahanan pra-sidang selama sidang ‘formal’ di Pengadilan Distrik Kievsky yang dikuasai Rusia.
Dengan sejarah pengadilan militer di Rostov yang mengabaikan keberatan pembelaan, hukuman berat untuk “terorisme” tanpa adanya kejahatan nyata tampaknya tak terhindarkan.
Refat Chubarov, Ketua Mejlis Rakyat Tatar Krimea, sebagaimana dikutip oleh ZMINA Human Rights Centre, mengutuk keras operasi penangkapan tersebut dan menyoroti peningkatan drastis represi Rusia terhadap warga Tatar Krimea sejak aneksasi ilegal pada tahun 2014.
Pengadilan di Krimea telah memutuskan keempat wanita tersebut ditahan di SIZO (pusat penahanan) selama dua bulan sambil menunggu proses hukum.*




