Hidayatullah.com – Banyak orang menganggap Hollywood dan dunia hiburan sebagai antitesis Islam. Pusat industri film dan televisi Amerika Serikat itu menampilkan segala perbuatan yang haram, perzinahan, alkohol, kekerasan, dan syirik.
“Di industri itu… Anda bisa menganut agama apa pun yang Anda inginkan. Anda bisa percaya apa pun yang Anda inginkan,” kata Amin Davis, seorang aktor mualaf asal Kanada.
“Tetapi pada akhirnya, jika Anda ingin bekerja di bisnis ini, akting Anda adalah yang utama dan keyakinan Anda adalah yang kedua,” imbuhnya.
Bagi Davis, agama tidak pernah menjadi perhatian orang tuanya sejak ia kecil. Sebaliknya, orang tuanya terlibat dalam seni. Mereka menjalankan program teater musikal untuk anak-anak, sesuatu yang Davis sendiri sukai sejak usia dini.
Ia bekerja bersama nama-nama seperti Taraji P. Henson saat masih kecil dan kemudian mengisi suara karakter dalam acara anak-anak populer seperti Paw Patrol dan Max & Ruby, serta berakting di Rookie Blue dan Heartland, di antara banyak acara tv lainnya.
Davis sendiri tidak memiliki keyakinan agama. Bahkan, ia hampir memandang rendah mereka yang memiliki keyakinan agama.
“Saya selalu percaya bahwa setiap orang [yang memiliki keyakinan agama] menerima kenyataan bahwa keyakinan mereka keliru…pada dasarnya mencoba menemukan makna dalam dunia yang tidak bermakna,” kata Davis.
Davis, yang sekarang beragama Islam, mengakui bahwa pemikirannya sendiri itu “konyol.” Sebelum memeluk Islam, Davis merasa bahwa jika ada agama sejati yang diturunkan Tuhan kepada umat manusia, maka semua orang akan berada di jalan itu karena tanda-tandanya akan terlalu jelas.
“Karena saya melihat seluruh dunia mengikuti hal-hal yang berbeda…saya membuat kesimpulan alami dalam pikiran saya bahwa pasti tidak ada agama yang benar,” katanya.
Hidayah yang tak terduga
Pemikiran dan hati Davis berubah pada usia 18 ketika seorang teman Yahudi bertanya kepadanya tentang Tuhan. Interaksi tersebut memicu rasa ingin tahu dalam dirinya, yang kemudian membuatnya melakukan penelitian terhadap berbagai agama.
Ia mempelajari Hindu, Buddha, Kristen, Yahudi, dan Islam. Davis terkejut menemukan bahwa Islam merupakan kelanjutan dari agama-agama Ibrahimik lain dan bukan sesuatu yang asing dan bertentangan dengan segala sesuatu yang sudah dikenalnya.
Fakta bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan terakhir yang membawa firman Allah yang terpelihara dalam Al-Quran ke dunia sangat masuk akal baginya.
Logika Islam
Lebih dari sekadar kepercayaan, Davis tertarik pada logika dalam Islam. Ia meneliti setiap argumen dan kontra-argumen. Kadang-kadang, ia bahkan khawatir jika ia jatuh ke dalam delusi yang sama yang sering ia kritik terhadap orang lain. Tetapi keajaiban ilmiah dalam Al-Quran, di antara hal-hal lainnya, sangat tak terbantahkan.
“Saya sebenarnya tidak percaya bahwa orang-orang dapat dihadapkan pada kemungkinan adanya tujuan itu, atau keberadaan Tuhan, atau agama yang benar—saya tidak berpikir orang-orang dapat dihadapkan pada kemungkinan itu lalu menolaknya,” katanya.
Namun, Davis segera menyaksikan kemungkinan itu. Ia akan membagikan temuannya kepada orang-orang di sekitarnya. Awalnya mereka tertarik, tetapi penelitian agama bukanlah topik yang ingin dibicarakan orang.
“Hal yang sama berlaku untuk politik,” kata Davis. “Banyak orang lebih memilih kebohongan yang menenangkan daripada kebenaran yang pahit.”
Namun, Davis memiliki kepribadian yang berbeda. Ia tidak melihat gunanya membahas hal-hal yang biasa-biasa saja.
“Jika Anda tidak membicarakan [agama], pada dasarnya Anda hanya melakukan percakapan yang tidak berarti sepanjang waktu,” katanya. “Tidak masuk akal untuk menghindari topik semacam ini. Ini adalah topik terpenting di dunia. Ini mengalahkan segalanya.”
Pergeseran Karir
Setelah memeluk Islam, Davis awalnya hanya membagikan kabar tersebut dengan lingkaran terdekatnya. Ia memberi tahu agennya tentang apa yang bersedia dan tidak bersedia ia lakukan di tempat kerja. Ia akan mencari tempat pribadi untuk shalat, dan sebagian besar orang di lokasi syuting tidak menyadari bahwa Davis telah menjadi mualaf.
“Saya menyadari bahwa [ketakutan untuk berbagi tentang Islam saya] berasal dari gagasan saya sebelumnya tentang orang-orang religius. Saya pikir orang-orang religius secara intelektual lebih rendah dan delusi,” kata Davis. “Saya tidak ingin memberi tahu bahwa saya seorang Muslim… atau orang yang religius karena saya merasa jika saya memberi tahu mereka, orang-orang akan berpikir seperti itu tentang saya.”
Ketika Davis secara terbuka menyatakan keislamannya pada tahun berikutnya, respon yang ia terima membuatnya terkejut sekaligus senang. Sebagian besar orang menghormatinya.
Setelah bertemu dengan beberapa tokoh publik Muslim terkemuka, Davis memasuki dunia hiburan Islami. Ia masih seorang seniman—tetapi alih-alih tampil dalam musikal dan di lokasi syuting Hollywood, ia memproduksi proyek yang benar-benar bermanfaat. Ia mengajar orang-orang di seluruh dunia melalui pertunjukan panggung tentang sejarah Islam, dan ia menggubah lagu-lagu Islami, atau nasyid, tentang Tuhan yang berfungsi untuk mengingatkan pendengar akan iman:
“Tujuan akhir saya bukanlah hiburan,” kata Davis. “Dampak yang ingin saya berikan adalah mengembalikan kepercayaan diri dalam diri individu Muslim, agar mereka merasa bahwa agama mereka bukanlah sesuatu yang rendah yang harus mereka malu.”
Perubahan pola pikir dan karier Davis menjadi bukti bahwa setiap orang memiliki potensi inspiratif dalam diri mereka. Dari meremehkan orang-orang beragama hingga meneliti agama secara menyeluruh hingga akhirnya memeluk Islam dan kemudian melepaskan diri dari industri hiburan mainstream, Amin Davis telah menemukan tujuan hidupnya.*




