Pertanyaan laki-laki di seberang telphon genggam itu spontanitas membawa pikiranku terbang dan terbayang akan satu daerah , di mana mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani biasa.
“Dari sekian banyak daerah pelosok yang telah dijelajahi untuk berdakwah, daerah mana yang paling berkesan menurut Anda?”, tanya kepadaku.
Tanpa harus berpikir panjang, pertanyaan itu langsung saja kujawab, “Bangka Belitung,” ucapku memberi jawaban.
Ya, daerah yang kini dikenal dengan kisah ‘Laskar Prlangi’ itu memang sangat berkesan bagiku di banding tempat-tempat dakwah lainnya.
Betapa tidak, di sini dalam menjalankan dakwah, saya sekeluarga pernah merasakan tidak pernah menikmati yang namanya nasi sepanjang tiga bulanan.
Dan itu terjadi karena memang saat itu, nyaris tidak memiliki pemasukan sama sekali. Dakwah yang kujalani sama sekali tidak menarik pundi-pundi sepeserpun. Kalaupun ada jamaah yang memberi, itu berupa sayur-sayuran hasil panen. Tidak ada beras. Apa lagi uang.
Sebagai ganti dari nasi, singkong menjadi makanan utama kami sekeluarga. Itulah menu utama yang dijadikan pengganjal perut dari hari ke hari.
Tak ayal, karena kondisi demikian, bayi kami terserang gizi buruk. Badannya tumbuh tidak normal. Berat badannya pun demikian; jauh dari berat badan bayi seusianya: Sembilan bulan.
Tidak hanya si kecil, mungkin karena kelewat lelah ke sana ke mari untuk menyapa jamaah, ditambah lagi kurangnya asupan gizi yang dikonsumsi badan, akhirnya tubuhku pun terserang penyakit malaria jenis tropika.
Suhu badan tinggi. Dalam menghadapi kondisi ini, saya hanya meyakini bahwa; pertolongan Allah bagi setiap hamba-Nya itu sangatlah dekat.
Dan itulah yang Dia firmankan dalam Al-Qur’an. Dan janji Allah ini pula yang menjadi penguatku untuk terus beristikomah di jalan dakwah ini, meski harus menghadapi berbagai cobaan.
Hak Anjing
Suatu siang, ketika pulang dari dakwah, saya dikagetkan dengan setumpuk nasi dan lauk ikan segar yang tersaji di atas meja makan.
Terang saya kaget. Meski tetarik untuk menikmatinya, tapi saya urungkan untuk melahap. Tidak lain, khawatir itu sudah ada pemiliknya. Maka untuk memastikan status kepemilikkan nasi itu, saya pun langsung mananyakannya kepada istri.
Jawaban istri itulah yang seketika meluluhlantakkan hasrat menikmati hidangan itu yang sebelumnya membuncah.
“Itu makanan titipan tuan rumah ini, mas, untuk anjingnya. Tadi ke sini mau memberi makan, tapi anjingnya lagi keluar,” ucap istriku waktu itu.
Ketika saya membuka pelastik yang dibawa, selepas kepergian si pemilik, sambung istriku, saya dapati nasi dan ikan segar. Karena itu, langsung saya goreng dan saya hidangkan di meja.
Sekedar sebagai penyambung cerita. Perlu diketahui bahwa rumah yang kami tempati sekeluarga di Belitung, adalah tumpangan yang diberikan oleh seorang masyarakat.
Sudah lama mereka tinggal di sana. Bertepatan mereka memiliki dua ekor anjing. Dan ketika mereka pindah rumah, si anjing tidak mau ikut majikannya. Maka tinggallah anjing itu bersama kami. Namun untuk urusan makan, si majikan sesekali menyuplainya, seperti kejadian hari itu.
Jadi setelah mendengar asal muasal makanan di meja makan itu, maka langsung saya minta istri untuk bersegera memberikan makanan itu kepada yang berhak; si anjing peliharaan.
“Kalau begitu, ya sudah berikan saja ke anjing. Itu hak anjing bukan hak kita,” ucapku.
Akhirnya diangkutlah makaanan itu dari meja makan untuk diberikan kepada anjing.
Peristiwa itu terjadi setelah sholat Dhuhur.
Pertolongan Allah
Sungguh cepat pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Hari itu, bertepatan di kampung tempat kami tinggal, tengah ada acara.
Yang tidak kami sangka sama sekali, setelah sholat Ashar, terdengar suara dari luar rumah. Setelah dibuka, ternyata ada seorang tetangga. Di tangannya ada sebuah rantang penuh dengan makanan dari atas sampai bawah.
Ternyata isi rantang itu semuanya diberikan kepada kami sekeluarga. Al-hamdulillah. Ini adalah karunia Allah.
Belumlah lekas kebahagiaan, kembali terdengar suara di depan rumah. Ternyata ada tetangga lain yang menghadiahkan makanan dengan jumlah yang hampir sama.
Setelah itu, silih berganti tamu datang ‘menghujani’ kami sekeluarga dengan rantang makanan. Seingat saya, mulai bakda Ashar hingga menjelang Maghrib, tamu terus berkunjung menghadiahkan rantang berisi makanan penuh.
Kalau saya tidak salah ingat, nyaris 30 rantang berisi makanan kami terima petang itu. Laa haulaa wa laa quwata illa billah.
Makanan-makanan itulah yang akhirnya menjadi santapan kami setiap harinya. Proses penghangatan selalu dilakukan supaya makanan, lauk dan sayur agar tidak lekas basi.
Inilah sedikit kisah spiritual yang pernah saya alami, ketika mengemban amanah berdakwah di Bangka Belitung.*/Khairul Hibri, sebagaimana yang diceritakan oleh ustadz Nur Yahya Asa, dai Hidayatullah Bulungan