Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Pengalaman Merantau ke Rantau

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Januari 2012 04:07 4:07 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Januari 2012 04:07
Bagikan
Bagikan

HARI Ahad (15/01/2012), cuaca cukup bersahabat, tidak ada panas tidak pula turun hujan. Sepertinya, mentari enggan menampakkan keelokannya. Awan tebal menyelimuti bumi Rantau*.

Setelah menempuh tiga jam perjalanan dari Banjarmasin dengan naik taksi (angkutan umum), pada pukul 12.00 waktu setempat, saya tiba di masjid Nurul Falah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Dulang. Tak lama, seorang sahabat saya di pesantren, Musthafa bin Husain As Seggaf, datang menjemput dengan kendaraan roda dua miliknya yang baru ia beli.

Sepanjang perjalanan menuju tempat menginap, kami saling bertanya kabar masing-masing. Tentang istri, ank dan keluarganya.

Saya menginap beberapa malam. Musthafa bercerita tentang dunia dakwah di Rantau. Menurutnya, masyarakat di sini cukup akrab dengan kegiatan kerohanian dan aktif dalam menghadiri majelis ilmu.

“Alhamdulillah, di sini sikap saling mendukung antara kalangan ulama dan umara berjalan dengan baik,” ujarnya.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Kegiatan dakwah yang berjalan banyak mendapat dukungan dari aparatur pemerintah dan pengusaha sukses. Sudah menjadi rahasia umum, para tuan guru di Rantau khususnya sangat dihormati dan disegani oleh para pejabat dan pengusaha. Dukungan ini bisa berwujud moril maupun dana.

“’Perkawinan’ antara ulama dan umara menciptakan kondisi kehidupan dalam masyarakat yang bersendikan nilai-nilai keislaman,” ujar Musthafa.

Para pengusaha misalnya, tidak segan menggelontorkan dana untuk kegiatan Islami, majelis dakwah, pembangunan mushalla, masjid, sampai pesantren.

Di tempat ini, di Rantau, para Tuan Guru yang mengajar adalah jebolan pesantren salafiyah, seperti pesantren Darus Salam, Martapura. Mereka membuka lapangan pengajian di tengah-tengah masyarakat dengan ilmu yang telah mereka peroleh di pesantren.

Kondisi Rantau sendiri relatif masih sangat sepi. Penduduknya terbilang sedikit. Menurut Musthafa yang berasal dari Gresik, Jawa Timur dan kini merantau di Rantau ini, mayoritas penduduk Rantau tidak terpusat di tengah kota, tapi di pelosok. Banyak dari masyarakat yang lebih memilih tinggal di perkampungan.

Sekilas, Rantau tampak sunyi senyap, apalagi saya datang di hari libur. Ketika saya masuk ke pedalaman, barulah saya menyaksikan pemukiman penduduk yang cukup padat.

Rumah-rumah penduduk kebanyakan terbuat dari kayu yang disusun sedemikian rupa sampai membentuk tempat tinggal. Masyarakat Rantau mayoritas berprofesi sebagai pekerja di batu bara, perusahaan karet, atau petani yang bercocok tanam sayur-sayuran, padi, buah-buahan, dan sebagainya.

Tentang dunia majelis ta`lim, sama seperti majelis di tempat umum. Di tempat ini, ta’lim biasa diadakan secara rutin pada tiap hari, tiap pekan, atau bulanan.

Salah satunya, majelis yang diasuh oleh Guru Ahmad Barmawi. Ahmad Barmawi dan keluarganya merupakan keluarga terpandang yang sudah dikenal luas oleh masyarakat sekitar sebagai keluarga yang malang melintang dalam dunia dakwah.

Guru Barmawi memiliki majelis harian, mingguan, dan bulanan. Ada yang khusus laki-laki, perempuan, dan ada pula untuk laki-laki maupun perempuan. Setidaknya, ada 3-4 majelis pengajian yang diasuh di setiap pekannya. Jumlah yang hadir berkisar antara 1000 hingga 2000 orang.

Para jamaah yang datang pun tidak hanya dari Rantau, banyak juga yang datang dari luar Rantau seperti, Barabai dan Kandangan. Para jamaah yang datang ada yang mengendarai sepeda motor masing-masing, ada pula datang dengan menyewa satu mobil pick up berisi rombongan pengajian yang terdiri dari suami, istri, anak-anak, sampai cucu-cucu sekalipun. Mereka rela merogoh kocek lebih dalam demi menimba ilmu yang akan membawa kebahagiaan bagi mereka di dunia sampai akhirat. Selain mengasuh pengajian, Ahmad Barmawi membangun pesantren yang ia beri nama Darul Mustafa, dengan bangunan khas masjid-masjid di Hadramaut, Yaman.

Selain Darul Musthafa, pesantren lainnya yang telah menancapkan jasa besarnya dalam mencerahkan kalbu umat adalah pesantren Subulus Salaam. Pesantren ini, didirikan pada tahun 1985 oleh Guru Muhammad Aini. Walau masih berumur jagung tapi manfaat yang dihasilkan olehnya telah dapat dirasakan secara langsung.

Yang menggembirakan pula, di tiap Langgar/Mushalla yang ada di tiap kampung selalu ada pengajian. Kitab yang biasa diajarkan ke masyarakat adalah buku-buku tasawuf seperti “Siyarus Salikin” karya Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu sekaligus ditulis dengan huruf Arab pego.

Tidak sedikit, para Tuan Guru yang mengajar ini membawakan buku karya Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad seperti “Risalatul Mu`awanah”, “Sabiilul Iddikar”, dan kitab-kitab Imam Abdullah lainnya. Sedangkan, dalam bidang akidah kitab yang dibaca karya Habib Utsman bin Yahya. Bahkan, salah satu distributor majalah kita ini, Muhammad bin Husain As Seggaf, juga mengasuh sebuah pengajian yang diisi dengan pembacaan kitab “Nailur Raja`”, sebuah kitab yang membahas fiqih. Pengajiannya dihelat tiap Kamis malam Jum`at selepas shalat magrib.

Pada umumnya, pengajian yang digelar diawali dengan pembacaan maulid ‘Simtud Durar’ karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Setelah rampung membaca maulid, Tuan Guru menyampaikan ilmu dari kitab-kitab di atas. Setelahnya, mereka membaca tahlil (Laa Ilaaha Illa Allah), tasbih, ayat kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An Naas. Dalam kegiatan tahlil ini, para sesepuh menyodorkan kertas yang berisi nama-nama yang telah wafat dari saudara-saudara mereka untuk mendapat doa.

Selain itu, di Rantau terdapat makam seorang ulama Syaikh Salman Al-Farisi. Beliau seorang ulama yang hidup antara tahun 1279 – 1350 H (1857-1920 M). Makamnya terletak di desa Gadung. Di atas makamnya dibangun sebuah kubah dan menjadi Wisata Ziarah Kabupaten Tapin.

Selebihnya, Rantau masih terus berbenah, membangun, dan melengkapi fasilitas-fasilitas pelayananannya bagi masyarakat. Satu hal yang membuat saya kagum dengan kota ini, nuansa religi kental terlihat. Hal itu bisa dilihat dari ayat-ayat al-Qur`an yang dipasang di berbagai sudut, yang isinya tentu saja mengajak dan memotivasi masyarakat untuk membangun Rantau dengan tidak melepaskan diri dari agama Islam.*/Ali Akbar Bin Agil

*Rantau berada di Kabupaten Tapin adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bom Hantam Kedutaan Turki di Baghdad
Tulisan selanjutnya Penjajah Zionis Serbu Masjid di Hebron

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?