Pintu gerbang Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) itu bernama Balikpapan, sebuah kawasan pesisir yang dikenal sebagai Kota Minyak. Bandara Internasional Sepinggan-nya merupakan bandar udara terbesar di kawasan timur Indonesia. Inilah kota terbaik Nasional 2011 dari segi kerukunan versi Menteri Agama RI. Beberapa waktu lalu, reporter hidayatullah.com M Abd Syakur pulang ke kota kelahirannya ini. Berikut cerita sisi-sisi lain Balikpapan yang disajikan secara berseri.
SEJAK dari Jakarta, beberapa tempat di Balikpapan sudah saya diniatkan untuk dikunjungi. Di antaranya dua buah kuburan tak biasa, yaitu Tempat Makam Jepang Perang Dunia ke II dan Makam Keramat Pulau Tukung. Makam Jepang yang dimaksud terletak di Jalan Mulawarman, Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur, sekitar 26 kilometer dari pusat kota. Dari Bandara Sepinggan jaraknya lebih dekat lagi, butuh waktu hanya sekitar 15-20 menit.
Tempat ini cukup dekat dengan SMKN 5 Pelayaran Lamaru. Plang nama kedua tempat itu berdiri berdekatan di pinggir Jalan Raya Mulawarman, tepat di jalan masuknya. Saya menyempatkan diri ke situ pada Kamis, 27 Maret 2014 sore, bersama seorang kawan yang juga tetangga rumah, Ahmad Syakir.
Meski pernah puluhan tahun tinggal di Balikpapan, baru sekali saya mendatangi makam tersebut. Yaitu di sela-sela kegiatan studi banding di SMKN 5 Pelayaran semasa Madrasah Aliyah, nyaris sepuluh tahun silam. Itu pun lewat jalur tidak resmi. Karena jalur itu ribet, harus memutar, kali ini saya memilih jalur utama.
Setelah melalui jalan masuk sekitar 400 meter dari jalan raya, hamparan Pantai Lamaru mencegat. Kami bergeser ke kiri, melalui sebuah jalan tanah setapak yang bersambung dengan jalan ber-paving.
Mengendarai sepeda motor, saya dan Syakir pelan-pelan meniti jalan kecil itu. Di sebelah kanan kami, ketenangan laut menjadi tontonan bagi deretan pepohonan hijau. Sayang, suasana alamiah ini terganggu dengan sepasang muda-mudi yang duduk bermesraan di bawah sebuah pohon. Sebuah sepeda motor tampak parkir di dekat mereka.
Di sebelah kiri, tampak sebuah bangunan mirip rumat adat Kaltim. Di sekitarnya, rumput ilalang, pepohonan kelapa, dan hembusan angin pantai meramaikan suasana yang sepi.
Sekitar 100 meter ke depan, jalan paving yang kami lintasi berbelok kiri, mengarah ke sebuah kompleks kecil ‘perumahan’. Gerbangnya terbuka. Karena belum tahu jalan menuju pintu utama Makam Jepang, kami masuk ke kompleks tadi. Tiba-tiba…
“Guk, guk! Guk, guk!”
Gonggongan sepasang anjing penjaga berbulu coklat menyambut kami. Suaranya garang, badannya gede, memaksa kami terkejut. Saya mencoba bersikap biasa. Seorang pria yang tengah berbaring di kolong sebuah rumah segera bangkit.
“Assalamu’alaikum…” saya menyapanya.
“Ya!?” dia tak menjawab salam. Dari pernak-pernik di kompleks itu, tampaknya ini kawasan non-Muslim.
“Maaf, Mas, permisi. Kalau mau ke Makam Jepang lewat mana ya?” tanya saya segera.
“Lewat depan sana,” jawab pria tadi, dia menunjuk ke luar gerbang. Kedua anjingnya masih menggonggong keras sambil mengelilingi kami.
“Brazil, Frangky!” dia menyeru anjing-anjingnya, mungkin bermaksud menenangkan. Seekor anjing pergi, sisa anjing satunya yang masih mengawasi kami.
Takbir Dibalas Gonggongan
Saya pun tak betah berlama-lama. Usai pamitan, kami hendak segera pergi. Masalah muncul kemudian. Anjing tadi masih menguntit, mengitari kami. Saya tetap mencoba bersikap biasa.
“Santai aja. Putar pelan-pelan motornya baru kita cabut,” saya berpesan pada Syakir yang menangkap gelagat buruk.
“Frangky! Frangky!” pria tadi masih memanggil anjingnya. Frangky seakan tak peduli.
“Guk, guk! Guk, guk!”
Saya segera naik ke boncengan motor. Pelan-pelan Syakir mulai menjalankan roda duanya. Frangky mengikuti. Motor bergerak meninggalkan gerbang kompleks. Frangky terus mengikuti. Motor pun melaju, Frangky mengejar sambil menggonggong. Gonggongannya seakan kode bagi rekannya. Brazil yang tadinya diam kini ikutan mengejar. Syakir panik, gas motor semakin ditarik.
“Bruumm!”
Motor melaju, kedua anjing juga melaju. Masing-masing di sisi kanan dan di kiri kami. Gonggongannya semakin menyalak. Syakir fokus mengendarai. Di depannya jalan berbelok ke kanan. Tapi motor tetap melaju lurus, tak ada isyarat akan berbelok. Waktu terlalu mepet, jalan terlalu sempit. Di depan kami laut siap menghadang. Sebentar lagi kami bisa nyemplung. Dan….
“Srraakkkkkk!”
Kami terperosok ke dalam belukar di bibir pantai. Motor terhenti, mesinnya mati, hampir saja terus ke laut. Gonggongan anjing-anjing semakin menyalak, seakan siap menyantap. Kami masih di atas jok motor. Saya siaga dengan helm SNI di tangan kanan, siap menghadang serangan Frangky dan Brazil.
Sebelum itu terjadi, Syakir berpikir cepat. Dia memundurkan motor, lalu berbalik arah ke jalan paving yang kami lalui sebelumnya. Tiba di jalan, langsung digasnya motor laju-laju. Frangky dan Brazil mengejar lagi, jaraknya tak sampai setengah meter. Saya terus menghalau. Ingin rasanya menghantam kepala anjing-anjing itu dengan helm, tapi kasihan juga. Kami memilih cari aman, pergi secepat mungkin.
Sepasang hewan najis itu seperti anjing pelacak mengejar perampok. Bukan cerita lucu jika kami digigit oleh mereka. Ya Allah selamatkan kami!. Secara spontan, saya mengucapkan sholawat, diiringi takbir keras.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Syakir ikutan bertakbir.
“Guk, guk! Guk, guk!” Franky-Brazil membalas.
Sore nan hening seakan jadi genting. Untungnya sepi, mungkin tak satu pun orang lain melihat kami. Panik, geram, seru, lucu, bercampur jadi satu. Ingin sekali saya abadikan momen ini dengan kamera. Tapi situasinya tak memungkinkan. Karena khawatir kamera diterjang anjing, saya mengurungkan niat memotret kejadian itu dari atas motor.
Setelah sekitar 80 meter melaju, akhirnya Brazil dan Frangky menyerah juga, tak mampu mengejar Suzuki New Smash milik Syakir. Sejurus sekejap, kami segera pulang meninggalkan kawasan Makam Jepang. Tanpa henti menahan tawa dan emosi.
“Kurang ajar anjingnya tuh, nakutin-nakutin aja,” gerutu Syakir.
“Padahal nggak menggigit juga,” timpal saya, sambil berpikir esok hari akan kembali lagi.* Bersambung