Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Harar, Kota Islam Tertua di Afrika Bertahan dalam Pengaruh Global

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Agustus 2014 10:13 10:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Agustus 2014 10:13
Bagikan
Hiruk pikuk di gerbang utama kota Harar
Bagikan

HARAR, kota Islam tertua di Afrika mencoba bertahan diri melawan pengaruh budaya luar. Buat penduduk yang mendaulat kotanya sebagai kota suci ke-empat umat Muslim itu, agama menjadi faktor penting.
Markt Harar Äthiopien

Saban malam sekawanan Hiena berpesta daging di pinggir tembok purba yang mengitari Harar – salah satu kota Islam tertua di dunia. Selama beribu tahun wajah kota tidak berubah. Perempuan berkerudung memapah kayu bakar di kepala, sementara para lelaki bersarung menggiring kambing di tepi jalan.

Hingga kini penduduk kota masih berupaya menjaga tradisi dan warna kental Islam dari godaan dunia luar. Namun betapapun gigihnya Harar memenjarakan diri, modernitas perlahan mulai berjejak di kota tua ini.

Di balik tembok yang menjulang, pengaruh gaya hidup modern mulai terasa: Papan iklan bir dipajang pada dinding gedung yang kusam, sebuah toko modern menjajakan produk elektronik terbaru buatan China atau truk besar dari Eropa yang masih baru dan mengkilap serta melaju gagah di jalan utama beraspal, terlihat kontras dengan sedan Peugeot tua yang biasa lalu lalang di sini.

Perlawanan dari Balik Tembok

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Namun begitu sekelompok aktivis bertekad melawan arus pengaruh dari dunia luar. Mereka mendikte semua yang dianggap mencerminkan kebudayaan lokal, mulai dari pakaian hingga teknik kuras buku, dari tari-tarian hingga nyanyian rakyat.

“Karena globalisasi, Anda tidak bisa mencegah datangnya perubahan. Tapi budaya dan agama harus bertahan,” kata Abdela Sherif, pemilik sebuah museum yang memiliki koleksi terbesar benda-benda kuno dari Harari dikutip DW. DE.

“Kami akan mempertahankan budaya kami, tradisi kami, kebudayaan tua kami. Dan kami akan menyelamatkannya dengan cara merevitalisasi,” imbuh Sherif. Salah satunya adalah dengan mendigitalisasi buku-buku dan lirik lagu kuno yang berasal dari Harar.

Islam di Afrika Timur

Harar dibangun pada abad ke-10. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota tertua di Afrika Timur, dengan tiga mesjidnya yang berusia lebih dari seribu tahun, tertua di luar Jazirah Arab. Beberapa bahkan mendaulat Harar sebagai kota suci ke-empat muslim, setelah Mekkah, Madinah dan Yerusalem.

Selama ratusan tahun tembok Harar yang menjulang setinggi empat meter mampu mendesak pengaruh asing. Sampai tahun 1887 pengunjung non-Muslim masih dilarang berjejak di Harar. Hingga Sultan Menelik dari Ethiopia menduduki kota itu dan membukanya buat penganut agama lain.

“Budaya di Harar sangat berbeda. Bagaimana cara mereka makan, bahkan bagaimana mereka beraktivitas dan berlaku dalam sosial,” kata pakar sejarah dan Sosiologi Ethiopia, Abudusemed Idris.

“Mereka ingin tampil sebagai diri sendiri, tidak terintimidasi oleh budaya lain. Jadi jika menyangkut pengaruh budaya barat, mereka tetap berpikir itu adalah milik mereka, budaya kami adalah milik kami,” imbuh Idris.

Tradisi Kuno

Sebagai hasilnya, beberapa tradisi tetap dijalankan seperti ribuan tahun silam. Terutama festival yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan, di mana ribuan penduduk bernyanyi dan berpesta selama tiga hari.

“Kami takut kami akan kehilangan tradisi ini suatu saat nanti dan kami akan menangis,” kata Amir Ridwan, sembari duduk di lantai beralaskan tikar dan mengunyah Khat, tanaman lokal. Ridwan menggunakan Facebook untuk berkomunkasi dengan para pemuda Harar: Ia mengajak kaum muda untuk tidak jengah mempelajari sejarah dan budaya sendiri.

“Semua bergantung pada mereka, pada kita semua untuk mempertahankan budaya dan tradisi dengan apapun yang kami miliki,” katanya.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:globalRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hamas Tembak Mati 18 Mata-mata Zionis-Israel
Tulisan selanjutnya Punya Tetangga Baik membuat Jantung Makin Sehat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?