Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Mengapa Wanita Saudi Tidak Keberatan Poligami?

Ama Farah
Terakhir diupdate:
Ama Farah
Dipublikasikan 14 Oktober 2012 13:25
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Di Arab Saudi, poligami dipandang menjadi solusi bagi para wanita di tengah-tengah kekhawatiran menjadi lajang karena jumlah laki-laki yang lebih sedikit dibanding kaum Hawa.

“Pria Saudi sering bepergian dan berada di luar negeri dalam jangka waktu yang lama. Ini secara tidak langsung menjadikan mereka lupa akan perkawinan,” kata Ibrahim Al Anzi profesor bidang sosiologi sebagaimana dikutip Al Arabiya dari koran Al Sharq (27/9/2012).

Menetap di negara-ngeara Barat, kata Anzi, juga mendorong para pria untuk “melakukan hal-hal yang asing menurut norma di Arab Saudi.”

“Ini membuat mereka berpikir sangat berat mengenai perkawinan dan memiliki keluarga.”

Sementara bagi para wanita, karena tidak banyak lagi pria yang bisa mereka pilih sebagai suami, maka menjadi istri kedua dalam rumah tangga poligami adalah sebuah solusi.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

“Saat seorang gadis memasuki usia 30 tahun di Arab Saudi, dia secara otomatis dianggap telat menikah dan dia menerima pria yang hanya bisa memberikan padanya sebagian dari waktu yang laki-laki itu miliki, daripada tidak menikah sama sekali.”

Menurut Anzi, poligami tidak hanya menjadi solusi bagi masalah para gadis yang telat menikah, tetapi juga solusi untuk mencegah terjadinya perselingkuhan dalam perkawinan.

“Di Arab Saudi sekarang kami punya tempat penampungan anak-anak hasil hubungan di luar nikah dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Hal itu ada karena terjadinya hubungan di luar nikah yang disebabkan oleh penolakan terhadap poligami,” jelas Anzi.

Seorang wanita Saudi bernama Fatimah Ibrahim mengatakan, alasan mengapa sebagian wanita menolak poligami adalah karena pria tidak dapat memperlakukan kedua istrinya dengan adil.

“Sebagian pria menikah lagi dan melupakan total istri pertamanya, dan kemudian menghentikan pemberian nafkah terhadap anak-anak mereka.”

Fawzia Abdul Hadi mendukung pendapat Fatimah Ibrahim, dengan mengatakan bahwa pria biasanya lebih sayang kepada istri barunya.

“Itu mengapa saya tidak akan pernah memperbolehkan suami untuk menikah lagi dengan alasan apapun,” kata Fawzia.

Tetapi ada wanita Saudi lain yang tidak setuju dengan pendapat kedua wanita itu.

Menurut Noha Ahmad, jika seorang pria ingin menikah lagi maka dia akan melakukannya baik istri pertamanya setuju atau tidak.

“Saya akan berbicara padanya dan mencari tahu mengapa dia ingin menikah lagi. Kemudian saya sendiri yang akan memilihkan untuknya istri kedua. Saya bahkan akan menemaninya untuk melamar wanita itu,” kata Noha Ahmad.

Menurut Fatimah Al Ahmari, jika pria ingin menikah lagi dan istrinya menolak, maka dia akan memulai pertengkaran sehingga kehidupan rumah tangga menjadi tidak nyaman.

“Lagipula dia bagaimanapun akan tetap menikah lagi. Itu kenapa wanita tidak seharusnya menolak poligami,” kata Fatimah Al Ahmari.

Menurut Ummu Rakan yang sering menjadi perantara perkenalan wanita atau pria yang ingin menikah, para pria biasanya menetapkan syarat jika mereka ingin menikah dua.

“Seorang pria yang sudah menikah lebih menyukai seorang wanita yang belum pernah menikah sebelumnya. Dan jika dia menikah lagi dengan seorang janda maka dengan syarat mereka tidak akan memiliki anak,” katanya.

Tapi para janda, kata Ummu Rakan, biasanya tidak mau dinikahi oleh pria yang sudah punya istri, atau dengan kata lain tidak mau poligami.

“Seorang janda cerai keluar dari pernikahan yang gagal dan biasanya mencari kelanggengan. Itu mengapa dia akan menolak terlibat konflik dengan istri pertama,” imbuhnya.

Menurut Ummu Rakan, masalah perawan tua disebabkan terutama karena baik pihak laki-laki maupun perempuan menolak untuk memikul tanggungjawab.

“Bentuk hubungan bagi mereka yang cocok adalah perkawinan kenyamanan, misyar [perkawinan dengan sejumlah syarat tanpa ditentukan batas waktunya, berbeda dengan mut’ah-red], tapi ini tidak mungkin untuk di zaman sekarang.”

Lagipula, kata Ummu Rakan, anak muda sekarang kebanyakan disibukkan dengan masalah yang membuat mereka lambat menikah atau tidak menikah sama sekali.

“Kebanyakan pria sekarang lebih memprioritaskan punya penghasilan yang banyak dan rumah bagus daripada mencari istri yang cocok,” katanya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migratepoligamiSaudiwanita
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kepala Keuangan Hizbullah Melarikan Diri ke Israel
Tulisan selanjutnya Pemuda Pengancam Bunuh Presiden Mursi Ditangkap

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?