Hidayatullah.com | PERTENGAHAN Juni lalu, sebuah pesan masuk ke gawai saya melalui WhatsApp (WA).
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Maaf mengganggu pak, saya Iqbal Aziz pengelola perpustakaan Masjid At-Taubah Rutan Kelas IIA Kendari membutuhkan buku-buku Islam, majalah Islam, al-Quran dan Juz Amma.
Kondisi al-Quran yang ada sudah tidak layak, tahanan dan narapidana sangat membutuhkan al-Quran”, lanjut Iqbal.
“Jika berkenan, kami berharap Yayasan Wakaf Al-Quran Suara Hidayatullah bisa membantu kami”, imbuhnya.
Masih di bulan Juni.
“Assalamualaikum Ustadz, saya Andi Reinadi dari Sukabumi. Masjid Jami At-Taqwa Kampung Cibogo Cibodas RT 02 RW 09 Desa Bantar Kalong, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sangat membutuhkan al-Qur’an.”
“Waalaikumsalam, baik Pak Andi akan kami catat”, jawabku.
“Bisa diceritakan kondisinya Pak?” tanyaku.
“Pak Ustadz, saya sih bukan pengurus masjid tersebut tapi saya bekerja di lembaga pemberdayaan masyarakat desa (LPMD), saya siap membantu menyalurkan al-Qur’an untuk mereka”, kata Andi.
“Ada beberapa masjid dan mushala yang membutuhkan al-Quran dan Iqra. Di Masjid At-Taqwa ada sekitar 50 anak yang mengaji, sedangkan di Mushala Al-Barokah ada sekitar 20 santri,” lanjutnya.
Kemudian Andi pun memaparkan. Menurutnya, Desa Bantar Kalong itu terpelosok, kondisi masyarakatnya memprihatinkan. Jalan menuju tempatnya masih berbatu. Bahkan ada yang masih tanah. Jika musim hujan becek dan berlumpur. Dari RT ke RT lain ditempuh dengan perjalanan sekitar 5 kilometer. Sebab pemukiman penduduk masih jarang. Untuk berbelanja ke pasar, penduduk harus menempuh jarak 12 kilometer.
“Terima kasih informasinya Pak Andi, saya akan sampaikan ke tim Yayasan Wakaf Al-Quran Suara Hidayatullah”, pungkasku.
Lain lagi dengan Pak Juber. Saya menerima pesan singkat darinya.
“Assalamualaikum, saya pengurus Masjid At-Tawakkal, Desa Sialang Panjang, Kec. Tembilahan Hulu, Kab. Indragiri Hilir, Prov. Riau,” kata Juber.
“Jamaah kami banyak yang mau belajar al-Quran, namun karena keterbatasan al-Quran sehingga jamaah harus antri bergantian menggunakan al-Quran yang ada,” ungkap Juber.
Suatu hari, saya dihubungi Ustadz Ridwan, dai Hidayatullah Kupang, NTT.
“Alhamdulillah, setelah perjalanan laut selama 17 jam, saya lanjut ke Desa Lohayong, Kec. Solor Timur, Kab. Flores Timur. Lokasi ini berada di Pulau Solor. Saya merasa terpanggil menyalurkan al-Quran dan Iqra untuk santri-santri di TPA Al-Yaqin, meskipun harus menyebrang sehari semalam menggunakan kapal perintis mengarungi luasnya laut Sawu,” ujarnya.
“Terima kasih para pewakaf, pengurus Yayasan Wakaf Al-Quran Suara Hidayatullah yang sudi memperhatikan mereka dengan memberikan al-Quran dan Iqra. Semoga Allah memberi pahala yang berlimpah”, ia juga mengungkap.
Luar biasa semangatnya. Masya Allah.
Selain itu, juga ada Fadhel dari Kaimana, Papua Barat.
“Ustadz, kami sangat membutuhkan al-Quran dan Iqra. Selain untuk santri, al-Quran dan Iqra akan kami berikan juga ke beberapa kampung binaan Hidayatullah,” ujar Fadhel, pengurus Pemuda Hidayatullah Kaimana, Papua Barat.
“Kami membina masyarakat yang diusir dari kampungnya. Sekarang mereka tinggal di tenda-tenda seadanya di sebuah pulau. Mereka membutuhkan al-Quran, Iqra, sarung, dan mukena, Ustadz”, Fadhel memaparkan.
Saya termenung mendengar kepingan kisah yang disampaikan Fadhel. Tak kalah mengharukan, ada pula pesan WA dari Pak Djoko.
“Pak, saya butuh al-Quran, saya orang tua yang tidak sanggup beli al-Quran. Butuh al-Quran yang besar dan ada terjemahannya, mata saya kurang jelas”, ujar Djoko.
Deg. Lagi-lagi hati ini dibuat tak kuasa menahan keharuan.
Suatu pagi, pesan WA lainnya masuk. Saya membukanya.
“Assalamualaikum. Pak, saya Ilham. Saya membutuhkan al-Quran secara gratis. Saya akan mengajar ngaji istri dan anak-anak saya di rumah.”
Pesan-pesan seperti itulah yang hampir setiap hari masuk ke gawai saya sebagai pengurus Yayasan Wakaf Al-Quran Suara Hidayatullah (YAWASH). Baik pagi, siang, maupun malam hari. Berbagai rasa yang timbul: sedih, terharu, tergugah, dan mengundang semangat. Campur aduk.
Iqbal, Andi, Juber, Ridwan, dan Fadhel adalah sebagian masyarakat yang terketuk hatinya untuk membantu saudara Muslim yang membutuhkan al-Qur’an. Sedangkan Djoko dan Ilham adalah hamba Allah yang dapat tetesan hidayah untuk belajar dan mengajarkan al-Qur’an.
Yuk, berwakaf al-Qur’an. Jangan lewatkan ladang amal ini ikut ter-lockdown. Jangan biarkan tetesan hidayah ini ikut ter-karantina. Jangan karena kesibukan, kita melalaikan diri dari membaca firman-Nya. Dan jangan biarkan setiap hari berlalu tanpa kebaikan yang bisa kita lakukan.
Sebab, setiap satu huruf al-Quran yang dibaca akan mendapat ganjaran sepuluh kebaikan.
Satu, dua, tiga, atau berapapun al-Qur’an yang diwakafkan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. Di daerah terpelosok, terdalam, dan terpencil di bumi Nusantara ini!
Ya Allah, alirkanlah pahala yang deras dari setiap huruf al-Qur’an yang dibaca itu sepanjang hayatnya.
Ya Allah, curahkan keberkahan kepada hamba-Mu yang mentadaburi al-Qur’an.
Ya, Allah, limpahkan rezeki, kemudahan dalam segala urusan, dan keselamatan di akhirat kelak bagi hamba-Mu yang mengamalkan al-Qur’an. Aamiin.* Dadang Kusmayadi