Keterlibatan orang tua dalam asmara anak dewasa bisa berdampak memperkuat atau merusak hubungan, tergantung cara mereka terlibat dan pola komunikasi keluarga
Hidayatullah.com | KETIKA orang tua mulai terlibat dalam kehidupan asmara anak-anak mereka, dampaknya ternyata bisa sangat signifikan terhadap hubungan orang tua-anak itu sendiri.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Communication Research menemukan bahwa intervensi atau dukungan orang tua dapat menciptakan “turbulensi” dalam dinamika keluarga, mengguncang stabilitas ikatan mereka.
Studi yang dipimpin oleh Paul Schrodt dan Emily Stager dari Texas Christian University ini mendalami fenomena tersebut. Schrodt menjelaskan ketertarikan kami pada topik ini bermula dari pengalaman pribadi saya sebagai ayah dari dua putra dewasa muda yang telah menghadapi berbagai macam percakapan tentang siapa yang mereka kencani, dan pengalaman rekan penulis saya sebagai putri dewasa muda yang menikah tahun lalu tetapi mengalami beberapa percakapan yang menantang dengan orang tuanya sendiri saat berpacaran dengan calon suaminya.
“Kami berusaha memperluas teori [turbulensi relasional] dengan mengeksplorasi apakah keterlibatan orang tua dalam hubungan romantis anak-anak mereka yang sudah dewasa menghasilkan tingkat turbulensi yang sebanding dalam hubungan orang tua-anak,” kata penelitian yang diberi judul “Turbulensi Hubungan di Kalangan Dewasa Muda dengan Orang Tua sebagai Fungsi Keterlibatan Orang Tua dalam Hubungan Romantis Mereka: Analisis Proses Bersyarat.
Turbulensi dalam istilah psikologi mengacu pada perasaan ketidakpastian, ketidakstabilan, dan gejolak emosional yang dialami individu dalam suatu hubungan atau selama masa transisi hidup.
Penelitian ini melibatkan 264 mahasiswa berusia 18 hingga 24 tahun yang sedang menjalin hubungan romantic alias masalah cinta. Para partisipan diminta mengisi survei daring tentang hubungan mereka dengan pasangan dan salah satu orang tua, serta bagaimana interaksi ini memengaruhi dinamika keluarga.
Intervensi dan Fasilitasi Memiliki Dampak Berbeda
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa campur tangan orang tua dalam urusan asmara anak berkaitan langsung dengan gejolak dalam hubungan orang tua-anak.
Intervensi semacam ini cenderung memicu percakapan yang lebih negatif mengenai pasangan anak, yang pada akhirnya memperburuk stabilitas hubungan mereka.
Sebaliknya, fasilitasi atau dukungan positif dari orang tua terhadap hubungan romantis anak justru menghasilkan hubungan yang lebih lancar dan stabil. Ini disebabkan oleh munculnya percakapan yang lebih positif antara orang tua dan anak mengenai pasangan romantis.
“Campur tangan orang tua dalam hubungan romantis anak dapat memperparah gejolak hubungan orang tua-anak dengan menciptakan lebih banyak percakapan negatif tentang pasangan romantis anak, sementara fasilitasi orang tua dapat mengurangi gejolak hubungan orang tua-anak dengan menciptakan lebih banyak percakapan positif antara orang tua dan anak tentang pasangan romantis anak,” tegas Schrodt kepada PsyPost.
Komunikasi Terbuka dan Pendapat Orang Tua
Studi ini juga menemukan bahwa dampak intervensi dan fasilitasi sangat dipengaruhi oleh dua faktor kunci: tingkat keterbukaan komunikasi dalam keluarga (orientasi percakapan) dan seberapa besar anak menghargai pendapat orang tua tentang hubungan asmara mereka.
Pada keluarga dengan tingkat komunikasi terbuka yang rendah, campur tangan orang tua memiliki dampak negatif yang lebih kuat pada hubungan orang tua-anak, terutama jika anak sangat menghargai pendapat orang tua.
Namun, dalam keluarga yang terbiasa dengan komunikasi terbuka dan jujur, dampak negatif intervensi tampaknya berkurang, kemungkinan karena fondasi kepercayaan dan ketahanan yang sudah terbangun.
Menariknya, dalam keluarga yang sangat terbuka, dukungan terus-menerus dari orang tua justru bisa memprediksi lebih banyak gejolak jika anak sangat menghargai pendapat orang tua.
Para peneliti berspekulasi bahwa dalam konteks ini, dukungan yang berlebihan bisa dianggap mengganggu atau terlalu mengendalikan, terutama saat anak sedang berusaha menegaskan otonominya.
“Intinya, kami menemukan bahwa fasilitasi orang tua dalam keluarga yang berorientasi percakapan tinggi dapat berasosiasi negatif atau positif dengan turbulensi dalam hubungan orang tua-anak, tergantung pada apakah anak tersebut menghargai pendapat orang tua tentang hubungan romantis mereka,” ujar Schrodt.
Ia menambahkan sebuah refleksi yang menarik, “Orang tua dari keluarga yang berorientasi percakapan tinggi yang berusaha mendukung dan memfasilitasi hubungan romantis anak mereka mungkin mengalami sesuatu yang mirip dengan efek bumerang, di mana perhatian, percakapan yang berkelanjutan, dan upaya pengaruh yang mereka berikan terhadap hubungan anak mereka dapat ditafsirkan sebagai intrusif dan/atau mengendalikan, yang menyebabkan rasa kekacauan dan ketidakstabilan yang merusak jenis hubungan yang diinginkan anak dengan orang tua mereka.”
Keterbatasan Penelitian dan Arah Selanjutnya
Para peneliti mengakui adanya keterbatasan dalam studi ini, seperti dominasi partisipan perempuan kulit putih, heteroseksual, dan mahasiswa, yang membatasi generalisasi hasil.
Selain itu, studi ini hanya mengukur persepsi anak dan bersifat cross-sectional, tidak melacak perubahan dari waktu ke waktu atau menyertakan perspektif orang tua dan pasangan.
Meskipun demikian, penelitian ini menawarkan wawasan berharga tentang bagaimana percakapan seputar asmara dapat membentuk hubungan orang tua-anak selama masa transisi penting dalam kehidupan.
Ini juga menyoroti bagaimana pola komunikasi keluarga dan sikap individu dapat memengaruhi apakah keterlibatan orang tua akan memperkuat atau justru merusak ikatan tersebut.*




