Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Studi: Pola Komunikasi Orang Tua Soal Asmara Pengaruhi Jiwa Anak dan Hubungan Keluarga

Ahmad
Terakhir diupdate: 31 Juli 2025 13:41 1:41 pm
Ahmad
Dipublikasikan 31 Juli 2025 13:40
Bagikan
Bagikan

Keterlibatan orang tua dalam asmara anak dewasa bisa berdampak memperkuat atau merusak hubungan, tergantung cara mereka terlibat dan pola komunikasi keluarga

Hidayatullah.com | KETIKA orang tua mulai terlibat dalam kehidupan asmara anak-anak mereka, dampaknya ternyata bisa sangat signifikan terhadap hubungan orang tua-anak itu sendiri.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Communication Research menemukan bahwa intervensi atau dukungan orang tua dapat menciptakan “turbulensi” dalam dinamika keluarga, mengguncang stabilitas ikatan mereka.

Studi yang dipimpin oleh Paul Schrodt dan Emily Stager dari Texas Christian University ini mendalami fenomena tersebut. Schrodt menjelaskan ketertarikan kami pada topik ini bermula dari pengalaman pribadi saya sebagai ayah dari dua putra dewasa muda yang telah menghadapi berbagai macam percakapan tentang siapa yang mereka kencani, dan pengalaman rekan penulis saya sebagai putri dewasa muda yang menikah tahun lalu tetapi mengalami beberapa percakapan yang menantang dengan orang tuanya sendiri saat berpacaran dengan calon suaminya.

“Kami berusaha memperluas teori [turbulensi relasional] dengan mengeksplorasi apakah keterlibatan orang tua dalam hubungan romantis anak-anak mereka yang sudah dewasa menghasilkan tingkat turbulensi yang sebanding dalam hubungan orang tua-anak,” kata penelitian yang diberi judul “Turbulensi Hubungan di Kalangan Dewasa Muda dengan Orang Tua sebagai Fungsi Keterlibatan Orang Tua dalam Hubungan Romantis Mereka: Analisis Proses Bersyarat.

Baca Juga

Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat
Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah
Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor

Turbulensi dalam istilah psikologi mengacu pada perasaan ketidakpastian, ketidakstabilan, dan gejolak emosional yang dialami individu dalam suatu hubungan atau selama masa transisi hidup.

Penelitian ini melibatkan 264 mahasiswa berusia 18 hingga 24 tahun yang sedang menjalin hubungan romantic alias masalah cinta. Para partisipan diminta mengisi survei daring tentang hubungan mereka dengan pasangan dan salah satu orang tua, serta bagaimana interaksi ini memengaruhi dinamika keluarga.

Intervensi dan Fasilitasi Memiliki Dampak Berbeda

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa campur tangan orang tua dalam urusan asmara anak berkaitan langsung dengan gejolak dalam hubungan orang tua-anak.

Intervensi semacam ini cenderung memicu percakapan yang lebih negatif mengenai pasangan anak, yang pada akhirnya memperburuk stabilitas hubungan mereka.

Sebaliknya, fasilitasi atau dukungan positif dari orang tua terhadap hubungan romantis anak justru menghasilkan hubungan yang lebih lancar dan stabil. Ini disebabkan oleh munculnya percakapan yang lebih positif antara orang tua dan anak mengenai pasangan romantis.

“Campur tangan orang tua dalam hubungan romantis anak dapat memperparah gejolak hubungan orang tua-anak dengan menciptakan lebih banyak percakapan negatif tentang pasangan romantis anak, sementara fasilitasi orang tua dapat mengurangi gejolak hubungan orang tua-anak dengan menciptakan lebih banyak percakapan positif antara orang tua dan anak tentang pasangan romantis anak,” tegas Schrodt kepada PsyPost.

Komunikasi Terbuka dan Pendapat Orang Tua

Studi ini juga menemukan bahwa dampak intervensi dan fasilitasi sangat dipengaruhi oleh dua faktor kunci: tingkat keterbukaan komunikasi dalam keluarga (orientasi percakapan) dan seberapa besar anak menghargai pendapat orang tua tentang hubungan asmara mereka.

Pada keluarga dengan tingkat komunikasi terbuka yang rendah, campur tangan orang tua memiliki dampak negatif yang lebih kuat pada hubungan orang tua-anak, terutama jika anak sangat menghargai pendapat orang tua.

Namun, dalam keluarga yang terbiasa dengan komunikasi terbuka dan jujur, dampak negatif intervensi tampaknya berkurang, kemungkinan karena fondasi kepercayaan dan ketahanan yang sudah terbangun.

Menariknya, dalam keluarga yang sangat terbuka, dukungan terus-menerus dari orang tua justru bisa memprediksi lebih banyak gejolak jika anak sangat menghargai pendapat orang tua.

Para peneliti berspekulasi bahwa dalam konteks ini, dukungan yang berlebihan bisa dianggap mengganggu atau terlalu mengendalikan, terutama saat anak sedang berusaha menegaskan otonominya.

“Intinya, kami menemukan bahwa fasilitasi orang tua dalam keluarga yang berorientasi percakapan tinggi dapat berasosiasi negatif atau positif dengan turbulensi dalam hubungan orang tua-anak, tergantung pada apakah anak tersebut menghargai pendapat orang tua tentang hubungan romantis mereka,”  ujar Schrodt.

Ia menambahkan sebuah refleksi yang menarik, “Orang tua dari keluarga yang berorientasi percakapan tinggi yang berusaha mendukung dan memfasilitasi hubungan romantis anak mereka mungkin mengalami sesuatu yang mirip dengan efek bumerang, di mana perhatian, percakapan yang berkelanjutan, dan upaya pengaruh yang mereka berikan terhadap hubungan anak mereka dapat ditafsirkan sebagai intrusif dan/atau mengendalikan, yang menyebabkan rasa kekacauan dan ketidakstabilan yang merusak jenis hubungan yang diinginkan anak dengan orang tua mereka.”

Keterbatasan Penelitian dan Arah Selanjutnya

Para peneliti mengakui adanya keterbatasan dalam studi ini, seperti dominasi partisipan perempuan kulit putih, heteroseksual, dan mahasiswa, yang membatasi generalisasi hasil.

Selain itu, studi ini hanya mengukur persepsi anak dan bersifat cross-sectional, tidak melacak perubahan dari waktu ke waktu atau menyertakan perspektif orang tua dan pasangan.

Meskipun demikian, penelitian ini menawarkan wawasan berharga tentang bagaimana percakapan seputar asmara dapat membentuk hubungan orang tua-anak selama masa transisi penting dalam kehidupan.

Ini juga menyoroti bagaimana pola komunikasi keluarga dan sikap individu dapat memengaruhi apakah keterlibatan orang tua akan memperkuat atau justru merusak ikatan tersebut.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:asmara anakHeadlinekomunikasi anakkomunikasi keluargaorang tua
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Faisal bin Farhan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Arab Saudi: Tidak Ada Normalisasi dengan ‘Israel’ Tanpa Negara Palestina
Tulisan selanjutnya Jumlah Janda Meningkat di Aceh, Judi Online Jadi Pemicu Utama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

31 Maret 2026 09:28
Iptekes

Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya

26 Maret 2026 08:30
Iptekes

Kecenderungan Beragama Generasi Z Meningkat, Ini Temuan Peneliti

2 Maret 2026 16:00
vape covid
Iptekes

Otoritas Kesehatan Prancis Peringatkan Risiko Vape Bagi Kesehatan

13 Februari 2026 20:11
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?