Meskipun memiliki keunggulan teknologi dan dukungan perusahaan besar seperti Microsoft, ‘Israel’ dinilai gagal mencapai tujuan strategisnya di Gaza, dan sebaik-baik makar hanya milik Allah
Hidayatullah.com | TEKNOLOGI kecerdasan buatan (AI) yang seharusnya menjadi simbol kemajuan kini berubah menjadi mesin pembunuh tanpa nurani di tangan militer ‘Israel’.
Laporan terbaru mengungkap bahwa sistem AI yang digunakan dalam operasi militer di Jalur Gaza membuat keputusan pengeboman secara otomatis—tanpa pengawasan manusia dan tanpa kemampuan membedakan antara warga sipil dan kombatan.
Pakar strategi militer Elias Hanna mengungkapkan bahwa pasukan pendudukan ‘Israel’ kini mengandalkan sistem AI di semua tingkat operasi—dari politik hingga taktik lapangan.
Sistem seperti Factor of Fire, Depth of Wisdom, Chemist, dan terutama Lavender dikembangkan untuk mengidentifikasi target berdasarkan analisis data telepon, citra udara, dan aktivitas media sosial.
Namun, alih-alih menargetkan militan, sistem Lavender kerap salah sasaran, menandai warga sipil sebagai target yang “sah”. Hanna menegaskan, “Ketika sumber target habis, sistem mulai menciptakan target baru sendiri berdasarkan data yang dimilikinya.”
Dalam praktiknya, bahkan seorang komandan lapangan diberi wewenang menewaskan sejumlah warga sipil tertentu—20 untuk komandan menengah, dan hingga 100 untuk komandan senior—sebagai “kerugian yang dapat diterima”.
Pelanggaran Etika dan Hukum Perang
Jessica Dorsey, pakar hukum internasional, menyebut penggunaan AI semacam ini sebagai pelanggaran serius terhadap aturan penargetan global. “Membuat daftar target dengan melibatkan warga sipil tanpa pengawasan manusia adalah bentuk pelanggaran etika dan hukum perang internasional,” ujarnya.
Bom presisi tinggi seperti GBU-32 yang dijatuhkan ke kompleks perumahan tetap menimbulkan korban besar, membuktikan bahwa teknologi bukanlah jaminan akurasi atau kemanusiaan. Dorsey menegaskan bahwa keputusan otomatis tanpa evaluasi manusia berisiko memusnahkan seluruh keluarga sipil hanya dengan satu klik.
Teknologi Tanpa Nurani vs. Perlawanan Asimetris
Meskipun memiliki keunggulan teknologi dan dukungan perusahaan besar seperti Microsoft, ‘Israel’ dinilai gagal mencapai tujuan strategisnya di Gaza.
Hanna menilai kekalahan ini terjadi karena strategi perlawanan Hamas yang fleksibel dan cerdas—mengubah medan perang menjadi ruang asimetris yang meniadakan keunggulan teknologi tinggi.
“AI tidak bisa memahami medan sempit, terowongan, dan taktik gerilya. Ia hanya membaca data tanpa konteks manusia,” ujarnya.
Bagi banyak pengamat, tragedi Gaza menunjukkan satu hal pasti: ketika keputusan perang diserahkan pada mesin, kemanusiaanlah yang pertama kali dikorbankan. Hanya saja yang perlu diingat, teknologi adalah buatan manusia, sedangkan bagi orang Mukmin, sebaik-baik pembuat makar hanya berada di tangan Allah.*




