Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Ramadhan, Al-Quran, dan Kepemimpinan 

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 April 2023 16:27 4:27 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 April 2023 16:27
Bagikan
memimpin diri sendiri
Bagikan

Dalam pandangan Islam kepemimpinan merupakan faktor penting untuk mengatur kehidupan bersama

Oleh: KH. Ainul Yaqin

Hidayatullah.com | RAMADHAN adalah bulan yang diistimewakan oleh Allah, merupakan salah satu dari waktu-waktu istimewa yang disediakan secara berkala agar manusia mau melakukan perbaikan diri.

Ramadhan dapat disebut juga sebagai bulan pelatihan, karena manusia ditempa terutama dengan ibadah puasa agar kelak paska Ramadhan kembali menempuh jalan taqwa (lurus) dan meninggalkan jalan fujur (bengkok).

Sebagai bulan pelatihan, di bulan Ramadhan terdapat banyak fasilitas yang lebih dari bulan lainnya, seperti dilipatgandakan pahala amal kebajikan yang dilakukan di dalamnya, dibelenggunya setan, ditutupnya pintu neraka, dibukanya pintu surga, dan disediakan Lailatul Qodar.

Baca Juga

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan

Bahkan amaliyah yang bersifat mubah bisa dinilai sebagai ibadah, seperti tidurnya orang yang berpuasa karena lelah dikategorikan sebagai ibadah yang sebenarnya di hari biasa adalah perkara mubah.

Pada bulan Ramadhan pulalah al-Qur’an diturunkan. Sebagimana diungkapkan dalam al-Qur’an.

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ

“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an yang merupakan petunjuk bagi manusia serta penerangan yang merupakan petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang batil.” (QS: Al-Baqarah [2]: 185).

Betapa eratnya momen Ramadhan dengan al-Qur’an, di bulan ini ada dua Nuzul Al-Qur’an, pertama al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfudz ke Bait al-Izzah langit dunia, tepatnya pada malam al-Qadar. Kedua, di bulan ini pula surat pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantara malaikat Jibril yakni lima ayat pertama dalam QS. al-Alaq, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan.

Tanggal turunnya surat pertama adalah sama dengan tanggal terjadinya perang Badar atau yauma l-taqa al-jam’aan, tetapi di tahun yang berbeda, sebagaimana diinformasikan dalam QS. al-Anfal [8] ayat 41. Hadirnya bulan Ramadhan setiap tahun mengingatkan manusia agar selalu berpegang teguh pada al-Qur’an. Maka saatnyalah memperbanyak tadarrus al-Qur’an, disamping membaca secara tartil juga mengkaji isi kandungannya.

Turunnya al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmat Allah untuk semua manusia, kemudian Allah menyerukan kepada manusia agar menyambut rahmat-Nya.

Allah berfirman:

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS: Al-An’am [6]: 155).

Maka Allah mengecam orang-orang yang mengingkari rahmat-Nya itu. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling.”(QS: Al-An’am  [6]: 157).

Rahmat artinya kasih sayang. Allah mengasihi dan menyayangi hamba-Nya dengan menurunkan pentunjuk disertai dengan mengutus Rasul-Nya untuk menjelaskan petunjuk-Nya itu agar manusia memperoleh kebahagiaan hidup yang paripurna di dunia dan di akhirat.  

Karena itulah al-Qur’an bersama dengan penjelasan-penjelasan dari Nabi ﷺ berupa ucapan, tindakan, ataupun persetujuan beliau yang semua disebut al-sunnah, merupakan satu kesatuan. Al-Qur’an dan al-Sunnah melahirkan aturan-aturan yang disebut syariat Islam yang dengannya manusia mengatur bagaimana berinteraksi dengan Tuhannya, berinteraksi  dengan sesama muslim, berinteraksi dengan sesama manusia, serta berinteraksi dengan alam dan kehidupan.

Al-Qur’an dan al-Sunnah memberikan solusi yang benar dalam menghadapi kehidupan bersama pada suatu masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia ini termasuk memberikan rambu-rambu toleransi.

 Syariat Islam dan kepemimpinan

Syari’at Islam juga memberikan rambu-rambu memilih pemimpin. Saat ini di tengah-tengan bangsa ini sedang mempersiapkan menghadapi suksesi nasional serta pada saat yang sama juga mempersiapkan pemilihan umum kepala daerah, umat Islam perlu memahami tuntunan Islam dalam soal kepemimpinan.

Dalam pandangan Islam kepemimpinan merupakan faktor penting untuk mengatur kehidupan bersama. Jangankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam lingkup yang kecil saja seperti kehidupan keluarga menuntut adanya kepemimpinan.  

Dalam kehidupan keluarga, suami adalah pemimpinnya. Rasulullah ﷺ menyampaikan, suami bertanggungjawab dalam menjalankan kepemimpinan di keluarganya.

Bahkan pada saat bepergian bersama-sama pun menuntut adanya pemimpin. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud disampaikan: “Apabila ada tiga orang yg keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin”.

Atas dasar itulah para ulama telah berijma bahwa mewujudkan kepemimpinan dalam kehidupan bersama merupakan kewajiban agama. Al-Mawardi (1989:3) menyampaikan bahwa kepemimpinan (al-Imamah) merupakan tempat penggantian kenabian dalam memelihara agama dan mengatur kehidupan di dunia, memilih orang yang menduduki kepemimpinan tersebut di tengah-tengah kehidupan hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma’.

Senada dengan itu, Ibnu Taimiyah dalam karyanya al-Siyasah al-Syar’iyah (1983: 138) menyampaikan: “Wajib diketahui bahwa kekuasaan untuk mengatur urusan manusia termasuk sebesar-besar kewajiban agama. Bahkan urusan agama dan dunia tak akan tegak tanpa adanya pemimpin”.  

Ibnu Taimiyah beralasan tidak akan sempurna kemaslahatan manusia kecuali dengan menjalin interaksi dalam kehidupan bersama karena adanya kebutuhan satu sama lain, untuk itulah perlu ada pemimpin yang bisa mengatur dalam berinteraksi tersebut.

Sedemikian penting kehadiran kepemimpinan, sampai-sampai Ibnu Taimiyah (1983: 139) menggunakan bahasa hiperbola menyampaikan, “Enam puluh tahun dengan pemimpin yang sewenang-wenang masih lebih baik dari pada semalam saja tanpa pemimpin”. Ungkapan ini tidak berarti setuju dengan kehadiran calon pemimpin yang dzalim. Ibnu Taimiyah pun mengutip hadits Nabi ﷺ yang artinya:

“Barangsiapa memilih seorang pemimpin padahal ia tahu ada orang lain yang lebih pantas untuk dijadikan pemimpin dan lebih faham terhadap kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan semua orang beriman.” (HR: al-Thabrani).

Ungkapan hadits tersebut menegaskan adanya kewajiban memilih orang yang terbaik untuk menjadi pemimpin.  Memilih pemimpin terbaik adalah menyerahkan urusan kepada orang yang memiliki kompetensi.

Rasulullah ﷺ juga menyampaikan, menyerahkan urusan sesuatu kepada orang yang bukan ahlinya adalah sama dengan menunggu kehancuran.

Al-Qur’an menyampaikan dalam banyak ayat, bahwa diantara kriteria utama calon pemimpin yang bisa dipilih adalah orang yang seiman. QS. al-Ma’idah [5]: 51 menegaskan larangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani menjadi awliya. Dengan pesan yang hampir sama QS. Ali Imran [3]: 28 menegaskan larangan bagi kaum mukmin menjadikan orang kafir menjadi awliya.

Kata awliya bentuk jamak dari kata wali, bisa bermakna orang kepercayaan, orang dekat, atau orang yang dipercaya diserahi urusan yang termasuk di dalamnya pemimpin.

Jika dengan pemahaman menggunakan qiyas awlawiyat, menjadikan orang kafir sebagai teman dekat tidak diperbolehkan, maka lebih tidak diperbolehkan lagi menjadikannya sebagai pemimpin, karena pemimpin adalah orang yang diserahi untuk mengurus berbagai urusan yang akan memberikan kemaslahatan umat.

Dalam pandangan Islam peran pemimpin dalam hal ini adalah untuk menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Karena itu yang pantas dipilih tidak sekadar seiman, pemimpin ideal adalah orang yang cakap, amanah, dan dapat dipercaya.

Merujuk pada kepemimpinan Nabi ﷺ, kriteria pemimpin yang layak dipilih adalah yang mempunyai sifat siddiq, amanah, tabligh dan fathanah.*

Ketua MUI Jatim

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-QuranHeadlinekepimpinanpilihran redaksiRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Amerika Bunuh Komandan ISIS Perencana Serangan di Eropa
Tulisan selanjutnya Taliban Afghanistan Netralisir 6 Anggota ISIS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hikmah

Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba

5 Mei 2026 11:04
Jendela Keluarga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?

26 April 2026 14:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?