Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Prinsip Keteladanan Pemimpin

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Agustus 2023 09:15 9:15 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Agustus 2023 09:30
Bagikan
Bagikan

Para ulama dahulu paham bahwa murid mereka tidak hanya mengambil hikmah dan memetik ilmu dari gurunya, tetapi juga mencontoh penerapan adab, akhlak dna tauladan yang baik

Hidayatullah.com | MEMBERIKAN contoh dan teladan yang baik, bukan semata-mata omongan dan retorika politik bagi seorang pemimpin. Bukan juga sebentuk nasihat muluk atau manis di bibir, namun kebaikan itu hendaknya sudah melekat dan mendarah-daging dalam jiwa dan karakteristik seorang pemimpin.

Lalu, siapa yang menjadi ukuran dan pelopor utama, hingga kebaikan itu tercermin dari sikap dan perbuatannya?  Tak lain dan tak bukan adalah figur orang-orang bijak terdahulu, baik dari bapak bangsa, negarawan, hingga agamawan.

Di dalam Islam, tercermin jelas contoh dan teladan itu pada kepribadian Nabi Muhammad ﷺ seperti yang terungkap dalam Al-Quran (QS: al-Ahzab: 21):

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Baca Juga

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan

“Sungguh telah ada pada kepribadian Rasulullah, suri teladan yang baik bagimu, yakni bagi bagi orang yang mengharap kasih-sayang Allah dan percaya akan datangnya hari kiamat, serta menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya.” (QS: Al Ahzab: 21).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut dimaksudkan bagi umat Muhammad ﷺ agar mengikuti jejak-langkah perjuangan yang tercermin pada kepribadian Rasul, baik dari apa-apa yang dikatakan maupun apa-apa yang diperbuatnya.

Sedangkan di era medsos ini, orang lebih sibuk memberi nasihat dan petuah, ketimbang memberi teladan, bahkan sibuk berbicara daripada mendengarkan. Adapun pemimpin yang layak disebut qudwah hasanah adalah seseorang yang terbukti dapat mengamalkan ilmunya, serta menjadi pelopor dari setiap kebaikan.

Di dalam Al-Quran juga ditekankan, bahwa Tuhan amat murka kepada orang yang pandai bicara namun tak ada kemauan mengamalkan apa-apa yang dibicarakannya.

Secara implisit, Tuhan tidak menyukai orang yang banyak ilmunya tapi tidak pandai mengamalkannya. Padahal sejatinya, ilmu itu untuk diamalkan, bukan untuk dijadikan ajang postingan, polemik dan perdebatan.

Ulama terkemuka, Tajuddin as-Subqi pernah bercerita perihal adanya segolongan ahli ilmu agama yang tidak meninggalkan amal-amal wajibnya, tapi mereka menyukai kegaduhan dan perdebatan, dan mereka merasa senang ketika debat-debat itu dimenangkan oleh salah satu pihak, hingga para pengikutnya menyebutnya “pakar fiqih” di wilayah itu.

Kegemaran mereka dalam berdebat telah menghabiskan waktunya untuk lebih mendalami ilmu Al-Quran, sampai-sampai mereka merasa bangga disebut ulama dan tokoh agama.

Ketika mereka melaksanakan shalat, pikirannya selalu mengembara untuk urusan-urusan dunia yang dibanggakan, hingga mereka tak dapat fokus dengan bacaan-bacaan shalatnya.

Para ulama dahulu sangat paham bahwa murid mereka tidak hanya mengambil hikmah dan memetik ilmu darinya, tetapi juga mencontoh penerapan ilmu berupa adab dan akhlak yang baik. Kita mengingat kisah-kisah menarik yang dialami para murid Imam Ahmad bin Hanbal.

Mereka tekun menuntut ilmu, tetapi sekaligus mengambil teladan dari jejak langkah perjuangan sang guru (mursyid). Imam Ahmad dikenal banyak memotivasi ribuan muridnya, hingga mereka mengambil teladan, ibrah dari akhlak mulia yang dipancarkan sang guru.

Terkait dengan itu, adz-Dzahabi pernah memberi kesaksian: “Suatu hari, hadirlah sekitar 5000 jamaah yang memadati ruang majlis ta’lim, mendengar wejangan Imam Ahmad. Di situ sekitar 500 orang mencatat apa-apa yang disampaikan beliau, sementara yang lainnya mendengar sambil mengambil contoh dari keluhuran budi pekerti Imam Ahmad.” (Siyar A’lamin Nubala: 21/373).

Apa yang dinyatakan adz-Dzahabi senada dengan murid Ibnu Tamiyah (Ibnu Qayyim) yang suatu kali menyatakan bahwa dirinya sering mendatangi kediaman sang guru, ketika ditimpa perasaan suntuk dan gundah.

“Jika kami terserang rasa panik dan takut, karena suatu prasangka yang berlebihan,” ujar Ibnu Qayyim, “kami mendatangi guru kami, Imam Ibnu Taimiyah, hingga kami mendapat sentuhan-sentuhan kalbu dan kehangatan dari beliau. Dengan hanya memandang wajahnya, terlebih ucapannya, hati yang semula sempit dan gundah, berganti dengan perasaan lapang, tegar dan penuh percaya diri.” (al-Wabil as-Sayyib, hal 48).

Ada sentuhan batin yang saling terhubung antara pikiran dan perasaan orang-orang shaleh, yakni orang-orang yang senantiasa berzikir dan mengingat kebesaran Allah Swt.

Tipikal semacam itu tak akan menuruti hawa nafsunya, hingga kebaikan dan kelembutan hatinya memancar bagi siapapun yang diajaknya bicara. Ia tak mau disibukkan oleh urusan-urusan duniawi yang melampaui batas.

Bahkan, ia pun tergolong tidak berlebihan (ghuluw) dalam urusan-urusan syariat.         Rasulullah ﷺ sendiri pernah mengungkap keteladanan sahabatnya, Abu Bakar as-Shiddiq, bahwa dalam dirinya banyak kebaikan yang perlu dicontoh para sahabat lainnya.

Di antara kelebihan Abu Bakar adalah, ia rajin melaksanakan puasa,  suka bertakziyah dan menengok orang sakit, juga suka menyantuni fakir-miskin.

Dalam ceramah-ceramahnya, Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym sering memperingatkan jamaahnya, bahwa perubahan akan sulit dimanifestasikan dalam kehidupan, jika setiap elemen masyarakat sibuk menuntut pihak lain agar berubah. Karena prinsip perubahan yang diridhoi Allah.

Ketika kita beritikad keras untuk memulainya dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan dimuali saat ini juga. Itulah i’tikad dalam sebuah perubahan.

Semoga Allah melembutkan hati dan kalbu kita dengan lebih banyak menyantuni fakir-miskin dan anak-anak yatim piatu. “Janganlah kita disibukkan dengan pergaulan di kalangan orang-orang atas yang hidupnya serba mewah dan glamor, kutip Aa Gym, sebab, hati bangsa ini akan keras membatu, jika para pemimpinnya memberi contoh dan teladan pada kemewahan dan kemegahan dunawi belaka.*/ Supadilah Iskandar, guru dan pendidik sastra dan jurnalistik di pedalaman Banten Selatan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlineketeladanan pemimpinpemimpin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 88 Warga China Ditangkap Polda Riu setelah Terlibat Pidana Pemerasan Video Mesum
Tulisan selanjutnya Puluhan Group WhatsApp Relawan Anies Baswedan Diretas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hikmah

Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba

5 Mei 2026 11:04
Jendela Keluarga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?

26 April 2026 14:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?