Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Pentingnya Etika Saat Berdakwah: Belajar Viralnya Kasus Miftah Maulana

Ahmad
Terakhir diupdate: 5 Desember 2024 14:06 2:06 pm
Ahmad
Dipublikasikan 5 Desember 2024 13:50
Bagikan
Menjaga lisan-dari banyak bicara
Bagikan

Mari kita jadikan insiden Gus Miftah dan tukang es sebagai pelajaran berharga untuk selalu menjaga lisan, tidak menyakiti hati orang lain, dan perlunua menjaga etika

Hidayatullah.com | MIFTAH Maulana Habiburrahman atau disapa jamaahnya dengan Gus Miftahsedang menjadi sorotan publik setelah video dirinya mengolok-olok seorang penjual es teh viral di media sosial.

Dalam video tersebut, dai yang dikenal dakwahnya di tempat lokalisasi ini menggunakan kata-kata kasar saat berinteraksi dengan penjual es teh di sebuah acara keagamaan di Magelang.

Walaupun niatnya gurau, tindakan ini menuai banyak kecaman dari berbagai pihak, termasuk politisi dan tokoh agama. Meski, Miftah telah meminta maaf atas insiden tersebut dan mengakui kekhilafannya, sampai saat ini di jagad media masih banyak yang mengecamnya.

Insiden ini memberikan kita pelajaran penting tentang bagaimana kita harus menjaga etika dan memperlakukan sesama, terutama mereka yang mungkin berada dalam kondisi sosial dan ekonomi yang kurang beruntung. Sering kali, kita mungkin tidak menyadari dampak dari perkataan dan tindakan kita terhadap orang lain.

Baca Juga

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan Sa’ad Ra. saat dirinya merasa lebih utama dan unggul dari orang yang di bawahnya secara sosial:

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki karena orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Bukhari).

Hadits ini mengingatkan kita bahwa keberkahan dan rezeki yang kita peroleh sebagian besar karena adanya orang-orang lemah dan miskin di sekitar kita.

Di samping itu, menghargai orang lain, termasuk yang lemah dan miskin, adalah bagian dari ketakwaan kita kepada Allah. Qatadah berkata:

وَلَا تَحْقِرَنَّ الْفُقَرَاءَ، لِيَكُنِ الْفَقِيرُ وَالْغَنِيُّ عِنْدَكَ سَوَاءً

“Jangan meremehkan orang miskin, jadikan orang miskin dan kaya sama di matamu.”

Sikap ini mengajarkan kita untuk tidak membeda-bedakan orang berdasarkan status sosial atau kekayaan mereka. Dalam pandangan Islam, setiap individu memiliki nilai dan kehormatan yang sama di hadapan Allah.

Rasulullah tidak pernah meremehkan seseorang hanya karena profesinya. Bahkan beliau pernah mengapresiasi. Orang yang sungguh-sungguh mencari nafkah untuk keluarganya, juga disebut fi sabilillah.

Diriwayatkan oleh At-Thabrani dari Ka’ab bin ‘Ujrah:

مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ، فَرَأَى أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِلْدِهِ وَنَشَاطِهِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ: لَوْ كَانَ هَذَا فِي سَبِيلِ اللهِ؟، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ»

“Seorang pria melewati Nabi ﷺ, lalu para sahabat Rasulullah ﷺ melihat kekuatan dan semangat pria tersebut. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seandainya ini dilakukan di jalan Allah.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘(Jika dia keluar berusaha untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka dia berada di jalan Allah. Jika dia keluar berusaha untuk orang tua yang sudah tua, maka dia berada di jalan Allah. Jika dia keluar berusaha untuk dirinya sendiri, agar tidak meminta-minta, maka dia berada di jalan Allah. Tetapi jika dia keluar berusaha untuk pamer dan kebanggaan, maka dia berada di jalan setan)’.” (HR. At-Thabrani).

Ini sangat jelas menunjukkan betapa mencari nafkah pun, seremeh apapun profesinya di mata manusia, kalau itu ditujukan untuk mencari nafkah keluarga, membantu orang tua, atau supaya tidak meminta-minta, maka dinilai Nabi sebagai fi sabilillah.

Ibn Mas’ud juga pernah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

رُبَّ ذِي طَمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ. لَوْ قَالَ: (اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ) لَأَعْطَاهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَلَمْ يُعْطِهِ مِنَ الدُّنْيَا شَيْئًا

“Banyak orang yang memakai dua pakaian lusuh tidak diperhatikan oleh manusia, namun jika ia bersumpah atas nama Allah, pasti Allah akan memenuhi sumpahnya. Jika ia berkata, ‘Ya Allah, aku mohon surga kepada-Mu,’ pasti Allah memberikannya surga dan tidak memberinya apa-apa dari dunia.”

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang mungkin diremehkan oleh manusia bisa jadi memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah karena keikhlasannya dalam berdoa dan bertakwa.

Kasus tersebut juga mengingatkan umat agar menjauhkan diri dari sifat sombong. Kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci dalam Islam.

Abu bakar Ra. pernah berkata:

لَا تَحْقِرَنَّ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ حَقِيرَ الْمُسْلِمِينَ عِنْدَ اللَّهِ كَبِيرٌ

“Jangan meremehkan seorang Muslim pun, karena Muslim yang hina di mata manusia bisa jadi besar di sisi Allah.”

Kesombongan membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain, padahal semua manusia pada dasarnya sama di hadapan Allah.

Para ulama zaman dahulu juga sangat berhati-hati dalam bersikap terhadap sesama. Abu Hazim mengatakan:

لَا تَكُونُ عَالِمًا حَتَّى تَكُونَ فِيكَ ثَلَاثَةُ خِلَالٍ: لَا تَبْغِ عَلَى مَنْ فَوْقَكَ، وَلَا تَحْقِرْ مَنْ دُونَكَ، وَلَا تَأْخُذْ عَلَى عِلْمِكَ دُنْيَا. وَقَالَ: كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى إِذَا لَقِيَ الْعَالِمُ مِنْهُمْ مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فِي الْعِلْمِ كَانَ يَوْمَ غَنِيمَةٍ، وَإِذَا لَقِيَ مَنْ هُوَ مِثْلَهُ ذَاكَرَهُ، وَإِذَا لَقِيَ مَنْ هُوَ دُونَهُ لَمْ يَزْهُ عَلَيْهِ.

“Engkau tidak akan menjadi seorang yang alim sampai dalam dirimu terdapat tiga sifat: tidak iri kepada orang yang di atasmu, tidak meremehkan orang yang di bawahmu, dan tidak menjual ilmumu untuk dunia.”

Sikap rendah hati dan saling menghargai adalah kunci untuk mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah.

Kejadian yang dialami Miftah ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga akhlak dalam berinteraksi dengan orang lain.

Rasulullah ﷺ selalu menunjukkan contoh terbaik dalam bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap semua orang, termasuk yang lemah dan miskin. Kita harus meneladani beliau dalam hal ini.

Menghormati dan tidak meremehkan orang lain, apalagi yang berada dalam kondisi sulit, adalah cerminan dari keimanan dan ketakwaan kita. Mari kita jadikan insiden ini sebagai pelajaran berharga untuk selalu menjaga lisan dan tindakan kita agar tidak menyakiti hati orang lain.

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan oleh Allah untuk bisa menghargai dan menghormati sesama dalam setiap situasi.*/Mahmud B Setiawan

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:etikaGus MiftahHeadlinelisanmenjaga etikamenjaga lisanPilihan Redaksitukang es
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PBNU: Indonesia Berutang Banyak dengan Jasa Muhammadiyah
Tulisan selanjutnya Moshe Ya’alon:  Prajurit ‘Israel’ Bukan Lagi Tentara Bermoral di Dunia  

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan

Berita
29 Agustus 2026 09:20
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?