Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Kisah Jenaka Bulan Puasa 2: Ketika Asy-Sya’bi Ditanya Masturbasi dan Caci Maki pada Awal Ramadhan

Ahmad
Terakhir diupdate: 20 Maret 2025 11:00 11:00 am
Ahmad
Dipublikasikan 4 Maret 2025 10:37
Bagikan
Bagikan

Ulama memiliki kisah-kisah jenaka dan humor cerdas menunjukkan memiliki pemahaman agama yang dalam menghadapi pertanyaan umat, termasuk masalah puasa Ramadhan, onani/masturbari bulan puasa, dll

Hidayatullah.com | DALAM sejarah Islam, para ulama tidak hanya dikenal karena keluasan ilmu dan kebijaksanaan mereka, tetapi juga karena kecerdasan dan selera humor yang tinggi.

Salah satu ulama yang terkenal dengan kecerdasannya dalam berdebat dan menjawab pertanyaan adalah Asy-Sya’bi (19-103 H/640-721 M).

Asy-Sya’bi adalah seorang ahli hadits dari kalangan tabi’in yang dikenal dengan ingatannya yang luar biasa. Ia lahir di Kufah, dan dikatakan bahwa ia tidak pernah mencatat apapun, melainkan mengingat semua yang didengarnya.

Asy-Sya’bi dikenal sebagai seorang ahli fikih, penyair, dan juga pernah diangkat sebagai hakim oleh Umar bin Abdul Aziz. Ia memiliki hubungan dekat dengan Abdul Malik bin Marwan, dan pernah menjadi utusannya ke Raja Romawi. (Az-Zirikli, al-A’lam, III/251).

Baca Juga

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan

Kisah-kisahnya yang jenaka tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat dengan hikmah dan sindiran tajam terhadap kebodohan. Dua kisah berikut ini menggambarkan bagaimana Asy-Sya’bi menghadapi pertanyaan-pertanyaan absurd yang diajukan kepadanya.

Pertama, Ketika Ditanya tentang Masturbasi di Bulan Ramadhan. Dalam kitab “Uyūn al-Akhbār” (II/64) karya Ibnu Qutaibah Ad-Dinawari, disebutkan bahwa suatu hari ada seorang seorang lelaki bertanya kepada Asy-Sya’bi:

رَجُلٌ اِسْتَمْنَىٰ فِي يَوْمٍ مِّنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، هَلْ يُؤْجَرُ؟

“Seorang lelaki melakukan istimna’ (masturbasi/onani) di siang hari bulan Ramadhan, apakah dia mendapat pahala?”

Jawaban yang diberikan pun sangat tajam dan penuh sindiran: “Apakah dia tidak puas jika bisa lolos (dari hukuman) kepala dibalas dengan kepala?”

Kelucuan dalam kisah ini terletak pada beberapa hal: Pertama, Pertanyaannya yang absurd, di mana seseorang justru berharap pahala dari sesuatu yang jelas-jelas dilarang dalam syariat.

Kedua, sindiran dalam jawaban, yang mengingatkan bahwa dosa itu seharusnya cukup untuk ditakuti, bukan malah diharapkan pahala darinya.

Ketiga, ironi pemahaman agama, di mana si penanya seolah memiliki pemikiran bahwa segala sesuatu yang dilakukan di bulan Ramadhan bisa mendatangkan pahala, tanpa membedakan antara yang benar dan yang salah.

Keempat, jawaban itu mengandung pelajaran besar: bahwa seseorang seharusnya bersyukur jika masih diberi kesempatan bertobat daripada berharap pahala dari perbuatan dosa. Ini adalah contoh klasik bagaimana seorang ulama menggunakan humor sebagai sarana pendidikan.

***

Dalam Mazhab Hanafi yang mu’tamad (kuat), tindakan istimna’ (masturbasi) dianggap membatalkan puasa dan mengharuskan qadha’ (penggantian puasa).

Pandangan ini juga dipegang oleh Mazhab Maliki, Madzab Syafi’i, dan Mandzab Hanbali, tanpa ada perbedaan pendapat di antara mereka.

Ibnu Qudamah dan An-Nawawi menyatakan bahwa jika seseorang melakukan istimna‘, maka puasanya batal tanpa adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.

Beberapa ulama Hanafi seperti Ibnu Abidin dan Ibnu Najim juga menegaskan bahwa jika seseorang melakukan istimna hingga keluar mani, maka ia harus mengganti puasanya. Meskipun ada beberapa pendapat yang berbeda, namun pandangan yang dipegang mayoritas ulama dan dijadikan rujukan adalah bahwa istimna membatalkan puasa.

Kedua, Ketika Ditanya tentang Caci Maki di Awal Ramadhan. Dalam kisah lain, seorang pria dari kaum نوكى (naukā’), yang dikenal sebagai orang-orang kurang cerdas, masuk ke rumah Asy-Sya’bi saat beliau sedang duduk bersama istrinya.

Pria itu dengan polos bertanya: “Siapa di antara kalian yang (namanya) Asy-Sya’bi?” Asy-Sya’bi, yang terkenal dengan kecerdikannya, segera menjawab sambil menunjuk istrinya: “Ini dia!”

Kelucuan pertama muncul dari keanehan pertanyaan pria tersebut. Dengan hanya ada dua orang di dalam rumah—seorang laki-laki dan seorang perempuan—seharusnya mudah bagi siapa pun untuk mengenali Asy-Sya’bi.

Jawaban Asy-Sya’bi adalah sindiran halus bahwa si penanya terlalu bingung untuk memahami situasi yang sederhana.

Setelah itu, pria yang sama melanjutkan dengan pertanyaan lain yang tidak kalah aneh: “Apa hukumnya seseorang yang mencaci maki saya pada hari pertama bulan Ramadhan? Apakah dia mendapat pahala?”

Asy-Sya’bi menjawab dengan santai: “Jika dia mengatakan kepadamu, ‘Wahai orang bodoh,’ maka aku berharap dia mendapat pahala.” (Ibnu Abd Rabbih, al-‘Aqdu al-Fariid, 1404: VII/167).

Kelucuan lain dalam kisah ini terletak pada beberapa hal: Pertama, Ketidaktahuan si penanya, yang tampaknya salah memahami konsep pahala dan dosa. Jawaban cerdas Asy-Sya’bi, yang secara halus mengisyaratkan bahwa caci maki itu mungkin memang pantas diterima oleh si penanya.

Kedua, Ironi dalam hukum syariat, di mana orang yang seharusnya menghindari kebodohan justru membuat pertanyaan yang semakin menunjukkan kebodohannya.

Ketiga, Jawaban ini sekaligus memberikan pelajaran bahwa sebelum mempertanyakan sesuatu dalam agama, seseorang harus memiliki pemahaman yang cukup agar tidak mempermalukan dirinya sendiri.

Sebagai tambahan, terkait menghadapi celaan orang di bulan Ramadhan, ada arahan bijak dari Nabi Muhammad ﷺ. Beliau pernah bersabda; “Puasa itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah: ‘aku sedang puasa’ beliau mengulang ucapannya dua kali.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Muslim disebutkanl; “Apabila salah seorang dari kalian berpuasa di suatu hari, maka janganlah ia berkata-kata kotor dan berbuat kesia-siaan. Bila ia caci seseorang atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, “Sesungguhnya saya sedang berpusa.”

Dengan tidak meladeni orang yang mencaci maki, mencela bahkan mengajak bertengkar, maka dia akan mendapat pahala. Seorang yang berpuasa seharusnya bisa mengendalikan amarahnya.

Dari dua kisah ini, kita dapat melihat bahwa humor dalam Islam bukan sekadar bahan tertawaan, tetapi juga memiliki nilai pendidikan.

Berikut beberapa pelajaran yang dapat diambil:

Pertama, pentingnya memahami agama dengan benar. Banyak orang yang bertanya tanpa dasar ilmu yang cukup, sehingga bukannya mendapatkan jawaban yang bermanfaat, mereka justru menjadi bahan tertawaan.

Kedua, kecerdasan dalam menjawab lebih efektif daripada marah. Asy-Sya’bi tidak pernah membalas kebodohan dengan kemarahan, tetapi dengan sindiran cerdas yang membuat orang berpikir. Ketiga, Gunakan humor sebagai alat edukasi. Dalam berdakwah, sering kali sindiran yang halus lebih efektif daripada teguran langsung.

Keempat, di era digital seperti saat ini, kisah-kisah seperti ini masih relevan. Banyak orang yang mencari jawaban atas hal-hal sepele atau tidak masuk akal, dan sering kali mereka berharap agama akan menyesuaikan diri dengan keinginan mereka, bukan sebaliknya.

Maka, humor cerdas seperti yang ditunjukkan oleh Asy-Sya’bi adalah cara yang baik untuk mengajarkan hikmah tanpa membuat orang tersinggung.

Kisah-kisah jenaka dalam Islam seperti ini menunjukkan bahwa para ulama tidak hanya memiliki pemahaman agama yang dalam, tetapi juga kecerdasan emosional yang tinggi dalam menghadapi orang-orang yang datang dengan berbagai pertanyaan unik.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Awal Ramadhanbulan puasaHeadlineKisah JenakaMasturbasi Ramadhanonani RamadhaRamadhan 1446 H
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Situs Arkeologi dan Warisan Budaya Palestina di Gaza Israel’ Sengaja Menghancurkan Situs Arkeologi di Gaza untuk Menghapus Sejarah
Tulisan selanjutnya Sekitar 40 Persen Penduduk Italia Kelebihan Berat Badan dan Obesitas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hikmah

Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba

5 Mei 2026 11:04
Jendela Keluarga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?

26 April 2026 14:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?