Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Mengaji Itu Mengkaji, Bukan Hanya Membaca

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Juli 2025 15:54 3:54 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Juli 2025 18:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com – Di tengah umat Islam Indonesia, kata “mengaji” sangat akrab di telinga. Bahkan, hampir semua orang tua menyuruh anaknya, “Nak, pergilah mengaji.” Tetapi tahukah kita bahwa makna “mengaji” jauh lebih dalam daripada sekadar membaca huruf demi huruf Al-Qur’an?

Daftar isi
  • Makna Bahasa: Mengaji dari Akar Kata “Kaji”
  • Mengapa Perlu Dikaji?
  • Tradisi Mengaji di Indonesia: Dari Baghdadiyah hingga Tafsir
  • Mengaji yang Terlupakan
  • Menghidupkan Kembali Tradisi Mengkaji
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Makna Bahasa: Mengaji dari Akar Kata “Kaji”

Secara etimologi, kata “mengaji” berasal dari kata dasar “kaji” yang berarti mengulas, menelaah, membahas, atau meneliti. Kata ini menunjukkan suatu proses berpikir mendalam terhadap suatu ilmu atau teks.

Jadi ketika kita mengatakan “mengaji Al-Qur’an,” sesungguhnya kita sedang berbicara bukan hanya tentang membaca secara lafazh, tetapi juga mengupas maknanya, menelaah isinya, serta memahami pesan-pesan Allah yang terkandung di dalamnya.

Mengaji berarti mengkaji Al-Qur’an.

Mengapa Perlu Dikaji?

Sebagian besar umat Islam Indonesia tidak memahami bahasa Arab, bahasa wahyu Al-Qur’an. Maka, sekadar membaca tanpa memahami makna akan membuat kita tidak mengerti apa yang sebenarnya Allah ingin sampaikan.

Baca Juga

Pintar Saja Tidak Cukup, Ilmu Harus Bersendi Akhlak
Jihad Santri di Era Modern
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat

Padahal dalam banyak ayat, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk dipahami:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”
(QS. Shad: 29)

Allah tidak hanya memerintahkan kita membaca, tetapi juga mentadabburi, yaitu mendalami, memikirkan, dan mengambil pelajaran.

Tradisi Mengaji di Indonesia: Dari Baghdadiyah hingga Tafsir

Sebelum metode Iqra populer, umat Islam di Nusantara sudah mengenal metode Baghdadiyah. Metode ini dikenal dalam pengajaran membaca Al-Qur’an di pesantren, surau, dan langgar. Prosesnya dimulai dari:

  1. Pengenalan huruf hijaiyah satu per satu, dari alif sampai ya.
  2. Belajar harakat, seperti fathah (a), kasrah (i), dan dhammah (u).
  3. Penyusunan suku kata, seperti ba-bi-bu, ta-ti-tu, dan seterusnya.
  4. Penggabungan kata dan ayat, hingga murid bisa membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Tapi yang paling berharga dari metode tradisional ini adalah bahwa setelah bisa membaca, santri dibimbing untuk mengkaji isinya. Surat Al-Fatihah, misalnya, dibaca perlahan, lalu guru menjelaskan:

“Alhamdulillah” artinya segala puji bagi Allah.

“Rabbil ‘aalamiin” artinya Tuhan semesta alam.

Setiap lafazh dibahas maknanya, dikaitkan dengan akidah, ibadah, dan akhlak. Bahkan dalam beberapa pesantren, satu ayat bisa dibahas berjam-jam.

Inilah hakikat mengaji yang sejati: membaca dan langsung mengkaji.

Mengaji yang Terlupakan

Sayangnya, makna “mengaji” kini mulai bergeser. Banyak yang mengira cukup bisa membaca tanpa tahu artinya. Padahal; mengaji tanpa memahami bagaikan membaca surat tanpa mengerti isinya. Mengaji tanpa penghayatan menjadikan hati kering dan akal kosong dari hidayah.

Tak heran jika ada yang fasih membaca, tetapi akhlaknya jauh dari tuntunan Al-Qur’an. Karena bacaan belum menyentuh pemahaman, dan pemahaman belum membuahkan pengamalan.

Menghidupkan Kembali Tradisi Mengkaji

Kini saatnya kita kembali pada semangat mengaji yang benar:

  1. Ajarkan anak-anak bukan hanya membaca, tapi juga mulai mengenal arti.
  2. Perbanyak majelis tafsir Al-Qur’an, bukan hanya tilawah berjamaah.
  3. Gunakan terjemah dan tafsir sebagai sarana memahami Al-Qur’an.
  4. Kembangkan tradisi diskusi Qur’ani di rumah, masjid, sekolah, dan majelis taklim.

Penutup: Mengaji untuk Hidup dalam Cahaya Qur’an

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mengkaji Al-Qur’an — bukan hanya membacanya, tetapi juga mengamalkannya secara sempurna. Bahkan ketika ditanya tentang akhlak Rasul, Aisyah menjawab:

“Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Maka, mengaji yang sejati akan mengantar kita menjadi hamba yang benar-benar hidup dalam petunjuk-Nya, bukan hanya yang pandai melafalkan-Nya.*Ahmad Firdaus

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-QuranHeadlineliterasimembacamengajiPendidikanPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Belanda masukkan Israel ke dalam daftar ancaman keamanan nasional Belanda Anggap ‘Israel’ sebagai Ancaman Keamanan Nasional
Tulisan selanjutnya Warga Palestina di Gaza yang kelaparan 1 dari 3 Orang di Gaza Sudah Berhari-Hari Tidak Makan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Menteri Ekstremis Zionis Terobos Masjidil Aqsha Jelang Pemilu ‘Israel’

Berita
27 Oktober 2026 14:42
‘Israel’ Lancarkan Penggerebekan di Seluruh Tepi Barat, Usir 5.000 Warga Palestina
Koalisi Pimpinan Arab Saudi Umumkan Tembak Jatuh Drone Houthi di Mekkah
Parlemen Mesir Restui Dukungan Militer untuk Arab Saudi
LPH Hidayatullah Sambangi BPJPH, Bahas Penguatan Regulasi, Kompetensi dan Integritas Auditor

Terbaru

  • KH Cholil Nafis Raih Penghargaan Tokoh Syariah 2026
  • Muhammadiyah Tawarkan Pendampingan Hukum untuk Kasus di Ponpes Hamalatul Qur’an
  • Auditor Halal sebagai Mata Rantai Kebaikan dalam Pengabdian
  • LBH Hidayatullah Kecam Penggerebekan Sewenang-Wenang Aparat di Pesantren Hamalatul Qur’an Sukoharjo
  • Prancis dan Chad Bina Ulang Hubungan Militer
  • Pintar Saja Tidak Cukup, Ilmu Harus Bersendi Akhlak
  • Korea Selatan Pidanakan Siswa yang Curang dengan Kacamata Pintar
  • Tersangka Penembakan di Pinggiran Paris Menarget Orang Berpenampakan Muslim atau Afrika
  • Akademisi Swedia Dilarang Masuk Inggris Jelang Penampilan Bersama Pendiri Palestine Action
  • LPH Hidayatullah Sambangi BPJPH, Bahas Penguatan Regulasi, Kompetensi dan Integritas Auditor

Mungkin Anda Juga Suka

Lentera Hidup

Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!

30 September 2026 19:34
Sejarah

Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam

29 September 2026 12:00
Hikmah

Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi

29 September 2026 08:30
Kajian

Al-‘Aqabah: Jalan Terjal Menuju Peradaban Fitrah

15 September 2026 13:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?