Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Seharusnya Seorang Muslim yang Kaya dan Berkuasa dalam Melihat Harta

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 April 2013 06:23 6:23 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 April 2013 06:23
Bagikan
Bagikan

KALAU ada orang berperkara karena rebutan harta itu biasa. Tetapi kisah ini sangat luar biasa. Ada dua orang berperkara soal harta tapi bukan untuk saling rebut, tetapi saling memberikan, karena merasa bukan haknya.

Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan termaktub dalam Kitab Shahih Imam Muslim.

“Ada seseorang membeli ladang dari orang lain. Kemudian orang itu menemukan sebuah pundi-pundi berisi emas dari ladang tersebut. Pembeli itu mengembalikan pundi-pundi itu ke si penjual. Sedang si penjual menolak karena merasa bukan miliknya. Katanya: “Ambillah! Tapi pembeli itupun menolak dengan berkata: ‘Aku hanya membeli ladang. Bukan membeli emas itu.”

Keduanya tetap tak mau menerima harta itu. Karena si penjual pun menyatakan bahwa dia menjual ladang dengan segala isinya. Akhirnya mereka pergi kepada seorang yang sholeh untuk membantu memecahkan persoalan ini.

Hakim yang ditunjuk mereka itu kemudian bertanya pada masing-masing, apakah mereka mempunyai anak. Ternyata ada. Yang satu mempunyai anak laki-laki, sedang yang lain mempunyai anak perempuan. Hakim kemudian berkata: “Kawinkan keduanya. Pakailah pundi itu sebagai biaya untuk menyelenggarakan pernikahan itu.”

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Kisah tersebut benar-benar luar biasa. Keduanya tidak mau menerima harta yang bukan haknya, bukan hasil jerih payah mereka. Keduanya justru takut jika itu malah menggoyahkan, mengancam akhlak dan moral, serta mengganggu ketentraman jiwanya, yang merupakan inti dan hakikat kebahagiaan hidup.

Demikianlah seharusnya seorang Muslim melihat harta. Tiak asal dapat, tapi diperhatikan dulu, apakah harta itu hak atau tidak. Sebab jika bukan hak, harta itu malah akan merusak kekayaan sejati kita berupa iman dan ketentraman jiwa. Lihatlah para koruptor, sekalipun uang mereka banyak, tapi mereka tak tenang bahkan kelak akan disiksa karena makan harta yang bukan haknya.

Tauladan Sahabat Nabi yang Kaya

Ada dua sahabat Nabi yang kaya raya, yakni Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Keduanya tidak menjadi sombong karena harta, apalagi serakah untuk terus menambah koleksi hartanya. Malah gelisah, jika harta yang berlebihan itu yang sejatinya amanah Allah tidak dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, keduanya selalu memanfaatkan harta yang dimiliki untuk kepentingan Islam dan kebahagiaan umatnya. Menjadi sesama Muslim agar menjadi orang-orang yang mandiri dan terhormat, sehingga umat Islam menjadi unggul di atas umat-umat yang lain.

Utsman bin Affan radhiyallahu anhu pernah meringankan kesulitan penduduk Madinah. Saat itu musim kemarau melanda. Kebutuhan air meningkat sementara tidak ada persediaan air lagi. Satu-satunya cara untuk bisa mendapat air adalah dengan membeli sumur dari seorang Yahudi yang kejam.

Melihat situasi tersebut Rasulullah bersabda, “Siapa kiranya yang sudi membantu meringankan beban kaum Muslimin ini?”

Mendengar demikian, spontan Utsman bin Affan membeli sumur itu dari tangan si Yahudi dengan harga yang sangat mahal. Utsman tidak pernah merasa rugi dengan keputusan tersebut. Karena dalam pemahamannya, harta bukan untuk disimpan tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan umat.

Demikian pula halnya dengan Abdurrahman bin Auf. Ia tidak pernah tanggung dalam memberikan harta untuk kemaslahatan umat. Pernah ia memberikan 700 ekor unta yang dimilikinya beserta segala muatannya untuk kepentingan umat Islam. Setiap hari Abdurrahman bin Auf memikirkan hartanya jangan sampai ada yang tidak termanfaatkan di jalan Allah.

Jadi, seorang hartawan tidak seharusnya jatuh dalam kenistaan karena menganggap harta yang disimpan lebih membahagiakan daripada dibelanjakan di jalan Allah. Sungguh tercela seorang hartawan yang dalam hidupnya memilih meribakan uang, memonopoli perdagangan, dan mempermainkan harga serta tenaga kaum lemah yang menimbulkan keresahan masyarakat. Apalagi memeras tenaga buruh, hingga mereka tidak dapat menunaikan kewajiban agamanya.

Keteladanan Umar bin Abdul Aziz

Selain orang kaya, penguasa termasuk orang yang memiliki kelapangan harta. Tetapi lain halnya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia tak pernah memanfaatkan harta yang bukan haknya untuk kepentingan diri dan keluarganya.

Suatu hari khalifah meminta pelayannya untuk memanaskan air untuknya, supaya ia bisa berwudhu di hari yang sangat dingin, dengan cepat si pelayan kembali setelah memanaskan airnya, lalu khalifah bertanya, “Di mana kamu panaskan air secepat itu?

Pelayannya pun menjawab, “Aku memanaskannya di dapur umum”. Dapur umum didirikan Umar untuk memenuhi hajat kaum Muslimin yang dibiayai dari Baitul Mal. Khalifah Umar pun memarahi pelayannya atas perbuatannya itu.

Khalifah pun tak menyentuh sedikitpun air panas itu sampai pelayan itu pergi untuk membayar harga dari sekedar menumpang memanaskan air.

Jadi, tidak seharusnya seorang penguasa memanfaatkan jabatannya sebagai alat memperkaya diri dan keluarga. Bergaya hidup mewah, boros dan kikir. Karena bagaimanapun, kewenangan yang dimiliki untuk memanfaatkan harta rakyat sekalipun tidak diperiksa oleh pengadilan, kelak pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Oleh karena itu dalam kitabnya Ihya Ulumuddin Imam Ghazali berpesan agar seorang penguasa atau pejabat negara harus berhati-hati dengan harta yang bersumber dari kas negara yang dikumpulkan dari pajak dan hasil ekspor. Karena hakikatnya harta itu adalah untuk kepentingan rakyat bukan penguasa.

Keutamaan Dermawan dan Tercelanya Kekikiran

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berkata, “Ketahuilah bahwa jika kamu tidak memiliki harta, maka sikapilah dengna qana’ah. Sedangkan jika kamu memilikinya, maka sikapilah dengan mendahulukan orang lain, dermawan dan tidak pelit.

Kemudian Imam Ghazali mengutip hadits Nabi, “Sifat dermawan adalah salah satu pohon dari pepohonan surga yang dahannya terjuntai hingga ke tanah. Barangsiapa yang mengambil sehelai dahannya, maka dahan itu akan menuntunnya ke surga”.

Artinya, Muslim yang mendapat anugerah harta berlebih semestinya membagikan hartanya untuk kepentingan umat Islam. Bukan malah menyimpan dan terus menerus berusaha menambahnya tanpa peduli terhadap sesama alias kikir atau bakhil.

Siapa yang kikir tentu keberuntungan akan menjauh darinya.

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS: Al Hasyr [59]: 9).

Dan, siapa yang tetap bakhil, kelak akan merasakan siksa yang memberatkan.

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (QS: Ali Imron [3]: 180).

Sifat kikir orang kaya dan penguasa akan berakibat pada kekacauan atau kerusuhan sosial. Rasulullah bersabda, “Waspadalah dari sifat kikir. Sesungguhnya orang-orang sebelummu binasa karenanya. Sifat kikir membuat mereka saling membunuh dan menghalalkan apa yang diharamkan bagi mereka.” (HR. Ahmad).*/Imam Nawawi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Zionis Tangkap Nenek Warga al Quds Saat Masuk Masjid
Tulisan selanjutnya Mendagri Kuwait Didakwa Teken Kontrak dengan Perusahaan Zionis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?