Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi
KUFUR menurut bahasa, artinya menutupi. Pengertian ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala, yang artinya, “Seperti hujan yang tanaman-tanamannya membuat para kuffar menjadi kagum.” (QS: Al-Hadid:20). Sedangkan menurut syariat, kufur adalah tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.
Kita sering mendengar istilah kufur nikmat. Dalam surat An Nahl, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;
ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلَّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ. وَلَقَدْ جَآءِهُمْ رَسُوْلٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوْهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُوْنَ
“Allah telah memberi contoh (perumpamaan) sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezekinya datang ke negeri itu dari setiap penjuru dengan baik, tetapi penduduk negeri itu kafir kepada nikmat-nikmat Allah. Kemudian Allah timpakan kepada mereka derita kelaparan dan ketakutan karena dosa-dosa mereka. Allah jadikan negeri itu sebagai contoh buruk bagi segenap manusia. Sungguh telah datang kepada kaum kafir seorang rasul dari bangsa mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya. Oleh karena kezaliman mereka itu, mereka ditimpa azab sampai binasa.” [QS: al-Nahl [16]: 112-113]
Dalam ayat di atas, kata Sayyid Quthb (w. 1966), Allah memberikan contoh tentang negeri Makkah dan penduduknya yang musyrik: manusia-manusia yang kufur kepada nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka.
Allah Subhanahu Wata’ala telah menjadikan al-Bait (Ka’bah) berada di dalamnya. Negerinya dijadikan oleh Allah sebagai ‘Tanah Haram’: siapa saja yang masuk ke dalamnya akan aman dan tenteram.
Ia tidak akan disentuh oleh tangan-tangan jahat, meskipun dia seorang pembunuh. Tidak ada seorang pun yang mampu menyakitinya, karena dia tengah berada di sisi “Rumah Allah” yang Maha Mulia.
Orang-orang pada berseliweran di seputar Ka’bah sementara penduduk Makkah menjaga dan melindunginya secara aman dan tenteram.
Rezeki yang datang kepada mereka pun begitu mudah dan baik. Datang dari setiap penjuru bersama dengan para jamaah haji dan kafilah (pedagang) yang merasa aman pula. Padahal mereka tengah berada di tengah lembah yang tandus, gersang tanpa tumbuh-tumbuhan. Lembah yang tandus dan gersang itu selalu saja “dihujani” oleh berbagai buah-buahan. Sehingga penduduk Makkah benar-benar menikmati rasa aman dan rasa kemudahan, sejak didoakan oleh nabi Ibrahim sang “sahabat” Allah (al-khalīl).
Namun ketika seorang utusan Allah (rasūl) dari kalangan mereka sendiri hadir. Yang mereka kenal sebagai sosok yang ‘jujur’ dan ‘terpercaya’ (amīn) dan tidak ada satu cela pun yang mereka ketahui muncul dari pribadinya. Serta ia sebagai karunia (rahmat) untuk seluruh alam,umatnya justru mendustakan.
Mereka merekayasa ketidak-benaran terhadap diri rasul. Bahkan mereka menurunkan berbagai bentuk siksaan kepadanya dan kepada siapa saja yang menjadi pengikut setianya. Itulah yang disebut sebagai manusia zalim.
Contoh atau perumpamaan dibuat oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al Quran Surat 16: 112-113 itu amat cocok buat mereka.
Akhir dari contoh itu berada di hadapan mereka. Yaitu perumpamaan negeri yang aman dan tenteram: rezekinya datang dengan baik dan mudah dari setiap penjuru, lalu negeri itu kufur terhadap nikmat seluruh nikmat-nikmat itu dan mendustakan rasul-Nya. Maka Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan azab kepada mereka, karena mereka telah berlaku zalim.
Allah Subhanahu Wata’ala mengumpamakan kelaparan (al-jū‘) dan ketakutan (al-khauf) dengan pakaian (libās) dan menjadikan mereka merasakan pakaian itu, karena kata merasakan (menikmati) lebih dalam bekasnya dalam perasaan ketimbang baju itu hanya disentuh kulit.
Dalam ungkapan itu pula masuk berbagai interaksi perasaan, sehingga derita lapar dan takut: sengatannya dan pengaruhnya dalam jiwa mereka begitu dahsyat.
Makkah dan Zamrut Khatulistiwa
Allah memang telah memberikan berbagai nikmat kepada manusia, lalu mereka mengingkarinya dan tidak mensyukurinya, bahkan tidak melaksanakan hak Allah di dalamnya. Mereka malah menggunakan nikmat itu dalam berbuat maksiat kepada-Nya. Padahal maksiat itu menghapuskan kenikmatan.
Dan orang yang melakukan maksiat sejatinya tengah menyeret dirinya ke dalam akibat yang sangat mengerikan dan akhir hidup yang jelek. Maka, ikatlah nikmat itu dengan cara mensyukurinya dan menunaikan hak Allah di dalam nikmat itu.
Negeri yang disebut dalam ayat di atas bisa saja maksudnya adalah Makkah. Namun bisa juga namanya negeri apa saja: negeri yang tengah stabil, aman dan tenteram. Negeri yang aman dan berbagai rongrongan pihak asing (luar). Dan rasa aman-tenteram merupakan nikmat paling agung dari Allah untuk negeri-negeri dan manusia-manusia di dalamnya.
Negeri itu memiliki pendukung kehidupan secara mandiri: tidak butuh kepada negeri lainnya. Kehidupan di dalamnya begitu stabil dan menyenangkan. Dan di sini menjadi jelas bahwa rasa aman dan tenteram merupakan ‘rahasia’ kebahagiaan hidup dan stabilitasnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam memberikan gambaran akan kehidupan dunia kepada kita,
“Barangsiapa yang bangun di pagi hari dalam keadaan sehat badannya, jiwanya tenteram, dan menemukan makanan untuk hari itu, ia seolah-olah telah memiliki seluruh kebaikan dunia.” (HR. Abū Nu‘aim dan Ibn Hibbān dari hadits Abū al-Dardā. Diriwayatkan pula oleh al-Haitsami dalam Majma‘ al-Zawā’id dan al-Thabrānī).
Biasanya, manusia keluar untuk mencari rezeki. Tetapi di dalam negeri itu kasusnya berbeda: rezeki yang mendatanginya. Di sini menjadi tepat jika negeri itu namanya Makkah. Tetapi rezeki yang mudah dan luas itu dijadikan oleh penduduknya untuk “menabrak” manhaj (jalan dan aturan) Allah dan syariat-Nya. Akibatnya: mereka menikmati “pakaian” kelaparan dan ketakutan akibat perbuatan mereka sendiri.
Sekarang, mari kita beralih ke Indonesia. Negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang dikandung di dalamnya begitu luar biasa. Sangat banyak dan berlimpah. Julukannya pun zamrud khatulistiwa. Bahkan lebih dari itu, gemah ripah loh jinawi, toto tenterem kerta raharjo: negeri yang karya raya, aman dan tenteram.
Toh masyarakat dan rakyatnya yang hidup di bawah “garis” kemiskinan masih banyak. Padahal dalam aturan dan undang-undang negara diatur dengan jelas dan tegas: Fakir-miskin dan anak-anak terlantara dipelihara oleh negara.
Kenyataannya benar-benar jauh panggang daripada api. Jangan-jangan negeri ini tengah mengenakan pakaian kelaparan, kecemasan, ketakutan, haus dan lapar. Wallahu ‘alam.*