Hidup adalah kesempatan. Sungguh, kesempatan itu tidak datang dua kali. Maka, pergunakan segala kesempatan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada kita untuk berbuat kebaikan.
Sebagaimana, Salim bin Abdullah yang pandai memanfaatkan kesempatan tatkala berjumpa dengan beberapa sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam. Perjumpaan itu dimanfaatkan Salim untuk menuntut ilmu di Masjid Nabawi, tempat mereka mengajar perkara-perkara tentang syariat Islam.
Begitu pula, semoga Allah menjadikan kita seperti Salim, seorang yang pandai membaca peluang dan memanfaatkan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Dan semoga Allah meluruskan niat kita untuk senantiasa bisa memanfaatkan kesempatan demi memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan.
Sebab, baik kita sadari atau tidak, seringkali kita bertindak tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Hingga akhirnya menyebabkan kita menyesal karena membiarkan kesempatan untuk berbuat kebaikan dengan berlalu begitu saja.
Sebagai contoh, saat kita tinggal di lingkungan yang mudah menjumpai seorang ustadz namun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk menimba ilmu agama secara maksimal. Kemudian, renungkan dengan keadaan saudara-saudara kita yang berada di derah-daerah terpencil (pedalman,red).
Notabene, justru mereka haus akan ilmu, mendambakan kehadiran seorang ustadz atau guru yang tulus bisa membimbing keislaman mereka. Maka, saat kedatangan seorang ustadz mereka begitu bahagia meski hanya beberapa waktu saja bisa bertemu bahkan bersama.
Sudah banyak cerita yang datang dari para ustadz yang pulang dari safari dakwahnya di daerah pedalaman, ketika ustadz hendak kembali, pendudukan pedalaman pun meneteskan air mata karena sedih dan merasa berat serta kehilangan saat melepas kepergiaan sang ustadz.
Nah, manusia seringkali baru merasakan betapa besarnya nikmat Allah setelah nikmattersebut darinya dicabut. Ada sebuah kata-kata hikmah, “Kesehatan bagai mahkota di kepala orang-orangs sehat, hanya orang-orang sakit yang bisa melihat mahkota itu.”
Dr. Salwa al-udhaidhan berkata, “Ketika kesempatan datang mengetuk pintumu, janganlah terlambat untuk membuka lantas menerimanya, sebelum kesempatan itu berpaling dan mencari orang lain yang pandai melayaninya.” (lihat hina takbu…inhadh, halaman 83).
Mantan Menteri Pendidikan Saudi Arabia, Dr. Muhammad al-Rusyaid pernah menuliskan sebuah nasehat berharga di dalam akun twitternya beberapa waktu sebelum ajal menjemput. Nasehat tersebut teruntai dalam paragraf-paragraf berikut:
“Ruang Isolasi (ICU) dipenuhi dengan fasilitas seperti baju, pakaian-pakaian yang baru, kamar mandi yang bersih, dan perawatan yang intensif. Tetapi ada dua hal yang tidak didapatkan, kesehatan dan kebebasan!
Di ruang isolasi, saya seperti dipenjara! Saya pun seperti kesulitan-kesulitan yang dialami para penghuni sel (penjara,red). Saya menyadari kebodohan diri ini yang menganggap mereka mudah beradaptasi terhadap situasi dan kondisi. Sungguh, betapa agungnya pejuang-pejuang kebenaran yang sabar menghabiskan waktu lama tinggal di balik jeruju besi!
Berempatilah kalian terhadap orang-orang yang dipenjara baik mereka bersalah ataupun tidak, juga doakanlah kebaikan untuk mereka! Yakinlah bahwa terisolasinya mereka dari dunia luar itu ‘membunuh jiwa’. Kesendirian menimbulkan rasa was-was luar biasa. membukakan pintu depresi, menyebabkan penyakit fisik dan mental!
Warna putih yang mendominasi rumah salit ini tidak hanya mengingatkanku akan putihnya kain kafan. Tetapi, warna putih ini yang membuatku selalu ingat noda-noda hitam dalam kehidupanku di masa lalu. Dan karena warna puti itupula yang memotivasi diri untuk membersihkan segala noda hitam yang terpendam di dalam jiwa ini.
Di ruang isolasi ii, saya banyak waktu untuk merenung. Saya hanya mendengar suara muadzin dan panggilan para perawat, suara lainnya tidak ada yang saya dengar. Karena itu, setiap manusia butuh atau harus bisa menggunakan sebagian waktunya untuk menyendiri, merenung dan bertafakur. Cobalah! (Dinukil dari buku ‘Percikan Hikmah dari Para Tabi’in’ karya Fariq Gasim Anuz)
Bersambung…