Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Keyakinan yang Menepis Keraguan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Oktober 2015 10:15 10:15 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Oktober 2015 10:14
Bagikan
Bagikan

PENGEMBARAAN manusia mencari Tuhan bisa dikata seumur dengan penciptaan manusia ke dunia. Pencarian itu bermula sejak manusia ada dan akan terus berlajut hingga berakhirnya kehidupan dunia.

Sebut saja, Karen Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, Friedrich Nietzshe dalam La Gaya Scienza, dan beberapa contoh lainnya.

Para ulama dan ilmuwan Islam juga tak henti membahas persoalan ketuhanan ini, mereka tak henti menangkal syubhat-syubhat akidah serta menerangkan kaidah dan landasan tauhid dalam memahami Tuhan.

Keberadaan manusia, alam dan seisinya mengusik akal untuk mengetahui siapa pencipta, desainer di balik keberadaannya.

Akal manusia yang rendah berusaha mengusik dan mengungkapkannya dalam kata dan menjelaskannya dengan segala hal yang dapat dilihat mata, didengar telinga dan diraba oleh kulit manusia. Ya, manusia berusaha menjadikan Tuhan yang ghaib menjadi konkrit, jelas dilihat mata kepala.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Seolah memutar masa, kini manusia kembali ke gerbang masa jahiliyah. Ketika manusia mengingkari keberadaan Allah dan menolak petunjuk-Nya. Sebaliknya hawa nafsu menjadi lentera dalam kehidupan mereka yang justru kian menyesatkan perjalanan manusia.

Tak heran, yang lahir dari mulut mereka adalah ungkapan busuk mengenai Tuhan. Mulai dari ungkapan “Tuhan Membusuk, “Menggugat keberadaan Tuhan”, “Tuhan telah mati”, dan sebagainya.

Sejatinya masa demikian lebih jahiliyah dari yang pernah terjadi di masa jahiliyah yang menimpa bangsa Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Sebab mereka dahulu tak mengenal ilmu sedang kini ilmu pengetahuan begitu mudah didapatkan dan dicari.

Sementara ilmu yang sepatutnya menjadi sarana mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah, justru saat ini seolah kian menjauhkan mereka dari Allah.

Inilah kesalahan sekaligus kelemahan terbesar akal manusia. Kala manusia menjadikan akal sebagai satu-satunya barometer ilmu dan kebenaran. Ia lupa menyadari hakikat dirimya sendiri, bahwa ia ada karena ada Dzat yang membuatnya ada.

Hati manusia kini dipenuhi oleh hawa nafsu. Akibatnya, fitrah manusia menjadi buta, telinga jadi tuli, dan hati nurani tak mampu berbuat apa-apa. Ia tumpul tak berdaya meski kebenaran terpampang nyata di hadapan mata.

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka apakah kamu memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilah/sesembahan dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya, maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat, apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (Surah al-Jatsiyah [45]: 23)

Dalam Islam, syariat melarang akal untuk memikirkan Zat Allah sebab nyatanya akal manusia tak akan sampai menembus keberadaan Allah. Ibn Umar meriwayatkan, Nabi bersabda:

قالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم تَفَكَّرُوا فِي آلاَءِ اللهِ وَلاَ تَتَفَكَّرُوا فِي اللهِ

“Berfikirlah kalian akan tanda-tanda kekuasaan Allah, dan janganlah berfikir tentang Zat Allah”

Senada, Abu Ja’far ath-Thahawi dalam karyanya al-Aqidah ath-Thahawiyah mengatakan: Allah tak akan mampu digapai oleh khayalan akal, sebab nalar manusia tak akan sampai. Sebagaimana Allah tak pernah meyerupai bentuk dan keadaan makhluk-Nya.

Untuk diketahui, ada beberapa cara manusia untuk mengenali sesuatu di sekitarnya. Di antaranya:

Pertama, manusia menyaksikan langsung

Namun hal ini tak mungkin terjadi pada Allah. Sebab Allah berfirman:

لاَّ تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“(Allah) tak dapat ditembus penglihatan dan Dialah yang dapat menembus segala penglihatan.” (Surah al-An’am [6]: 103).

Kedua, manusia mengukur, mengqiyaskan atau menyerupakannya dengan sesuatu lain. Demikian juga mustahil bagi-Nya karena Allah tidaklah menyerupai apapun.

Firman Allah;

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُوْلَئِكَ لَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya , dan Dialah Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS: asy-Syura [42]: 11).

Ketiga, menghukumi sesuatu dan mengetahuinya dari jejak yang terlihat dan dapat disentuh.

Inilah cara yang benar mengenali Allah. Tanpa perlu melihat Zat-Nya secara langsung, sesungguhnya manusia telah disesaki dengan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Allah. Mulai dari apa yang tampak pada diri manusia, lingkungan sekitar, hingga seluruh alam semesta raya.

Allah berfirman;

أَوَلَمْ يَنظُرُواْ فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللّهُ مِن شَيْءٍ وَأَنْ عَسَى أَن يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

“Tidakkah mereka memperhatikan apa yang ada pada kerajaan langit dan bumi?..” (QS: al-A’raf [7]: 185)

Olehnya, tak sepatutnya manusia menafikan keberadaan Allah hanya karena manusia tak mampu menginderai Zat Allah secara fisik. Bukankah siang hari itu ada meski mata besar sang kelelawar tak mampu melihatnya? Dialah Allah Zat Yang Mahasuci. Allah itu ada namun hati-hati manusia terlanjur pekat dan kotor oleh noda kesombongan mereka.

Terakhir, Ibnu Athailah dalam Kitab al-Hikam memberi hikmah:

Bagaimana bisa dikatakan, Allah terhijab oleh sesuatu, sedang Dialah yang menampakkan segala sesuatu

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab / tertutupi oleh sesuatu, sedangkan Dia tampak pada segala sesuatu

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلَّ شَيْءٍ

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab / tertutupi oleh sesuatu, sedangkan Dia tampak pada sebab segala sesuatu

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلَّ شَيْءٍ

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab / tertutupi oleh sesuatu, sedangkan Dia tampak untuk segala sesuatu

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلَّ شَيْءٍ

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab / tertutupi oleh sesuatu, sedangkan Dia lebih tampak dari segala sesuatu

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ مِنْ كُلَّ شَيْءٍ.*

Semoga hikmah ini memberi pelajaran dan kecerdasan kita semua.*/Sarah Zakiyyah, penulis seorang guru

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akalhatihijabkeyakinanmanusiaNafsu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya WHO: 20 Persen Pria Akan Menderita Kanker Payudara di Tahun 2030
Tulisan selanjutnya Pemuda Palestina Main Futsal di Tengah Konfrontasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?