PENGEMBARAAN manusia mencari Tuhan bisa dikata seumur dengan penciptaan manusia ke dunia. Pencarian itu bermula sejak manusia ada dan akan terus berlajut hingga berakhirnya kehidupan dunia.
Sebut saja, Karen Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, Friedrich Nietzshe dalam La Gaya Scienza, dan beberapa contoh lainnya.
Para ulama dan ilmuwan Islam juga tak henti membahas persoalan ketuhanan ini, mereka tak henti menangkal syubhat-syubhat akidah serta menerangkan kaidah dan landasan tauhid dalam memahami Tuhan.
Keberadaan manusia, alam dan seisinya mengusik akal untuk mengetahui siapa pencipta, desainer di balik keberadaannya.
Akal manusia yang rendah berusaha mengusik dan mengungkapkannya dalam kata dan menjelaskannya dengan segala hal yang dapat dilihat mata, didengar telinga dan diraba oleh kulit manusia. Ya, manusia berusaha menjadikan Tuhan yang ghaib menjadi konkrit, jelas dilihat mata kepala.
Seolah memutar masa, kini manusia kembali ke gerbang masa jahiliyah. Ketika manusia mengingkari keberadaan Allah dan menolak petunjuk-Nya. Sebaliknya hawa nafsu menjadi lentera dalam kehidupan mereka yang justru kian menyesatkan perjalanan manusia.
Tak heran, yang lahir dari mulut mereka adalah ungkapan busuk mengenai Tuhan. Mulai dari ungkapan “Tuhan Membusuk, “Menggugat keberadaan Tuhan”, “Tuhan telah mati”, dan sebagainya.
Sejatinya masa demikian lebih jahiliyah dari yang pernah terjadi di masa jahiliyah yang menimpa bangsa Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
Sebab mereka dahulu tak mengenal ilmu sedang kini ilmu pengetahuan begitu mudah didapatkan dan dicari.
Sementara ilmu yang sepatutnya menjadi sarana mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah, justru saat ini seolah kian menjauhkan mereka dari Allah.
Inilah kesalahan sekaligus kelemahan terbesar akal manusia. Kala manusia menjadikan akal sebagai satu-satunya barometer ilmu dan kebenaran. Ia lupa menyadari hakikat dirimya sendiri, bahwa ia ada karena ada Dzat yang membuatnya ada.
Hati manusia kini dipenuhi oleh hawa nafsu. Akibatnya, fitrah manusia menjadi buta, telinga jadi tuli, dan hati nurani tak mampu berbuat apa-apa. Ia tumpul tak berdaya meski kebenaran terpampang nyata di hadapan mata.
Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka apakah kamu memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilah/sesembahan dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya, maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat, apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (Surah al-Jatsiyah [45]: 23)
Dalam Islam, syariat melarang akal untuk memikirkan Zat Allah sebab nyatanya akal manusia tak akan sampai menembus keberadaan Allah. Ibn Umar meriwayatkan, Nabi bersabda:
قالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم تَفَكَّرُوا فِي آلاَءِ اللهِ وَلاَ تَتَفَكَّرُوا فِي اللهِ
“Berfikirlah kalian akan tanda-tanda kekuasaan Allah, dan janganlah berfikir tentang Zat Allah”
Senada, Abu Ja’far ath-Thahawi dalam karyanya al-Aqidah ath-Thahawiyah mengatakan: Allah tak akan mampu digapai oleh khayalan akal, sebab nalar manusia tak akan sampai. Sebagaimana Allah tak pernah meyerupai bentuk dan keadaan makhluk-Nya.
Untuk diketahui, ada beberapa cara manusia untuk mengenali sesuatu di sekitarnya. Di antaranya:
Pertama, manusia menyaksikan langsung
Namun hal ini tak mungkin terjadi pada Allah. Sebab Allah berfirman:
لاَّ تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“(Allah) tak dapat ditembus penglihatan dan Dialah yang dapat menembus segala penglihatan.” (Surah al-An’am [6]: 103).
Kedua, manusia mengukur, mengqiyaskan atau menyerupakannya dengan sesuatu lain. Demikian juga mustahil bagi-Nya karena Allah tidaklah menyerupai apapun.
Firman Allah;
إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُوْلَئِكَ لَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya , dan Dialah Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS: asy-Syura [42]: 11).
Ketiga, menghukumi sesuatu dan mengetahuinya dari jejak yang terlihat dan dapat disentuh.
Inilah cara yang benar mengenali Allah. Tanpa perlu melihat Zat-Nya secara langsung, sesungguhnya manusia telah disesaki dengan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Allah. Mulai dari apa yang tampak pada diri manusia, lingkungan sekitar, hingga seluruh alam semesta raya.
Allah berfirman;
أَوَلَمْ يَنظُرُواْ فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللّهُ مِن شَيْءٍ وَأَنْ عَسَى أَن يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
“Tidakkah mereka memperhatikan apa yang ada pada kerajaan langit dan bumi?..” (QS: al-A’raf [7]: 185)
Olehnya, tak sepatutnya manusia menafikan keberadaan Allah hanya karena manusia tak mampu menginderai Zat Allah secara fisik. Bukankah siang hari itu ada meski mata besar sang kelelawar tak mampu melihatnya? Dialah Allah Zat Yang Mahasuci. Allah itu ada namun hati-hati manusia terlanjur pekat dan kotor oleh noda kesombongan mereka.
Terakhir, Ibnu Athailah dalam Kitab al-Hikam memberi hikmah:
Bagaimana bisa dikatakan, Allah terhijab oleh sesuatu, sedang Dialah yang menampakkan segala sesuatu
كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ
Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab / tertutupi oleh sesuatu, sedangkan Dia tampak pada segala sesuatu
كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلَّ شَيْءٍ
Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab / tertutupi oleh sesuatu, sedangkan Dia tampak pada sebab segala sesuatu
كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلَّ شَيْءٍ
Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab / tertutupi oleh sesuatu, sedangkan Dia tampak untuk segala sesuatu
كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلَّ شَيْءٍ
Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab / tertutupi oleh sesuatu, sedangkan Dia lebih tampak dari segala sesuatu
كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ مِنْ كُلَّ شَيْءٍ.*
Semoga hikmah ini memberi pelajaran dan kecerdasan kita semua.*/Sarah Zakiyyah, penulis seorang guru