Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Orang-Orang yang Bangga Dengan Kesesatannya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Februari 2016 21:05 9:05 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Februari 2016 04:30
Bagikan
Bagikan

Ketika menyebut kaum ‘Ad dan Tsamud, dua bangsa kuno yang pernah berjaya di Jazirah Arab, Allah melekatkan satu sifat tertentu kepada mereka.

Allah berfirman:

وَعَاداً وَثَمُودَ وَقَد تَّبَيَّنَ لَكُم مِّن مَّسَاكِنِهِمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ

“(Juga) kaum ‘Ad dan Tsamud. Sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Syetan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.” (Qs. al-‘Ankabut [29]: 38).

Apa yang dimaksud dengan “berpandangan tajam” di sini?

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Frasa itu tidak merujuk kepada fenomena fisik, seperti mampu melihat dalam jarak sangat jauh atau mengamati benda-benda yang amat kecil. Akan tetapi, ia mengarah kepada aspek pemikiran dan ideologi. Menurut mufassirin, kalimat ini mengindikasikan bahwa ‘Ad dan Tsamud merupakan kaum yang tersesat namun memiliki struktur argumen dan pemikiran yang sangat mapan. Misalnya, Imam ath-Thabari berkata, “Mereka memiliki pandangan sangat tajam dalam kesesatannya itu, bangga dengannya, serta yakin bahwasanya mereka berada diatas hidayah dan kebenaran, padahal sebenarnya tersesat.”

Kita memang tidak tahu seperti apa persisnya pemikiran mereka, namun ayat-ayat Al-Qur’an mengesankan bahwa ia tidak jauh dari paganisme (penyembahan berhala) dan politeisme (penyembahan banyak tuhan).

Dalam Surah Hud: 53-54, misalnya, dinyatakan:

قَالُواْ يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

إِن نَّقُولُ إِلاَّ اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوَءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللّهِ وَاشْهَدُواْ أَنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ

“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami hanya karena perkataanmu. Kami pun sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” [Surah Hud [11]: 53-54]

Ayat-ayat ini merekam kebanggaan mereka terhadap keyakinan musyriknya, tanpa sedikit pun terbersit keraguan dan perasaan rendah diri. Mereka bahkan menuduh Nabi Hud gila. Dewasa ini, fenomena mereka sangat mirip dengan pemikiran-pemikiran materialisme, ateisme, sekularisme, liberalisme, pluralisme, dsb; yang dibangga-banggakan, canggih dan terkesan sangat logis, namun sebenarnya sesat dan menyesatkan. Syetan benar-benar telah menghias kebatilan itu sehingga terlihat indah dan menawan. Pada saat itulah mereka tidak akan bertaubat atau menyesal, karena memang tidak pernah merasa bersalah. Na’udzu billah!

Sehubungan dengan ini, telah diriwayatkan dalam Sunan Darimi dengan sanad shahih, bahwa Iblis bertanya kepada pasukannya, “Dari sisi mana kalian menggoda anak-cucu Adam?” Mereka menjawab, “Dari mana saja.” Ia bertanya lagi, “Apakah kalian juga menggoda mereka dari sisi istighfar?” Mereka menjawab, “Tidak mungkin! Itu adalah sesuatu yang beriringan dengan tauhid.” Iblis pun berkata, “Sungguh aku akan menyebarkan di tengah-tengah mereka sesuatu yang tidak akan mereka mintakan ampunan kepada Allah.” Maka, ia pun menyebarkan ahwa’ (kecenderungan memperturutkan hawa nafsu) di tengah-tengah manusia.

Maksud atsar ini adalah: jarang atau hampir tidak mungkin seorang penganut ahwa’ dan bid’ah itu bertaubat, sebab mereka tidak merasa bersalah. Hasan al-Bashri berkata, “Allah enggan mengizinkan pertaubatan seorang penganut hawa.” – yakni, penganut bid’ah dan orang-orang yang hanya memperturutkan keinginan hawa nafsunya dalam beragama.

Pada dasarnya, inti beragama adalah pasrah kepada aturan dan kehendak Allah. Inilah makna asli dari “al-islam”. Oleh karenanya, generasi salaf sangat serius mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab, mustahil bisa pasrah secara benar tanpa berbekal ilmu, sedangkan sumber ilmu terpercaya adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Masruq berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang kami tanyakan kepada para Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melainkan ilmu tentangnya sudah ada dalam Al-Qur’an, hanya saja pengetahuan kami terhadapnya sangat terbatas.” (Kitabul ‘Ilmi karya Abu Khaytsamah, no. 51).

Diceritakan dalam kitab Taghliqu at-Ta’liq, bahwa Imam Bukhari berkata, “Saya tidak mengetahui sesuatu pun yang diperlukan melainkan ia sudah ada di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah memungkinkan untuk mengetahui hal itu?” Beliau menjawab, “Ya.”

Ulama Salaf sangat enggan menggunakan analogi logika (ra’yu dan qiyas) dalam urusan agamanya. Mereka berusaha semaksimal mungkin mengikuti atsar (riwayat dari Nabi dan Sahabat). Sungguh, kisah umat-umat terdahulu mengajarkan bahwa memperturutkan logika tanpa dinaungi wahyu adalah benih penyimpangan. ‘Urwah bin Zubair berkata, “Urusan Bani Israil tetap tegak dan lurus, tidak ada masalah apa pun, sampai kemudian tumbuh generasi keturunan para tawanan perang dari berbagai umat lain, yakni anak-anak para wanita yang ditawan oleh Bani Israil dari bangsa-bangsa lain. Lalu mereka berbicara dalam urusan-urusan Bani Israil berdasarkan ra’yu (rasio) mereka semata, sehingga akhirnya mereka pun menyesatkan Bani Israil secara keseluruhan.” (Riwayat Darimi no. 120. Isnad-nya jayyid).

Bahkan, dengan nada yang lebih tajam lagi Ibnu Sirin berkata, “Yang pertamakali menggunakan qiyas (analogi) adalah Iblis. Matahari dan bulan pun tidak disembah melainkan dengan berbagai qiyas.” (Riwayat Darimi no. 189. Isnad-nya jayyid). Tentu saja, yang dimaksud adalah qiyas bathil. Dan, orang yang di dalam dirinya telah bersemayam qiyas semacam ini, jelas sangat sulit bertaubat dan pasti bangga dengan kesesatannya. Na’udzu billah. Wallahu a’lam.*/Alimin Mukhtar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al islamberserah dirifeminismekesesatanqiyassesat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemuda Hidayatullah Desak Pemerintah Rehabilitasi Korban LGBT
Tulisan selanjutnya Misteri Pria Berbaju PKI

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?