DALAM kehidupan sehari-hari, biasanya seseorang selalu memperbaiki sesuatu atau barang miliknya ketika barang tersebut rusak dan tidak lagi sempurna.
Melihat atap yang bocor, segera ditempeli. Dinding rumah catnya pudar atau mengelupas, segera dibalur dengan cat yang baru. Ban motor atau mobil bocor dan kempes, segera ditambal.
Baju yang sobek, segera disatukan dengan benang. Tali tas yang putus, segera direkatkan kembali. Pakaian yang kotor, segera dicuci. Gigi yang sudah tanggal, segera dipasang gigi implan demi membantu kinerja gigi-gigi yang lain.
Pun hal-hal lain yang dirasa kurang sempurna tampilannya, pastilah manusia sesegera mungkin berusaha menutupi dan meminimalisir kekurangan tersebut.
Agar tampak indah di mata orang lain. Supaya tidak didapati kekurangan itu oleh orang banyak. Juga demi kenyamanan dan ketentraman batin sang pemilik benda itu sendiri. Benar, bukan?
Itulah yang lumrah terjadi pada urusan-urusan duniawi. Allah telah menganugerahkan manusia dengan keistimewaan akal dan fasilitas yang ada di sekelilingnya.
Akal untuk berpikir dan bermujahadah, mencari cara bagaimana memperbaiki benda-benda yang rusak tersebut. Fasilitas duniawi pun telah disediakan, hanya tinggal memilih bahan apa yang akan digunakan untuk menambal kekurangan-kekurangan yang ada.
Disaat manusia berlomba-lomba dan bersegera memperbaiki urusan dunia, apa kabar urusan akhirat?
Apakah ia ebih bersegera menanganinya ketimbang pada tetek bengek duniawi ataukah malah larut pada keadaan, membiarkan kekurangan-kekurangan yang ada pada urusan ukhrawi, ibadah dan amalan-amalan stagnan di tempat, atau malah menurun kualitasnya, dan tidak berusaha memperindah, memperbaiki, membalur, mengikat dan menambalnya?
Jangan lupakan, bahwa Allah pun memberi manusia akal untuk berpikir, hati untuk mengimani dan fasilitas untuk memperindah kualitas ibadah dan amalan-amalan ukhrawi.
Salah satunya adalah shalat-shalat sunnah yang telah Allah sediakan untuk “menambal” shalat fardhu itu.
Hanya saja sayangnya, kadangkala orang itu berpikir, “Well, bukankah itu hanya amalan sunnah saja? Tidak dikerjakan pun tak mengapa, bukan?
Sebab siapa pun tahu bahwa amalan sunnah itu ‘yutsaabu faa-‘iluhu wa laa yu’aaqabu taarikuhu‘, diberi pahala bagi yang melaksanakan, dan tidak dihukumi berdosa bagi yang meninggalkannya’.”
Baiklah, jika itu menjadi senjata dalam memupuk kemalasan. Tapi jangan pernah pula dilupakan, seorang Insan pilihan, yang padanya dijaminkan kekekalan surga_Nya, dialah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan tidak pernah sekali pun meninggalkan shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh dan shalat witir sepanjang hidupnya.
MaasyaaAllah. Maka bagi dia yang belum punya tiket untuk tiba di surga bersama Nabi tercinta, mengapa masih saja kerasan mencari dan mencuri beribu alasan?
Tidak perlu diragukan lagi bahwa shalat sunnah adalah wasilah untuk mendapat kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits qudsi,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ- رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَُّّه (رواه البخاري)
“Dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘ Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya.” (H.R. Bukhâri).
Shalat-shalat sunnat juga menjadi penutup dan penambal bagi kekurangan-kekurangan yang ada pada shalat fardhu, sebagai sarana dalam menyelesaikan berbagai perkara kehidupan, menambah kesempurnaan shalat fardhu, meningkatkan derajat keridhaan Allah, sebagai penghapus dosa, dan masih banyak faidah yang mengikutinya.
Dengan syarat, hamba tersebut terlebih dahulu menjaga kualitas shalat fardhu dengan sebenar-benarnya. Banyak cara dalam menjaga dan memperbaiki kualitasnya, dengan selalu menghadirkan khusyuk, tuma’ninah, niat yang ikhlas karena Allah semata, pantang meninggalkannya, melaksanakannya sesuai tuntunan syariat, tepat waktu dan dilakukan berjamaah di masjid bagi lelaki dan di dalam rumahnya saja bagi wanita.
Jika menelusuri jejak kehidupan sang Penghulu para Nabi, didapati semasa hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malamnya selalu mengerjakan shalat sunnah hingga kaki beliau bengkak.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan, ketika ibunda Aisyah melihatnya, Aisyah bertanya: “Bukankah Allah Ta’ala telah mengampuni semua dosamu yang telah terjadi dan juga yang akan datang? Kemudian Nabi menjawab dan berkata: Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur (kepada Allah)?” (HR. Bukhari, Muslim).
Apabila dosa sudah diampuni, cinta dari Allah telah didapatkan, derajat pun sudah dinaikkan, mengapa Nabi ‘alaihis shalatu wassalam masih perlu mengerjakan shalat sunnah?
Berkaca pada kehidupan manusia paling mulia, Nabi besar Muhammad Shalallallahu ‘Alaihi Wassallam, maka jawabnya adalah tetap perlu mengerjakan shalat sunnah.
Mengenai kepastian tentang jaminan-jaminan tersebut hanya ada di sisi Allah dan Allah saja yang tahu.
Hendaknya ia mengerjakan shalat-shalat sunnah adalah hanya karena Allah semata untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan mengharapkan ridha-Nya semata.
Shalat-shalat sunnah yang dikerjakan tidak lain juga adalah sebagai bentuk rasa syukur atas banyaknya nikmat-nikmat yang kita peroleh. Nikmat kesehatan, nikmat rezeki, nikmat bernafas, nikmat mendengar, nikmat dapat berjalan, dan nikmat-nikmat lainnya yang kesemuanya merupakan kenikmatan dan keutamaan dari Allah semata yang kita syukuri dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah di samping shalat fardhu.
Maka sempurnakan shalat fardhumu, demi kesempurnaan cinta pada Sang Maha Pencipta.*/Roidatun Nahdhah, ibu rumah tangga di Yogyakarta.