PERTANYAAN besar yang sering muncul di tengah-tengah kita, mengapa manusia bisa membelot dari jalan Tuhan?
Bila dikatakan karena kurang pengetahuan agama, bukankah belakangan gelombang demikian banyak diteriakkan oleh orang-orang yang mengaku beragama.
Bila dikatakan karena kurangnya ilmu, justeru belakangan paham ini banyak didukung kalangan orang yang memiliki ilmu. Semua itu tentunya, tidak dapat dilepaskan dari cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang wajib dipahaminya.
Mengapa manusia ada, siapa yang mengadakan? Mengapa alam dicipta, siapa yang mencipta dan untuk apa diciptakan? Lalu apa kewajiban manusia bagi Penciptanya, kewajiban sesama manusia dan bagaimana memperlakukan alam agar terjadi kemakmuran semesta?
Bagi kaum Muslim, nampaknya, layak untuk direnungkan kembali tiga pokok pengetahuan dalam Islam [ushuulul ma’rifah fil Islaam] sebagai tolok ukur dalam memahami penilaian “benar” dan “salah”.
Baca: Di Dunia Kita Meminta, Di Akhirat Kita Berharap Nikmat
Pokok-pokok yang dimaksud adalah: Mengetahui siapaTuhan itu? [ma’rifatur Rabb], Mengetahui siapa manusia itu? [ma’rifatul insaan] dan apa alam itu? [ma’rifatul ‘aalam].
Ketika benar memahami tiga perkara ini, maka cara pandangnya bisa benar. Dan ketika salah memahami tiga perkara ini, maka cara pandangnya bisa salah.
Pertama, mengetahui siapa Tuhan [Ma’rifatur Rabb]
Dalam Islam, keberadaan Tuhan sudah final, Dialah Allah jalla jalaaluhu Dzat penguasa alam [Rabbul ‘aalamien]. Al-Qur’an menjelaskan akan hal ini; Allah Subhanahu Wata’ala itu Esa, Allah itu tempat bergantung semua makhluk, Allah itu tidak berputra dan tidak diputrakan, serta tidak ada yang mampu menyamaiNya seorang pun. Itulah QS. Surat Al-Ikhlas.
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (١) ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (٢) لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ (٣) وَلَمۡ يَكُن لَّهُ ۥ ڪُفُوًا أَحَدٌ (٤)
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (2) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, (3) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” [QS: al Ikhlas [112]:1-4]
Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selainNya, Dia yang Maha hidup dan berdiri sendiri, tidak terkena lupa dan tidur. Itulah mutiara ayat Kursi. Allah itu pun cahaya yang menerangi langit dan bumi, perumpaan cahayanya laksana lampu [misykat] yang di dalamnya ada pelita. Itulah mutiara Qs. An-Nuur. Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan siapa Tuhan itu, demikian pula Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan di banyak haditsnya.
Berbeda dengan pandangan yang lain yang masih memperdebatkan dan masih mencari siapa Tuhan. Ketika mereka belum atau tidak bisa menemukan jawabnya, merekapun menuduhnya dengan kata-kata “Tuhan mulai lelah”, “Tuhan mulai bosan”, “Tuhan mulai sakit”, bahkan sebagian mereka menyebutkan “Tuhan sudah mati” [God is dead].
Kedua, mengetahui siapa manusia [ma’rifatul Insaan]
Dalam Islam, perkara ini pun sudah final. Manusia itu adalah makhluk turunan ayahanda Adam ‘alaihis salaam dan bunda Hawa, Adam dicipta dari saripati tanah [sulaalatin min thin]. Beranak pinak melalui percampuran air mani yang memancar [nuthfah], lalu menjadi segumpal darah [‘alaqah], kemudian menjadi seketul daging [mudhghah] yang membungkus tulang. Berikutnya, diciptakanlah pendengaran, penglihatan, hati dan ditiupkannya ruh. Semua itu dijelaskan Al-Qur’an [QS. Al-Hijr/15: 26, 28, 29, Qs. Al-Mu’minuun/23: 12-14, QS. An-Nahl/16:78, dll.], demikian pula Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan di banyak haditsnya.
Berbeda dengan pandangan yang masih menduga-duga dengan berbagai teorinya, di antaranya Teori Evolusi-nya, Charles Darwin yang meyakini manusia itu berasal dari turunan kera. Namun kenyataannya, mereka unggulkan ras tertentu dengan species istimewanya, namun di sisi lain, mereka remehkan manusia lainnya.
Ketiga, mengetahui alam [ma’rifatul ‘aalam]
Dalam Islam, hal ini pun sudah final. Ada alam yang tak nampak [ghaib], ada pula alam yang nampak [syahaadah] sebagaimana QS. Al-Jumu’ah/62:8, atau alam dunia yang fana dan terbatas [dunyaa] dengan alam akhir yang kekal abadi [akhirat].
Karenanya doa yang dipanjatkan pun do’a keselamatan dua alam “Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa adzaaban naar.” [QS. Al-Baqarah/2:201].
Semua ini menunjukkan bahwa Allah jalla jalaaluh menjadikan dunia sebagai tempat sementara, dan akhirat merupakan negeri ujung pengharapan. Pantas, kalaulah Allah menyebutnya dengan “wal aakhiratu khairun laka minal uulaa“.
Demikian pula Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menerangkan di banyak haditsnya. Ibnul Qayyim mengistilahkannya dengan “daarul hijratain wa baabus sa’aadatain; dua negeri tempat berhijrah dan dua pintu kebahagiaan”.
Berbeda dengan mereka, yang memahami alam ini perlu perlakuan khusus dengan ritus-ritus tertentu yang melahirkan pandangan alam yang penuh sinkretik.
Dengan pemahaman yang benar terhadap konsep ke-Tuhanan, maka bisa selamat pula dari pandangan materialisme-atheisme yang menganggap Allah Subhanahu Wata’ala itu benda atau tidak ada sama sekali.
Dengan pemahaman yang benar terhadap konsep manusia sebagai makhluk yang wajib patuh pada Penciptanya, maka selamat pula dari keyakinan humanisme yang keliru di mana hak asasi manusia bisa mengalahkan hak-hak Tuhan. Dengan pemahaman terhadap konsep alam yang benar, di mana manusia harus merawatnya, maka selamat pula dari keyakinan nativisme yang menggiring manusia pada ajaran mistik penuh klenik dan kejumudan alam perasaan.
Dengan tiga pokok pengetahuan itulah, minimalnya diharapkan mampu menutup celah-celah pintu kesesatan yang menyebabkan pelakunya membelot dari jalan Tuhan, bahkan anti Tuhan.* klik>>> (Bersambung) >> ‘Liberalisme & Pengingkaran pada Tuhan’..