Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Hari-hari Tanpa Berjamaah

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 22 Maret 2020 14:27 2:27 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 22 Maret 2020 18:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | SEJAK ditemukan di Wuhan akhir tahun lalu, virus corona (Covid-19) telah merangsek tak terkendali ke berbagai belahan bumi. Menginfeksi tubuh manusia dalam senyapnya. Tak peduli umur, latar belakang, status sosial, bahkan agama. Semua berada dalam kerentanan yang sama.

Dengan perkiraan tingkat transmisi virus 1,4 – 2,5, sampai saat ini Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 245 ribu orang di seluruh dunia, 10 ribu diantara mereka terenggut jiwanya (Worldometers.info, sampai 20 Maret).

Bukan saja menjerat tubuh orang yang sudah positif, Covid-19 juga mengintimidasi psikologi manusia yang belum terinfeksi. Panic buying, rasa was-was, takut bahkan stres menjadi pemandangan baru yang belakangan masif menjejali beranda media sosial kita.

Semua sektor terdampak. Segala aktivitas yang mengundang kerumunan manusia dibatalkan, mulai dari sekolah, pertandingan olahraga, konser musik, seminar, pelatihan, bahkan agenda suci seperti peribadatan turut terkena imbasnya.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, sholat Jum’at dan sholat berjamaah di beberapa negara dihentikan sementara. Berharap dengan begitu virus tak semakin liar persebarannya. Umat muslim kini menghadapi hari-hari tanpa shalat berjamaah.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

“Shollu fii buyutikum.” Begitu lantunan adzan yang bergema di banyak negeri belakangan ini. Kita teringat saat panggilan itu dikumandangkan pertama kali di langit Kuwait beberapa waktu lalu, sendu seketika menggelayut, lalu menjalar di hati umat muslim seluruh dunia. Seturut menjalarnya video sang muadzin yang menangis itu di jagat maya.

Kesedihan melanda kalbu orang beriman, baik mereka yang memang rajin shalat berjamaah, maupun yang masih terantuk di pintu niat. Yang rajin shalat berjamaah gundah karena corona merenggut kesyahduan beribadah mereka. Tanpa berjamaah, seperti ada puzzle yang hilang dalam keseharian mereka.

Sungguh beruntung mereka yang disesak rindu untuk berjamaah. Baginya telah tercatat pahala apa-apa yang telah dirutinkannya. Yang karena sebab pandemi corona ini, tidak dapat dilakoninya amalan itu.

Mereka yang belum terbiasa berjamaah juga bersedih, betapa selama ini kelalaian begitu mendominasi jiwa. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa ada gunungan niat baik yang belum dieksekusi. Shalat berjamaah di masjid salah satunya.

Tetapi perasaan sedih itu tidak selayaknya mengendalikan logika. Supaya dengan begitu akal sehat kita tidak terkecoh oleh bujuk nafsu. Sehingga tidak ada lagi yang berujar “Kematian itu pasti dan saya tidak takut corona. Lebih baik mati di dalam masjid, itu lebih mulia. Jadi buat apa takut ke masjid?”

Pernyataan seperti ini juga tidak pada tempatnya.

Pertama, karena corona tidak menyebabkan mati mendadak layaknya peluru yang meluncur dari AK-47. Tertular di masjid bukan jaminan ajalnya juga dijemput di masjid. Bisa jadi Malaikat Izrail menemuinya di tempat lain.

Kedua, dan ini yang paling penting, ulama telah memberi fatwa untuk menghentikan sementara shalat Jum’at dan shalat berjamaah di masjid. Itulah yang semestinya menjadi rujukan kita. Biar bagaimanapun ulama adalah pewaris para nabi. Padanya terjamin satu pahala meski pendapatnya keliru. Dan baginya dua pahala atas kebenaran ijtihadnya.

Puluhan tahun mereka wakafkan hidupnya untuk menekuni ilmu agama. Siang dan malam mereka baktikan diri untuk Rabb-nya. Jika kepada mereka saja kita masih ragu, lalu kepada siapa lagi kita mesti menyimpan kepercayaan?

Penulis jadi terkenang kisah beberapa hari lalu. Ketika Arab Saudi mulai menghentikan shalat Jum’at dan shalat berjamaah di masjid, beberapa orang yang tinggal di asrama mahasiswa melaksanakan shalat berjamaah kecil-kecilan, sekira 5-10 orang. Tampak betul keinginan kuat para penuntut ilmu itu untuk menyempurnakan pahala shalat.

Tetapi rupanya praktik inipun tidak dibenarkan oleh para masyaikh. Karena hikmah dihentikannya shalat berjamaah adalah untuk menghindari kontak dengan orang lain, sekecil apapun unitnya. Supaya dengan itu penyebaran virus bisa ditekan. Ada maslahat yang lebih besar yang diperjuangkan di situ.

Berangkat dari situ pula, lamat-lamat saya teringat kisah Abdullah bin Ubay, gembong kaum munafik di zaman Rasulullah ﷺ.

Syahdan ketika kaum muslimin mendengar adanya rencana penyerangan kafir Quraisy ke Madinah, mereka terbelah dalam dua pendapat. Kelompok pertama menganggap serangan itu sebaiknya dihadapi di dalam kota. Abdullah bin Ubay termasuk di antaranya.

Sementara itu, sebagian sahabat yang mayoritas kaum muda menghendaki agar serangan kafir Quraisy dihalau di luar kota. Agar mereka tidak dianggap takut lagi kecut oleh Quraisy. Pada akhirnya Rasulullah ﷺ mengambil pendapat yang kedua dan kaum muslimin berangkat meninggalkan Madinah menuju Bukit Uhud.

Di tengah jalan, Abdullah bin Ubay bersama sepertiga pasukan – yang sebagian besar adalah pengikutnya – melakukan pembelotan. Mereka kembali ke Madinah dan meninggalkan kaum muslimin yang sedang dalam perjalanan perang. Hal ini tentu sedikit banyak berpengaruh pada mental kaum muslimin.

Kita semua tahu akhir kisah Perang Uhud. Kaum muslimin kalah, Rasulullah ﷺ hampir terbunuh, dan banyak sahabat yang menjadi syuhada.

Tetapi ada hikmah yang sangat agung tercuplik dari kisah ini. Betapapun pedihnya, Perang Uhud telah mengajari kaum muslimin tentang culasnya sifat para munafik.

Lalu apa hubungannya dengan cerita shalat berjamaah di masa pandemi corona ini?

Bukan. Saya sama sekali bukan sedang mengaitkan kisah para munafik dengan kekukuhan sebagian orang untuk menjaga shalat berjamaah di masjid. Jauh dari itu, ada rasa iri yang mengintip di lubuk hati saya atas ghirah beribadah yang membuncah dari saudara-saudara kita itu.

Akan tetapi, kita juga sepatutnya mewaspadai propaganda ini. Jangan sampai kondisi ini ditunggangi oleh musuh-musuh yang memang senang melihat perpecahan umat Islam. Jangan biarkan para pengikut Abdullah bin Ubay mencuri panggung di tengah kondisi kritis seperti ini.

Sikap waspada dengan mengedepankan prasangka baik diharapkan bisa selalu kita terapkan. Semoga dengan begitu ada akhir yang indah di ujung masa paceklik ini.*/ Fajar Ruddin. Pegiat Psikologi Islam, Mahasiswa Pascasarjana Psikologi King Saud University

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abdullah bin Ubaycovid-19Perang UhudShalat BerjamaahShalat Jumatvirus corona
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya YLKI Minta Pemerintah Prioritaskan Urus Masalah Minimnya APD Nakes
Tulisan selanjutnya Menag: Disiplin Shalat, Disiplin Jaga Kesehatan Cegah Corona

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?