Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Tegaknya Peradaban Mulia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 November 2020 15:57 3:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 November 2020 15:57
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | ISTILAH peradaban Islam sesungguhnya bisa dirunut dari asal kata “adab”. Dalam kitab Mu’jam al-Washit disebutkan bahwa kata “adab” berasal dari adduba dan taaddaba, yang artinya mendidik seseorang dengan akhlak yang baik.

Jadi, orang yang berilmu, halus tutur katanya, berkesusastraan tinggi, berakhlak mulia, disebut sebagai adib (orang yang beradab). Sebaliknya, orang yang kasar, tidak memiliki sopan santun, tidak berperikemanusiaan, disebut qaliil ul adab (orang yang kurang adab atau tidak beradab).

Dalam bahasa Arab, kata al-hadharah (peradaban) memiliki lawan kata al-badawah (Badwi). Kemudian kata al-hadhirah (kota) memiliki lawan kata al-badiyah (desa). Sedangkan kata al-hadhar (orang kota) adalah lawan kata dari al-badw (orang Badwi, kaum nomaden di padang pasir).

Orang Badwi, dalam komunitas orang-orang Arab, dikenal bersikap keras, kasar, kaku, dan bodoh. Mereka tidak berpendidikan dan tidak bisa baca tulis.

Tak seorang Rasul pun yang berasal dari kalangan Badwi. Mengapa? Beberapa ahli tafsir memberi argumentasi, di antaranya Imam Ibn Zaid, bahwa penduduk kota (al-hadhar) lebih berpendidikan dan lebih sopan dari pada penduduk Badwi (al-badw).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Bahkan, para ulama berpendapat bahwa hukum menjadi orang Badwi itu makruh. Hukum ini bisa berubah menjadi haram bila orang yang telah hijrah menjadi orang kota kembali menjadi orang Badwi.

Dengan demikian jelaslah bahwa membangun manusia yang beradab bagi kaum Muslim menjadi sebuah keharusan. Ini pula yang dilakukan oleh Muhammad ﷺ pada masa awal kenabian. Beliau berdakwah kepada orang-orang terdekatnya, lalu mentarbiyah mereka, sehingga mereka menjadi pribadi yang beriman. Iman inilah yang mengantar mereka menjadi pribadi yang beradab dari sebelumnya jahiliah.

Hal yang sama dilakukan oleh Rasulullah ﷺ saat di Madinah setelah hijrah. Beliau membangun manusia-manusia yang beradab di negeri itu dengan konsep wahyu, konsep yang datang dari Sang Pemilik Kehidupan.

Namun, jangan keliru membayangkan seperti apa masyarakat Madinah setelah peradaban Islam tegak di sana. Jangan bayangkan masyarakat Madinah ketika itu menjadi seratus persen homogen. Peradaban Islam tidak meniadakan sifatnya sebagai masyarakat manusia.

Masyarakat Madinah ketika itu merupakan masyarakat yang majemuk (plural), baik dari sisi suku, bangsa, agama, sosial, ekonomi, bahkan dari sisi ketaatan.

Penduduk Madinah terdiri dari orang-orang Arab, Romawi, Habasyah (Afrika), dan lain-lain. Mereka juga campuran dari kaum Anshar, penduduk Kota Yatsrib (sebelum diubah namanya menjadi Madinah) dan kaum muhajirin (mereka yang ikut hijrah bersama Rasulullah ﷺ).

Status sosial ekonomi masyarakat Madinah juga sangat beragam. Ada Bilal, seorang budak yang kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar Shiddiq. Ada ’Amr bin Yasir, seorang penduduk biasa yang bersahaja.  Ada Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, anak pembesar suku Quraisy dari Bani Hasyim.  Ada Suhaib ar-Rumi, pedagang sukses dari negeri Rumawi.  Ada ‘Utsman bin ‘Affan, saudagar suku Quraisy yang sangat sukses di Makkah.

Di Madinah hidup anggota masyarakat yang beragama Yahudi dan Nasrani yang terikat perjanjian damai dengan mereka.

Penduduk Madinah yang beragama Islam pun tidak seratus persen taat. Tetap ada di antara mereka yang terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan maksiat, kurang paham terhadap ajaran Islam, bahkan ada di antara mereka yang munafik, yaitu akhlak seorang hamba yang paling rendah dan hina sebagaimana digambarkan dalam al-Qur`an.

Jadi, masyarakat Madinah bukan masyarakat malaikat, juga bukan masyarakat manusia yang sudah berada di surga. Mereka masyarakat manusia biasa yang hidup di dunia. Karena itu, jika ada di antara mereka yang tersesat dan kafir, itu adalah fenomena manusiawi.

Yang penting, sistem Islam ditegakkan di sana, sehingga kalaupun terjadi penyimpangan, segera bisa diminimalkan. Itu sebabnya penyimpangan tidak menjadi warna dominan dari masyarakat Madinah. Kalaupun ada yang menyimpang, mereka segera bertaubat. Inilah bagian yang sangat indah dalam mozaik sejarah Madinah. Wallahu a’lam.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabislamperadaban Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Teman Karib Menyarankan Agar Trump Mengakui Kekalahan
Tulisan selanjutnya turki saudi Erdogan dan Raja Salman Sepakat Perbaiki Hubungan dengan Dialog

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pemerintah Italia Setuju Larangan Burqa dan Niqab, Serta Pembatasan Siswa Asing

Berita
27 September 2026 09:31
Pipa Minyak Sharara ke Zawiya Mati Libya Rugi $75 Juta
Patuhi Sanksi Amerika, UEA Larang Penerbangan Iran
Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
Intelijen Inggris Peringatkan Akademisi Supaya Putuskan Hubungan dengan Institusi China

Terbaru

  • Intelijen Inggris Peringatkan Akademisi Supaya Putuskan Hubungan dengan Institusi China
  • Pentagon Bilang Pasukan Amerika Serikat dan Sekutunya Resmi Mengakhiri Misi di Iraq
  • Pilot Flydubai Berkelahi Saat Terbang Menuju Tel Aviv, Pesawat Mendarat Darurat di Tabuk Arab Saudi
  • Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!
  • Iran Gantung Dua Demonstran Antipemerintah
  • Iseng Buat Gambar Buaya di Waduk Pakai AI Pria di Singapura Terancam Penjara
  • Mahathir Mohamad Dilarikan ke RS Sehari setelah Istri Meninggal Dunia
  • Gagal Bunuh Petinggi Hamas di Qatar, ‘Israel’ Kembali Tebar Ancaman Pembunuhan
  • Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
  • Ubah Tradisi, Rektor UNIDA Gontor Ajak Dosen Jadi Magnet Keilmuan Mahasiswa karena Kepakarannya

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?