Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Jangan Pernah (merasa) Memiliki agar Kita Tak Pernah (merasa) Kehilangan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 November 2022 09:50 9:50 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 November 2022 10:10
Bagikan
Bagikan

Siapakah yang paling merdeka dalam hidupnya? Ia adalah orang yang tidak pernah mempunyai rasa “memiliki” terhadap dunia dan isinya

Hidayatullah.com | HIDUP ini bukan tentang bagaimana memiliki yang kita cintai, tapi tentang bagaimana mencintai yang kita miliki. Hidup ini sangatlah singkat, maka berbuatlah yang benar, berpikirlah yang benar, mencintai yang benar, jangan merasa memiliki, agar tidak merasa kehihilangan.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali semua makhluk.” (QS. An-Nuur: 42).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Sesungguhnya semua adalah milik Allah Azza wa Jalla dan semua akan kembali kepada Allah Azza wa Jalla. “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi.” Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di memberikan keterangan, maksudnya adalah Allah Azza wa Jalla menciptakan langit dan bumi. Allah Azza wa Jalla yang memberikan rezeki pula kepada langit dan bumi.

Allah Azza wa jalla juga yang mengatur langit dan bumi secara syar’i dan qadari. Semua harus tunduk pada aturan syariat Allah Azza wa Jalla dan semua yang Allah Azza wa Jalla tetapkan itu pasti terjadi.

Di bumi ini tempat kita beramal, sedangkan di akhirat adalah tempat amalan kita itu dibalas. Sehingga dalam lanjutan ayat disebutkan, “dan kepada Allah-lah kembali semua makhluk.” Artinya, kepada Allah Azza wa Jalla tempat kita kembali dan kita akan dibalas.  (Tafsir As-Sa’di, hlm. 600-601).

Di dunia ini tak ada sesuatu yang benar-benar abadi. Kita pun pasti pernah kehilangan materi, kesempatan, cinta, sampai orang-orang yang sangat kita sayangi.

Jangan pernah merasa memiliki, maka kita tak akan pernah merasa kehilangan. Kehilangan itu, konon rasanya sangat tidak enak. Ia berbanding terbalik dengan memliki yang konon rasanya sangat enak. Padahal, keduanya hanya sebuah “rasa”. Sesuatu yang tidak pernah abadi, nahkan bisa absurd. 

Siapakah yang paling merdeka hidupnya? Orang yang tidak pernah mempunyai rasa “memiliki” terhadap dunia dan segala isinya. Semuanya hanyalah titipan dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla adalah Sang Pemilik sesungguhnya. Harta benda, jabatan, kekuasaan, kesenangan dunia, cinta. Cepat atau lambat akan hilang binasa. Semua serba fana.

Inilah pentingnya istirja’ ketika musibah menimpa diri kita hingga kehilangan segalanya, yaitu mengucapkan,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُوْنَ

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS: Al-Baqarah: 155-157).

Maka mengapakah kita mesti resah bila kehilangan beberapa hal tersebut? Tidak lain karena rasa “memiliki” yang begitu besar pada hal-hal tersebut.

Jadi bebaskan diri kita dari keresahan itu. Jangan pernah merasa memiliki, maka kita tak akan pernah merasa kehilangan.

Kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup memang berat. Semakin besar keterikatan kita padanya, semakin besar pula kepedihan yang akan kita rasakan.

Hal-hal penting itu mungkin tak serta merta kembali kepada kehidupan kita. Entah itu materi, kesempatan, sahabat, cinta, atau nyawa orang-orang yang kita sayangi.

Tapi, semoga saja dengan hanya mengharap ridha-Nya, kita mampu lebih tabah, sabar dan ikhlas dalam menerima realita kehidupan.

Karena pada dasarnya, tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan meninggal, bahkan sekuat apapapun orang itu, termasuk diri kita sendiri.

Hanya saja, tak ada yang tahu siapa yang bakal meninggal duluan dan siapa yang ditinggalkan.Terkadang, yang ada di posisi ditinggallah yang merasakan pedih mendalam.

Padahal hidup harus terus berjalan. Sehingga mau tak mau, kita harus tetap belajar tabah, sabar dan ikhlas melepaskannya.

Seseorang yang pernah kehilangan sesuatu yang ia kira adalah miliknya selamanya, pada akhirnya akan menyadari bahwa tak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar menjadi miliknya.

Pada hakikatnya segala apa pun yang kita miliki sebenarnya hanyalah titipan. Suatu saat nanti, semuanya akan diambil dari pelukan kita dan kembali ke Sang Pemilik kehidupan.

Allah Azza wa Jalla menciptakan semua hal dalam satu paket kehidupan. Ada bahagia, ada sedih.

Karenanya, setiap pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Begitu pula dengan kepemilikan, pasti bakal diimbangi dengan kehilangan.

Tapi justru di situlah seninya hidup. Tanpa perpisahan, mungkin kita bakal sulit menikmati setiap pertemuan. Tanpa kehilangan, boleh jadi kita juga susah menghargai apa yang menjadi milik kita saat ini.

Terimalah segalanya, bahkan kehidupan yang bahagia pun tak akan pernah ada tanpa sedikit kesedihan. Kata bahagia akan kehilangan maknanya jika tak diseimbangkan dengan kesedihan.

Akan lebih bijak jika kita menerima segalanya dengan ketabahan, kesabaran dan keikhlasan. Yaknilah bahwa sebenarnya kita membutuhkan kesedihan, sampai kehilangan dalam hidup.

Meski sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak nyaman, tapi tanpa proses-proses tersebut, hidup ini tak bisa berjalan seimbang. Ingatlah bahwa Allah Azza wa Jalla tak pernah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Selalu ada hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik darinya.

Meski berat, yakinlah bahwa kekecewaan yang kita alami tak akan berlangsung selamanya. Yang paling penting, jaga diri kita agar jangan sampai putus harapan.

Karena itulah yang bakal mendorong kita untuk maju. Harapan itu selalu ada selama kita tidak putus asa untuk meraihnya.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa tabah, sabar dan ikhlas  atas segala iradah-Nya untuk meraih ridha-Nya. Aamiin Ya Rabb. Wallahua’lam bishawab.*/Dr Bagya Agung Prabowo, dosen Fakultas Hukum UII

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:jangan merasa memilikikehilanganmemiliki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Keluarga Kiai Ahmad Dahlan Belum Diundang Muktamar, Ini Kata Muhammadiyah
Tulisan selanjutnya Dilaporkan GP Ansor DKI, Faizal Assegaf Klaim NU Mengalami ‘Kemerosotan’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?