Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Tujuan ‘Hidup’ Sesudah Mati

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Februari 2017 11:17 11:17 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Februari 2017 11:17
Bagikan
Bagikan

ISLAM yang dianugrahkan Allah Subhanahu Wata’ala adalah cahaya bagi hati, energi bagi pikiran yang akan menginisiasi berbagai solusi semesta permasalahan. Bukan hanya bagi internal mayarakat muslim, non-muslim, bahkan kecoa, demit dan terumbu karang di dasar lautan. Itulah rahmatan lil ‘alamin.

Seorang kaya bermasalah dengan hartanya. Padahal hartanya banyak. Sebanyak air garam di lautan yang tak kunjung menghilangkan dahaganya. Si miskin pun galau. Padahal belum tentu esok dia tidak makan, tapi rasa takut tidak makan sebulan ke depan membuatnya mati sebelum waktunya. Bila kaya adalah masalah, apakah miskin solusinya? Dan jika dianggap miskin adalah masalah, apakah kaya solusinya? Padahal nyata keduanya adalah mas’alah (baca: pertanyaan) yang membutuhkan jawaban.

Salah satu masalah mendasar masyarakat muslim dewasa ini, paling tidak ini sebatas pandangan cetek saya, mirip-mirip dengan nasib si kaya dan si miskin di atas. Tujuan hidup kita tidak lagi men-satu kepada Maha Satu. Jikapun terpaksa Dia disertakan, maka diposisikan sebagai batu loncatan untuk menggapai beragam tujuan yang remeh-temeh. Tujuannya karir melonjak, batu loncatannya shalat. Maunya harta berlipat, gandakan dengan sadaqah!

Anda Berhak Punya Kehidupan, Berbahagialah!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, pernah ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, “orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.”

Betapa galaunya sekumpulan sahabat miskin itu. Galau dibakar api cemburu. Mereka cemburu melihat orang kaya yang sepertinya bisa lebih mesra dengan Tuhan bermodal sadaqah. Setelah mendengar penjelasan Rasulullah tersebut, bergemberilah mereka. Setelah tahu ternyata orang kaya tidak lebih mesra dengan Allah ketimbang orang miskin.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Masalah mereka bukan miskin. Tujuan mereka bukan kaya. Kaya dan miskin sejatinya adalah wasilah. Tujuannya tiada lain ialah Allah. Tujuan puncak dari segala sub-tujuan. Allahu ghayatuna (Allah Tujuan Kami). Jikapun musti kaya, maksudnya menggembirakan Allah. Haruspun menjadi miskin sepanjang hayat, maka miskinnya untuk Allah. Berkuasa, demi Allah. Menjadi rakyat jelata, untuk Allah.

Dengan kesadaran wasilah dan tujuan itulah masyarakat muslim di era yang Allah nobatkan sebagai khoirul qurun, menjadi terbaik di era yang baik. Berekonomi, berpolitik, bersosial, dan melangsungkan segala rupa wajah kehidupan ini. Sampailah mereka pada gilang-gemilang pencapaian. Begitu susah Umar bin Khattab mencari mustahiq untuk dizakati. Karena negerinya betul-betul gemah ripah loh jinawi.

Inilah salah satu masalah mendasar kita. Masyarakat muslim kehilangan tujuannya. Dikiranya terminal, padahal hanya halte bus. Wajar saja kalau nyasar. Bekal habis. Kelaparan. Bermalam di emperan toko. Ketemu penjahat. Dan begitu seterusnya. Terpaksa menghadapi beragam masalah akibat dari kesalahan fatal menganggap halte adalah terminal. Dikira kaya dan kuasa adalah tujuan, pantas saja sepanjang hidup seperti mengejar bayangan.

Padahal Allah Berfirman;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56). Inilah tujuan utama kita hidup.

Umat muslim harus kembali kepada tujuannya, Allah. Dan diantara garis penghambaan tersebut adalah menjalankan perintah untuk menjadi khalifah. Memakmurkan rumah tempat kita tinggal dengan segala konvigurasinya. Terserah Allah soal pembagian tugas kekhilafahan itu. Ada yang berkhalifah dalam wujud kepemimpinan. Lainnya berkhalifah dalam wujud kerakyatan. Sebagian berkhalifah dengan ilmunya, sisanya berkhalifah dengan hartanya. Dan begitu seterusnya dalam semua tahapan struktur terbesar sampai paling kecil.

Kaidah Kehidupan: Perilaku Lingkungan Cermin Perilaku Kita

Masyarakat muslim saatnya sadar, Allah bukan batu loncatan. Melainkan pucak dari segala hidup sesudah kematian.

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Dan Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya sholat dan sembelihanku, hidup dan matiku, adalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah).” (QS. al-An’am [6]: 162-163).*/Muhammad Rizqi Utama

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Allah Tujuan Kamibatu loncatanHidup Sesudah Matikhoirul qurunmatirahmatan lil ‘alaminshalat Allahu ghayatunatujuan hidupwasilah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perkuat Kerjasama Pendidikan, Konjen RI Temui Rektor Universita Islam Madinah
Tulisan selanjutnya Mendzolimi Pewaris Nabi dan Karakter Yahudi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?