Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Unsur-unsur Asasi Kepemimpinan, Belajar dari Masa Lalu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Maret 2019 14:27 2:27 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Maret 2019 14:30
Bagikan
ilustrasi Dinasti Abbasiyah (Yahyâ ibn Mahmûd al-Wâsitî)
Bagikan

KETIKA membaca lanskap sejarah Islam, yang dipenuhi oleh dinamika kepemimpinan yang silih berganti –baik yang sukses maupun gagal-, kita akan menemukan beberapa unsur yang harus dipenuhi, agar kepemimpinan bisa berdiri tegak.

Di antara unsur itu ialah, kebenaran, kebaikan, keberanian, kecakapan, menajerial, kesabaran (ketahanan), dan kecerdasan. Jika harus dipilih –berdasarkan skala prioritas-, maka yang patut ada ialah keberanian, kesabaran dan kemampuan manajerial (baik menggerakkan atau mengatur pasukan).

Bila pemimpin baik dan benar, namun tidak memiliki keberanian, kesabaran dan kemampuan manajerial, maka ia hanya baik bagi diri sendiri, namun tidak bisa menebarkan kebaikan pada orang lain.

Kalau meminjam istilah al-Qur`an, ia hanya masuk dalam kategori ‘shālih’ (baik secara pribadi), bukan ‘mushlih’ (mampu membuat perbaikan/mentransfer kebaikan pada orang lain’. Itu sebabnya dalam sejarah, pemimpin yang baik dan benar, namun penakut, biasanya malah akan menjadi bumerang bagi negara.

Baca: Enam Dalil Memilih Pemimpin dalam Islam

Sebagai contoh misalnya –tanpa membatasi-, apa yang terjadi pada pemimpin Dinasti Abbāsiyah terakhir, al-Musta`shim Billāh. Secara personal dia memang baik. Ia rajin beribadah, berakidah lurus, banyak membaca al-Qur`an, dermawan. Lihat bagaimana Imam Ibnu Katsīr menggambarkan sosoknya:

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

وقد كان حسن الصورة جيدالسريرة صحيح العقيدة مقتديا بأبيه المستنصر في المعدلة وكثرة الصدقات وإكرام العلماء والعباد

“(al-Musta`shim) memiliki citra, jiwa, akidah yang baik. Ia meneladani bapaknya, al-Mustanshir dalam hal keadilan, banyaknya bersedekah, dan memuliakan ulama dan orang-orang yang beribadah.” (al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 13/204).

Pada tahun 656 H/1258 M, kebaikan dan kebenaran yang diyakininya tak mampu menyelamatkan kota Baghdad dari serbuan Tartar, yang dikomandoi Hulaghu Khan.

Apa ada yang salah dengan kebenaran dan kebaikan? Sebenarnya tidak. Tapi bagi seorang pemimpin, keduanya adalah bagian dari unsur-unsur penting yang dimiliki pemimpin. Keduanya harus beriring, keberanian, kesabaran dan kecakapan dalam manajerial.

Karena tak cakap dalam urusan politik, akhirnya ia salah memilih wazīr, Ibnu al-`Alqami, yang malah bersekongkol dengan pasukan Hulagu khan. Karena tak mempunyai keberanian, ia setuju ketika al-`Alqami mengusulkan untuk mengurangi jumlah pasukan, dan memilih perdamaian dengan Tartar.

Kalau keberanian sudah tanggal, bagaimana mungkin bisa sabar. Akibatnya jelas. Kota Baghdad sebagai mercusuar peradaban dunia kala itu, hangus diluluhlantakkan oleh pasukan Mongol. Sebuah referensi berharga bagi siapa saja yang memilih pemimpin.

Demikian juga sebelumnya, ketika Raja Damaskus Nashir Yusuf mendengar kabar bahwa Miyafarqin sudah diduduki tentara Mongol dan Emirnya Muhammad Al-Ayyubi terbunuh, dan Kota Aleppo dan Harem takluk. Apa yang dilakukannya?

Baca: Hindari Memilih Pemimpin Berwatak Kekanakan

Kondisi demikian membuatnya bingung. Mau melawan takut; mau menyerah juga risikonya juga besar. Sebab ia tahu bahwa tentara Mongol tidak pandang bulu dan suka menyalahi janji. Siapapun bisa dibantai oleh mereka. Akhirnya dia mengumpulkan para panglima untuk mengatasi kondisi genting ini. Apa keputusannya?

Sungguh pengecut. Ia memutuskan untuk lari dari negeri Damaskus. Tidak ada sama sekali upaya untuk melawan atau mempertahankan Negara. Akhirnya, penduduk dan Kota Damaskus menjadi korban keganasan tentara Mongol. Inilah akibat ketika memiliki pemimpin pengecut.

Maka tidak salah jika Imam Al-Mawardi dalam kitab “al-Ahkām al-Sulthāniyyah” menentukan beberapa syarat bagi pemimpin ideal. Di antaranya: adil, berilmu, berpanca indra sehat, berbadan sehat dan yang tak kalah penting adalah pemberani. Sebab, kebaikan, keadilan, ilmu dan berbagai penunjang lain pemimpin lainnya hanya bisa berjalan dengan baik ketika ditopang dengan keberanian.

Dengan demikian, umat mesti hati-hati dalam memilih pemimpin. Pemimpin itu tidak cukup hanya mengandalkan kebaikan dan kepintaran. Perlu ada unsur-unsur lain yang perlu dimiliki misalnya keberanian. Bila tidak, kita hanya mengulang peristiwa sejarah mengenai pemimpin gagal. Dampaknya jelas, masyarakat yang dipimpin akan mengalami kesengsaraan.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ciri pemimpinkepemimpinanmemilih pemimpinpemimpinpemimpin Muslimsejarah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Fahira: Perilaku Islamofobia seperti Fraser Anning Racun Peradaban
Tulisan selanjutnya Komunis China: Ada 13 ‘Teroris’ Ditahan Sejak 2014

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina

Berita
20 Juli 2026 17:00
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?