Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Teladan M Natsir dalam Menyikapi Perbedaan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Juli 2019 18:40 6:40 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Juli 2019 18:40
Bagikan
Negarawan seperti Pak Natsir perlu dijadikan contoh.
Bagikan

“MEREKA bisa berbeda dalam prinsip berpolitik, tetapi perbedaan itu tidak berakibat pada hubungan mereka sebagai sesama teman,” demikian tutur Jakob Oetama dalam buku “Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jako Oetama” (2011: 556) saat menggambarkan sosok Natsir yang sangat lapang jiwanya dalam menyikapi perbedaan.

Dari sepak terjang Natsir selama hidup di Indonesia –yang kaya akan perbedaan dan keragaman– memang banyak sekali contoh yang menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang bijak dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan itu bukan saja menyangkut persoalan khilafiyah, tapi juga sampai ideologi politik kenegaraan.

Pertama, politik boleh beda, tapi pertemanan tetap terjaga. Dalam buku “Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo” (2011: 177) dikisahkan bahwa saat di konstituante, Natsir dan Aidit –yang berseberangan secara ideologi—kerap kali bersitegang pendapat. Sebegitu alotnya sampai Natsir pun ingin melempar Aidit dengan kursi.

Menariknya, itu hanya dalam tataran diskusi. Toh, Natsir pada kenyataannya tak sampai hati memukul Aidit dengan kursi. Malah, seusai rapat, Aidit yang lebih muda membuatkan kopi untuk secangkir kopi dan akhirnya ngobrol dengan hangat seolah tidak ada perbedaan sama sekali.

Ketika Natsir tidak mendapat tumpangan, seringkali Aidit memboncengnya dengan sepeda dari Pejambon untuk berangkat sama-sama. Anda bisa bayangkan antara Partai Komunis dan Masyumi yang ideologinya antara langit dan bumi, ternyata ada titik di mana keduanya bisa menjaga sela-sela persatuan dan kesatuan.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Mungkin di mata Natsir, ideologi Aidit tidak benar. Namun, secara akhlak kemanusiaan, Aidit seperti halnya manusia pada umumnya harus diperlakukan secara manusiawi. Bukankah sifat rahman Allah meliputi segenap makhluknya. Sebagaimana cahaya mentari yang tidak pernah memilih membagi sinarnya kepada siapa saja.

Kedua, pemahaman mendalam mengenai ranah yang bisa kompromi dan yang tak bisa ditolerir. Hal ini memungkinkan beliau bergaul dengan lintas madzhab bahkan agama. Ketika Natsir mengajukan Mosi Integral dalam parlemen RIS (3 April 1950), beliau bisa akur dan saling mendukung misalnya dengan tokoh Katolik seperti I.J. Kasimo dan tokoh non-Muslim lainnya. Ini menunjukkan bahwa Natsir –dengan pemahamannya itu—mampu menempatkan diri dalam bergaul tanpa harus kehilangan ideologi prinsipilnya.

Dalam masalah khilafiyah pun –misalnya perbedaan pandangan mengenai masalah fikih cabang seperti qunut shubuh dll—Natsir tak pernah membesar-besarkannya. Yang dijaga justru persatuan umat. Menurut catatan Ridwan Saidi dalam buku “Zamrud Khatulistiwa” (1993: 70), Natsir menjauhkan diri dari pertengkaran yang disebabkan oleh masalah-masalah khilafiyah.

Ini sangat menarik karena seperti diketahui umum bahwa Natsir adalah murid A. Hassan yang amat vokal terhadap masalah khilafiyah. Bisa jadi, Natsir bersikap demikian karena pengaruh dari gurunya yang lain: H. Agus Salim. Kalau dilihat dari Dewan Dakwah Islamiyah yang beliau gagas, memang lembaga dakwah itu memayungi segenap lembaga dan ormas Islam karena yang dipentingkan adalah persatuan umat. Sikap demikian membuat Natsir arif dalam menyikapi perbedaan.

Ketiga, bukan pendendam. Setajam apapun perbedaan yang dihadapi Natsir, dan seberapa sakitpun perlakuan yang didapatkannya, beliau adalah pribadi yang tak pendendam. Dalam buku “Politik Bermartabat” (2011: 180) disebutkan bahwa saat Sarmidi Mangunsarkoso (1904-1959), tokoh PNI yang pernah menjatuhkan kabinet Natsir meninggal, tanpa canggung dan dendam beliau melayat jenazahnya bahkan tak kuasa menahan tetesan air mata. Dia merasa kehilangan atas kepergian rekan seperjuangan.

Kita tahu bagaimana perlakuan Soeharto yang begitu represif terhadap Buya Natsir. Meski begitu, Natsir tak menyimpan dendam. Malah, saat tahun 1971 Soeharto gagal memperoleh kredit, maka kemudian Natsir ke Jepang dan akhirnya Jepang mengucurkan pelbagai bantuan (Tempo, 2016: 101).

Begitulah teladan baik yang perlu ditiru dari sosok Natsir dalam menghadapi perbedaan. Jika hal itu bisa terwujud, maka akan terbangun iklim yang sejuk di negeri ini di tengah pemecah-belahan umat yang begitu dahsyat. Kita mungkin banyak perbedaan, namun persatuan dan kesatuan tetap harus dipertahankan.* Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dewan DakwahM Natsirmasyumiperbedaanpersatuantoleransi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kuota Jamaah Ditambah, Pemandu Haji Harus Bekerja Lebih Keras
Tulisan selanjutnya Silaturahim Syawal, Berbagi Kisah Dakwah di Ibukota

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?