Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Aisyah Istri Rasulullah dan Syariat Tayamum

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 6 April 2020 09:38 9:38 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 6 April 2020 09:38
Bagikan
Bagikan

Oleh: Abdullah al-Mustofa

 

Hidayatullah.com | “Sungguh, kamu ini wanita yang diberkahi!, seru Abu Bakar – radhiyallahu ‘anhu – kepada puterinya.

“Semoga Allah memberikan pahala kepadamu. Demi Allah, tidaklah suatu perkara turun padamu melainkan Allah menjadikan jalan keluar untukmu, dan menjadikan keberkahan bagi kaum mukminin di dalamnya,” ujar Usaid bin Hudhair kepada Aisyah – radhiyallahu ‘anha -.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, suatu malam dalam sebuah perjalanan perang, ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha – yang mendapatkan undian mengikuti perjalanan suaminya tercinta, kehilangan kalungnya. Maka Rasulullah ﷺ  menghentikan perjalanan untuk mencarinya, lalu yang lainpun ikut berhenti.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Saat itu telah habis persediaan air, maka mereka mendatangi Abu Bakar dan dan berkata: “Cobalah kau lihat apa yang dilakukan ‘Aisyah yang menyebabkan Rasulullah ﷺ  dan seluruh orang mencari-cari, padahal mereka tidak memiliki air. Lalu Abu Bakar mendatangi Rasulullah ﷺ yang saat itu meletakkan kepala beliau di atas pangkuan ‘Aisyah dan tidur. Ia berkata: “Engkau telah menghalangi Rasulullah dan orang-orang dari melanjutkan perjalanan, sedang mereka tidak mendapatkan dan memiliki air.”

Keesokan paginya Rasulullah ﷺ bangun dan hendak berwudhu untuk melaksanakan shalat Shubuh. Beliau mencari air, namun tidak menemukannya. Maka Allah – Subhanallahu wa ta’ala – Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-hamba-Nya menurunkan satu ayat kepada kekasih-Nya ﷺ dengan memberikan rukhsa (kemudahan dan keringanan) berupa diperbolehkannya bersuci dengan cara bertayamum. Ayat yang dimaksud adalah ayat ke-43 dari surah An-Nisaa’.

Atas terjadinya peristiwa itu seorang shohabah bernama Usaid bin al-Hudhari memberikan komentar: “Itu bukanlah keberkahkan kalian yang pertama kali, wahai keluarga Abu Bakar”

Di akhir matan hadits itu ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha – menutup ceritanya dengan berkata: “Lalu kami membangunkan unta yang aku tumpangi, maka kami menemukan kalung itu di bawahnya.”

Peristiwa turunnya ayat itu beserta asbabun nuzulnya adalah benar-benar peristiwa yang besar dan berdampak besar bagi kaum Muslimin.

Sebelum diturunkannya ayat tersebut, kaum Muslimin wajib bersuci dengan berwudhu, belum ada kemudahan dan keringanan berupa tayamum. Rasulullah ﷺ beserta kaum Muslimin sebelum itu tidaklah mendirikan shalat kecuali dengan berwudhu.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa tayamum adalah nikmat bagi umat Islam agar bersyukur. Syariat tayamum adalah kekhususan dan keistimewaan yang diberikan Allah kepada umat Islam, yang tidak diberikan kepada umat-umat lainnya.

Sucinya debu bagi umat Islam juga merupakan salah satu keistimewaan bagi umat Islam, sehingga debu bisa digunakan untuk bersuci bagi umat Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:

“Kita dilebihkan dari umat-umat lain pada tiga hal: shaf-shaf kita dijadikan seperti shaf-shaf para Malaikat, seluruh tanah permukaan bumi dijadikan untuk kita sebagai masjid, serta debunya dijadikan suci untuk kita apabila kita tidak menemukan air.” (Shahih Muslim)

Ada hikmah di balik setiap peristiwa termasuk yang tidak mengenakkan. Berkat terjatuhnya kalung ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha – maka turunlah ayat tayamum tersebut. Atau dengan kata lain, Allah – Subhanallahu wa ta’ala – hendak menurunkan ayat tayamum itu menaqdirkan terjadinya sebuah episode berupa terjatuhnya kalung ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha -. Ringkasnya, berkat ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha – lah Allah – Subhanallahu wa ta’ala – menurunkan ayat itu.

Dalam tafsir Ishaq Al-Busthi disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepada ‘Aisyah : “Betapa besarnya barokah kalungmu. “

Tak heran, Usaid bin Hudhair juga mengatakan: “Itu bukanlah awal keberkahan kalian yang pertama kali, wahai keluarga Abu Bakar!”

Imam Ibnu Hajr menjelaskan perkataan salah satu tokoh Anshor itu dengan mengatakan bahwa itu bukanlah awal barokah kalian wahai keluarga Abu Bakar, akan tetapi telah didahului dengan barokah-barokah selainnya. Yang dimaksud dengan keluarga Abu Bakar adalah diri Abu Bakar sendiri, keluarganya dan yang mengikutinya. Hal itu merupakan bukti yang menunjukkan keutamaan ‘Aisyah dan ayahnya, serta berulangnya barokah dari mereka berdua.

Dalam hadits lain yang senada yang diriwayatkan Ath-Thabrani disebutkan, Abu Bakar – radhiyallahu ‘anhu – memberi label kepada puterinya sebagai wanita yang diberkahi dengan mengatakan: “Innaki lamubarokah” (Sungguh, kamu benar-benar diberkahi) sebanyak tiga kali.

Di dalam hadits lain yang juga diriwayatkan Bukhari, Usaid bin Hudhair mengatakan kepada ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha -:

“Semoga Allah membalasmu dengan segala kebaikan. Sungguh demi Allah, tidaklah terjadi suatu peristiwa menimpa anda yang anda tidak sukai kecuali Allah menjadikannya untuk anda dan Kaum Muslimin sebagai kebaikan.”

Sedangkan di hadits lain yang diriwayatkan Muslim disebutkan dia mengatakan:

“Semoga Allah memberikan pahala kepadamu. Demi Allah, tidaklah suatu perkara turun padamu melainkan Allah menjadikan jalan keluar untukmu, dan menjadikan keberkahan bagi kaum mukminin di dalamnya.”

Ath-Thobari dalam kitab tafsirnya mengutip sebuah hadits dengan jalur riwayat lain. Di dalamnya disebutkan bahwa setelah turunnya ayat tayammum orang-orang menyebut ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha – sebagai wanita yang paling besar barokahnya dengan mengatakan:

“Kami tidak menemukan wanita yang paling besar barokahnya selain dia.”

Benar adanya ucapan-ucapan itu, ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha – yang merupakan anggota keluarga Abu Bakar – radhiyallahu ‘anhu – benar-benar memiliki dan membawa keberkahan dan kebaikan bagi umat Islam. Umat Islam sejak peristiwa itu hingga di zaman paling akhir kelak ikut merasakan keberkahan dari ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha – sehingga merasakan rohmah Allah – Subhanallahu wa ta’ala –. Kaum Muslimin sepanjang masa tidak perlu merasakan kesulitan dan keberatan harus berwudhu ketika tidak memungkinkan menggunakan air seperti ketika tidak terdapat air.

Penulis adalah anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jatim. Tulisan ini pernah dimuat di hidayatullah.com Jumat, 20 Oktober 2015 berjudul “‘Aisyah, Wanita Yang Diberkahi dan Al-Ifkul Akbar [1]”. Dimuat ulang untuk kepentingan aktualitas

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:'AisyahAbu BakarrasulullahSahabatsejarahsirah nabawisirah nabawiyahSyariatTayamum
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya India Manfaatkan Musibah Corona untuk Gebuk Muslim
Tulisan selanjutnya Pria Rusia Tembak Mati Lima Orang karena Ngobrol Terlalu Keras

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?