Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Belajar Perjuangan Mohammad Natsir Langsung dari Anaknya (2-habis)

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 5 Oktober 2023 18:47 6:47 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 29 Agustus 2020 16:17
Bagikan
Tim Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamadun belajar pada Ibu Aisyah Natsir Rahim (80) di rumahnya, Komplek TNI AL Cinere Depok/ISTIMEWA
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Menjadi guru, melahirkan pejuang

Hidayatullah.com | PASANGAN Mohammad Natsir dan Puti Nur Nahar memiliki enam anak M Natsir –Siti Mukhlisa, Ida Natsir (sekarang di PP Darul Falah, Bogor), Abu Hanifah, Aisyah, Fauzi Natsir—semuanya adalah guru.  Pak Natsir dan istrinya adalah seorang guru.

Putri Umi Nur Nahar, istri Pak Natsir adalah seorang bangsawan di Sumbar, masih keluarga dengan Sutan Syahrir. Umi bertemu Pak Natsir di Jong Islamiten Bond (JIB). Umi, dikenal cinta ilmu. Anak-anaknya diminya wajib membeli buku sebulan sekali –khususnya—buku-buku terbitan Balai Pustaka.

Kata Umi untuk menjadi guru yang baik, harus menjadi pembaca yang baik. Umi, meminta anak-anaknya membua perpustakaan pribadi di kamar masing-masing.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Bagi Pak Natsir, guru akan melahirkan kader pejuang.  Tokoh-tokoh pergerakan dan pendiri bangsa, mayoritas adalah guru. Termamsuk Prawito Mangkusasmito, Jenderal Besar TNI Sudirman  dan M Natsir sendiri adalah seorang guru.

Karena kecintaanya pada dunia pendidikan, Mohammad Natsir mendirikan Program Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung tahun 1932-1942.  Lembaga ini tidak berlanjut akibat dibubarkan penjajah Jepang, karena dianggap lembaga partikelir (liar, red). Pendis dibangun untuk umat Islam, yang saat itu susah mendapatkan sekolah yang layak.

Di Pendis, Nur Nahar mengajarkan bahasa Belanda. Saat di rumah, ketika membahas masalah pribadi dengan istrinya, Umi Nur Nahar, M Natsir menggunakan bahasa Belanda, agar tidak diketahui anak-anaknya.   Suatu hari, putrinya bertanya, “Umi kan mengajar bahasa Belanda tiap hari, mengapa kami, anak-anaknya tidak diajar bahara Belanda?” Jawaban Natsir cukup mengagetkan anak-anaknya, “Mengapa harus belajar Belanda, kita sudah merdeka,” kata Pak Natsir ditirukan Aisyah Natsir Rahim.

M Natsir sendiri menguasai berbagai bahasa. Diantaranya bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Arab, dan Esperanto.

3 laci M Natsir

Meski dikenal seorang tokoh sibuk, pernah beberapa kali menjadi menteri dan pernah menjababat wakil perdana menteri, ia selalu perhatian keluarga dan istrinya.

Sejak berkantor di DDII era 1970, Pak Natsir, setiap siang ia selalu ditelpon istrinya untuk makan di rumah.  “Meja makan adalah sarana nilai-nilai penyampaian pendidikan, “ kata Pak Natsir. “Harus ada kebersamaan antara ayah, ibu dan anak di meja makan. Di situlah pendidikan paling berkesan.”

Pak Natsir dikenal selalu perhatian kepada anak-anak biologis bahkan anak ideologis (kadernya). Tidak sedikit para kadernya menjadi saksi, difasilitasi sebelum menikah, membeli jas sebelum pernikahan dll. Selain itu, menurut Aisyah, Pak Natsir juga menanggung banyak orang di rumahnya. “Ada 25 orang tinggal di rumah Pak Natsir di Jalan Cokroaminoto. Beliau menanggung sanak-saudaranya.

Ibu Aisyah bercerita, ayahnya memiliki tiga laci. Pertama, laci uang perjuangan. Kedua laci uang priabad  M Natsir dan ketiga, laci untuk uang keluarga.

Meski Umi NurNahar memegang tiga kunci laci, kata Aisyah, tidak satupun ibunya membuka laci khusus uang perjuangan umat. “Meski para tokoh –seperti AR Baswedan dan beberapa pendiri bangsa– datang ke rumah, Umi tidak pernah menggunakan dan membua laci perjuangan,” kata Aisyah.

Rumah mantan menteri dan Perdana Menteri Indonesia ke-5, Mohammad Natsir (Wikipedia)

Bahkan meski Pak Natsir menjabat sebagai pejabat negara, Umi Nur Nahar tidak pernah menggunakan atau memanfaatkan jabatan suaminya untuk kepentingan pribadi. Umi, selalu berangkat dan pergi ke pasar hanya naik becak, kata Aisyah.*/Hadi Nur, founder Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamadun

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:M NatsirmasyumiMohammad Natsi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ahli Sejarah Turki: Belum Adanya Dokumen Sejarah Bukan Berarti Hubugan Utsmani-Jawa Tidak Ada
Tulisan selanjutnya Ecowas Minta Mali Segera Gelar Pemilu dan Bentuk Pemerintahan Sipil

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Berita
31 Agustus 2026 19:36
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?