Sambungan artikel PERTAMA
Menjadi guru, melahirkan pejuang
Hidayatullah.com | PASANGAN Mohammad Natsir dan Puti Nur Nahar memiliki enam anak M Natsir –Siti Mukhlisa, Ida Natsir (sekarang di PP Darul Falah, Bogor), Abu Hanifah, Aisyah, Fauzi Natsir—semuanya adalah guru. Pak Natsir dan istrinya adalah seorang guru.
Putri Umi Nur Nahar, istri Pak Natsir adalah seorang bangsawan di Sumbar, masih keluarga dengan Sutan Syahrir. Umi bertemu Pak Natsir di Jong Islamiten Bond (JIB). Umi, dikenal cinta ilmu. Anak-anaknya diminya wajib membeli buku sebulan sekali –khususnya—buku-buku terbitan Balai Pustaka.
Kata Umi untuk menjadi guru yang baik, harus menjadi pembaca yang baik. Umi, meminta anak-anaknya membua perpustakaan pribadi di kamar masing-masing.
Bagi Pak Natsir, guru akan melahirkan kader pejuang. Tokoh-tokoh pergerakan dan pendiri bangsa, mayoritas adalah guru. Termamsuk Prawito Mangkusasmito, Jenderal Besar TNI Sudirman dan M Natsir sendiri adalah seorang guru.
Karena kecintaanya pada dunia pendidikan, Mohammad Natsir mendirikan Program Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung tahun 1932-1942. Lembaga ini tidak berlanjut akibat dibubarkan penjajah Jepang, karena dianggap lembaga partikelir (liar, red). Pendis dibangun untuk umat Islam, yang saat itu susah mendapatkan sekolah yang layak.
Di Pendis, Nur Nahar mengajarkan bahasa Belanda. Saat di rumah, ketika membahas masalah pribadi dengan istrinya, Umi Nur Nahar, M Natsir menggunakan bahasa Belanda, agar tidak diketahui anak-anaknya. Suatu hari, putrinya bertanya, “Umi kan mengajar bahasa Belanda tiap hari, mengapa kami, anak-anaknya tidak diajar bahara Belanda?” Jawaban Natsir cukup mengagetkan anak-anaknya, “Mengapa harus belajar Belanda, kita sudah merdeka,” kata Pak Natsir ditirukan Aisyah Natsir Rahim.
M Natsir sendiri menguasai berbagai bahasa. Diantaranya bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Arab, dan Esperanto.
3 laci M Natsir
Meski dikenal seorang tokoh sibuk, pernah beberapa kali menjadi menteri dan pernah menjababat wakil perdana menteri, ia selalu perhatian keluarga dan istrinya.
Sejak berkantor di DDII era 1970, Pak Natsir, setiap siang ia selalu ditelpon istrinya untuk makan di rumah. “Meja makan adalah sarana nilai-nilai penyampaian pendidikan, “ kata Pak Natsir. “Harus ada kebersamaan antara ayah, ibu dan anak di meja makan. Di situlah pendidikan paling berkesan.”
Pak Natsir dikenal selalu perhatian kepada anak-anak biologis bahkan anak ideologis (kadernya). Tidak sedikit para kadernya menjadi saksi, difasilitasi sebelum menikah, membeli jas sebelum pernikahan dll. Selain itu, menurut Aisyah, Pak Natsir juga menanggung banyak orang di rumahnya. “Ada 25 orang tinggal di rumah Pak Natsir di Jalan Cokroaminoto. Beliau menanggung sanak-saudaranya.
Ibu Aisyah bercerita, ayahnya memiliki tiga laci. Pertama, laci uang perjuangan. Kedua laci uang priabad M Natsir dan ketiga, laci untuk uang keluarga.
Meski Umi NurNahar memegang tiga kunci laci, kata Aisyah, tidak satupun ibunya membuka laci khusus uang perjuangan umat. “Meski para tokoh –seperti AR Baswedan dan beberapa pendiri bangsa– datang ke rumah, Umi tidak pernah menggunakan dan membua laci perjuangan,” kata Aisyah.

Bahkan meski Pak Natsir menjabat sebagai pejabat negara, Umi Nur Nahar tidak pernah menggunakan atau memanfaatkan jabatan suaminya untuk kepentingan pribadi. Umi, selalu berangkat dan pergi ke pasar hanya naik becak, kata Aisyah.*/Hadi Nur, founder Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamadun