Hidayatullah.com—Negara-negara tetangga Mali di kawasan Afrika Barat sekali lagi sepakat agar negara yang baru mengalami kudeta itu segera kembali mengangkat orang sipil sebagai pemimpinnya.
Keputusan itu diambil setelah pekan lalu militer menggusur Ibrahim Boubacar Keita dari kursi kepresidenan yang sah.
Dalam konferensi tingkat tinggi yang digelar secara virtual hari Jumat (28/8/2020), para pemimpin 15 negara yang tergabung dalam organisasi regional Ecowas menyeru agar tentara Mali segera kembali kebarak dan pemilihan umum digelar paling lambat 12 bulan ke depan.
Ecowas mengatakan pemerintahan transisi harus diawasi oleh sipil.
Namun, junta militer yang dikenal sebagai National Committee for the People’s Salvation, sudah bicara soal masa transisi yang bisa berlangsung sampai dua tahun.
Tentara sudah melepaskan Keita dari tahanan mereka, yang juga merupakan persyaratan yang diminta Ecowas untuk bersedia bertemu dengan para pemimpin militer pemberontak awal pekan ini, lansir BBC.
Namun, blok kerja sama regional tersebut mengatakan pembebasan Keita semata tidak mencukupi untuk memulihkan situasi di Mali.
Ecowas sudah menjatuhkan sanksi kepada Mali, termasuk penutupan perbatasan dengan negara tetangga, menangguhkan keanggotaannya dan membatasi perdagangan dengan Mali.
Ecowas dalam KTT hari Jumat mengatakan akan mencabut sanksi-sanksi tersebut secara bertahap seiring dengan kembalinya pemerintahan sipil di Mali.*