Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Kisah H. Agus Salim dalam Majalah Al-Imam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Agustus 2021 14:22 2:22 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Agustus 2021 14:22
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | BUYA Hamka dalam buku “Ayahku” (1982: 97), saat menyinggung masalah majalah Al-Imam, beliau menyebutkan bahwa dalam majalah yang terbit tahun 1906 itu, ada pemberitaan tentang berlayarnya haji Agus Salim saat diantar oleh ayahnya Muhammad Salim menjadi Konsulat di Jedah. Berita ini dimuat di majalah edisi ketiga. Kemudian pada edisi kelima ada pertanyaan apakah Agus Salim seorang muslim.

Majalah Al-Imam (1906-1909), didirikan oleh seorang keturunan Arab yang tinggal di Singapura yaitu Syekh Muhammad bin Salim Alkalali yang berkawan dengan Syekh Thahir Jalaluddin (yang baru lulus dari Al-Azhar Mesir). Majalah ini terbit pertama kali pada Jumadil Akhir 1324 H (1906).

Setelah penulis cek langsung ke majalah Al-Imam sesuai dengan yang diceritakan Hamka, memang benar adanya. Hamka benar-benar menjaga amanah ilmiah. Berikut ini akan saya tulis salinan versi Indonesia yang versinya ditulis dengan huruf Arab melayu terkait pemberitaan dari majalah Al-Imam yang mengenai majalah Al-Imam. Gambar terlampir.

***

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Judul:

SELAMAT BERLAYAR

“Datang ziarah kepada kami yang berhormat Hoofdjaksa Tanjung Pinang Engku Sutan Muhammad Salim serta Incek yang bernama Agus yang telah mendapat pangkat sekretaris konsul (konsulat) Belanda di Jeddah. Maka, ianya akan berlayar di dalam kapal milik Belanda yang bernama Kuning Willem 1 dari Singapura pada 15 September 1906 ke Port Said (Mesir) dan dari sana terus ke Jeddah. Maka diharapkan selamat di dalam pelayarannya serta kesempurnaan di dalam pangkatnya adalah Incek Agus itu terajar dengan pelajaran Eropa yang tinggi dengan belanja daripada ayahnya sendiri. Dan dengan bersungguh-sungguh dan usahanya daripada kecilnya mendapatlah ianya ketika besarnya meringankan pada sangka kami beberapa kesusahan saudaranya yang muslimin perkara pas orang yang naik turun ke Mekkah Musyarrafah.” (Selesai Nukilan)

Kemudian, di majalah Al-Imam edisi kelima, disebutkan pertanyaan yang menyangsikan keislaman Agus Salim muda. Pertanyaan ini datang dari Haji Muhammad Nur asal Tanjung Pura Langkat.

Berikut ini salinan latin dari pertanyaan yang ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Adapun gambar terlampir.

“Soal: Dari Incek Agus yang tersebut di dalam Al-Imam edisi yang ketiga yang pergi ke Jeddah menjadi Sekretaris Konsul (Konsulat) Belanda di sana muslimkah ia itu atau tidak?”

“Jawab: Bahkan ianya muslim untuk muslim mengucap dua kalimat syahadat dan beriktiqad dengan iktiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Maka suykur kita kepada Allah yang ianya itu seorang muda mempunyai pelajaran Eropa yang tinggi maka mengerjakan ia akan sembahyang tidaklah seumpama setengah daripada orang yang mendakwahkan dirinya muslim telah putih rambutnya di kepalanya tidak menghadapkan dadanya ke kiblat sebulan sekali. Tetapi ghalib orang muda yang empunya pelajaran seumpama Incek Agus Salim ini sukarlah masuk kepadana segala iktiqad yang karut-karut yang tidak diterima oleh akal manusia yang sejahtera seumpama iktiqad keadaan dunia ini duduknya di atas tanduk lembu (maksudnya bumi terletak di atas tanduk lembu. Pen) dan seumpamanya. Dan kami terangkan lagi adalah Incek Agus Salim itu waktu ia hendak berlayar berpesan ianya kepada kami minta masukkan di dalam Al-Imam selamanya dan pengharapan doa dan maaf daripada segalah sahabat kenalannya yang membaca Al-Imam ini maka oleh karena ianya telah diangkat menjadi wakil Al-Imam di Jeddah serta pula kebetulan kami kembali kepada menyebutkan dia sekali lagi di dalam Al-Imam ini. Inilah kami persampaikan pesannya itu.” (Selesai Nukilan)

***

Dari kisah yang dinukil Hamka ini, dan kesesuainnya dalam mengutip informasi mengenai haji Agus Salim, serta konten yang diinformasikan majalah Al-Imam terkait pelayaran Agus Salim ke Jeddah ketika diangkan menjadi konsulat, ada banyak pelajaran berharga. Di antaranya:

Pertama, Sebagai penulis, Hamka mengajarkan pentingnya amanah ilmiah dalam kepenulisan. Jika sesuatu itu informasinya diambil dari suatu sumber, maka jangan lupa menyebut sumbernya. Itu bagian penting dari penulisan ilmiah. Kalau tulisan orang diambil tanpa menyebut sumber, maka akan terjatuh pada plagiasi.

Kedua, Agus Salim lahir tahun 1884. Jadi, ketika berlayar pada tahun 1906 usianya sekitar 22 tahun. Di usia semuda itu sudah memiliki prestasi yang cukup membanggakan pada masanya yaitu menjadi Konsulat di Jeddah.

Ketiga, keberadaan Agus Salim di Jeddah, oleh Redaktur Al-Imam dianggap sebagai muslim yang bisa mempermudah saudara sesama muslim lainnya. Di antarnya adalah urusan haji di Mekkah yang mulia. Artinya, Agus Salim memberi pelajaran berharga mengenai manfaat sosial.

Keempat, Agus Salim adalah seorang pemuda muslim yang baik dan berkeyakinan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Meski seorang terpelajar dan jebolan sekolah didikan Eropa, hal itu tidak lantas membuat keyakinannya luntur. Ibadahnya tetap dijaga. Tidak seperti orang pada umumnya yang mengaku muslim tapi hingga usia tua untuk shalat sebulan sekali menghadap kiblat saja tidak. Agus Salim juga tidak gampang terbujuk dengan aliran-aliran menyimpang. Ini menunjukkan kekuatan keilmuan dan akalnya.

Kelima, di usia semuda iu beliau juga menjadi wakil majalah Al-Imam atau menjadi jurnalis. Artinya sejak muda sudah bergelut dengan dunia kepenulisan. Maka tidak mengherankan ketika di kemudian hari beliau aktif dalam dunia kepenulisan dan berjuang juga menggunakan penanya yang tajam. Terakhir yang tak kalah penting, meski sudah mendapat jabatan mentereng, beliau tidak lupa dengan kawan-kawannya. Beliau menyampaikan salamnya melalui majalah Al-Imam.

Itulah pelajaran berharga terkait kisah H. Agus Salim muda yang berlayar ke Jeddah tahun 1906. Semoga penulis dan membaca bisa meneladaninya.*/ Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agus salimAl ImamBuya Hamkamajalahprofil
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya kedutaan besar turki Turki Beri Ganti Rumah Baru Warga Terdampak Kebakaran Hutan
Tulisan selanjutnya pengacara banding habib rizieq Tim Kuasa Hukum Habib Rizieq Sayangkan Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?

Berita
27 Agustus 2026 11:44
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?