Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Nyai Siti Walidah Dahlan: Sang Pelopor Kesadaran Pendidikan Perempuan Jawa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Oktober 2022 20:56 8:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Oktober 2022 21:45
Bagikan
Bersama dengan suaminya, Kiai H. Ahmad Dahlan, Siti Walidah turut berperan dalam mendidik kaum perempuan melalui aktivitasnya di Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Bagikan

Melalui Sopo Tresno dan Aisyah, Nyai Dahlan atau Siti Walidah Dahlan menjadikan media kelompok pengajian khusus perempuan sekaligus belajar Al-Qur’an, ilmu agama, dan keterampilan

Hidayatullah.com | NYAI SITI WALIDAH  atau biasa dikenal sebagai Nyai Dahlan merupakan salah satu tokoh perempuan Muslim yang telah mengukir sejarah dalam pergerakan perempuan di Indonesia.  Bersama dengan suaminya, Kiai H. Ahmad Dahlan, Siti Walidah turut berperan dalam mendidik kaum perempuan melalui aktivitasnya di Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Nyai Dahlan dilahirkan di Yogyakarta dengan nama Siti Walidah tahun 1872 M di tengah-tengah keluarga santri yang taat beragama. Ayahnya seorang penghulu Keraton, H. Muhammad Fadlil bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim. Sementara itu, ibunya, dikenal dengan sebutan Nyai Mas berasal dari Kampung Kauman[1].

Keluarga Siti Walidah adalah keluarga sederhana. Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, di samping bekerja sebagai penghulu keraton, Kiai Fadlil juga berdagang batik. Layaknya penduduk kampung Kauman pada umumnya, masa kecil Siti Walidah dihabiskan untuk belajar mengaji Al-Qur’an dan kitab-kitab agama dalam Arab Pegon (berhuruf hijaiyah dan berbahasa Jawa).

Sejak kecil, ia tidak pernah mendapat pendidikan formal di sekolah umum. Ini disebabkan adanya pandangan masyarakat Kauman pada waktu itu, bahwa belajar di sekolah umum (sekolah yang didirikan Belanda) dianggap haram karena orang Barat (Belanda) itu dianggap kafir. Semua produk dan tiruan barat dinilai haram, termasuk juga sekolah.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Akibatnya, generasi yang hidup semasanya tidak sempat mengenyam pendidikan formal di sekolah. Di samping itu, terdapat anggapan bahwa kaum wanita tidak dibenarkan keluar dari rumahnya, harus tinggal di kamar atau di dapur.

Di Kauman sampai dengan sekitar tahun 1900-an, belum luas diterima pandangan tentang pentingnya pendidikan formal di sekolah. Pada masa itu masyarakat Kauman berpendapat bahwa pendidikan formal di sekolah bagi anak perempuan dipandang akan menurunkan kesusilaan.

Oleh karena itu, pendidikan yang diterima Siti Walidah cukup dari lingkungan keluarga yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Selain pendidikan keagamaan, ia juga belajar keterampilan, seperti menjahit, menyulam, membatik, dan keterampilan-keterampilan lainnya yang dapat dikerjakan di dalam rumah[2].

Siti Walidah menikah dengan Ahmad Dahlan pada 1889 M di umurnya yang ke-19. Dari hasil pernikahannya, ia dikaruniai 6 orang anak. Nyai Dahlan tidak hanya berperan sebagai istri dan juga ibu dalam rumahnya.

Ia menempatkan dirinya sebagai bagian dan teman bagi perjuangan suaminya, yaitu dengan merintis perkumpulan perempuan untuk membangun kesadaran dalam berpendidikan. Nyai Ahmad Dahlan menyadari bahwa suaminya mengemban tugas yang besar dalam memperjuangkan dakwah Islam maka sebagai istri ia berusaha dapat mengimbangi dan mendukung cita-cita suaminya.

Apa yang dilakukan dan diperjuangkan oleh Nyai Dahlan tidak terlepas dari izin serta dukungan suaminya, dan tentu pula tidak menutup perannya sebagai ibu bagi anak-anaknya. Nyai Dahlan tetap memegang peran penting dalam mendidik dan mengawasi pendidikan putra-putrinya.

Setelah menikah dengan Ahmad Dahlan, kehidupan sehari-hari Siti Walidah menjadi perhatian banyak orang karena ia mengikuti suaminya dalam pergerakan Muhammadiyah. Seringkali Kiai Dahlan menyerahkan pekerjaan-pekerjaan Muhammadiyah yang terkait dengan perempuan kepada Nyai Dahlan. Oleh karena itu, ia kerap dijuluki Ibu Muhammadiyah[3].

Bagi Nyai Dahlan, Kiai Dahlan adalah suami sekaligus gurunya. Ia merasa belajar banyak dari pengalamannya mendampingi sang suami yang tekun dan gigih membesarkan Muhammadiyah.[4]

Kiai  Dahlan menyadari betul betapa pentingnya melibatkan semua golongan, baik pria maupun wanita, dalam membangun bangsa dan mendakwahkan agama. Kesadaran ini ditanamkan pada istrinya dengan mengajarkan pengetahuan mengenai wanita dalam perspektif Islam.

Bersamaan dengan itu, Kiai Dahlan juga memberikan kesempatan yang sama agar para wanita mampu mengurus dirinya. Ia berpendapat, kalau saja para wanita memiliki wadah sendiri untuk mengurus dirinya maka mereka akan mampu menyinergikan potensi yang ada pada diri mereka. Untuk itu, kehadiran sebuah perkumpulan wanita merupakan suatu keharusan.[5]

Mendirikan Aisiyah                                                                     

Perjuangan Nyai Dahlan muncul dari kehidupan perempuan di kampung Kauman yang ketika itu mereka tidak diperkenankan keluar rumah sebagaimana laki-laki, termasuk dalam soal pendidikan. Aktivitas yang dilakukan perempuan hanya sebatas dalam rumah saja.

Oleh sebab itu, Kiai Dahlan bersama dengan Nyai Dahlan memiliki gagasan tentang kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam urusan pendidikan. Dengan diberikan pendidikan maka perempuan akan lebih cakap dalam menggerakkan tugasnya sebagai seorang ibu yang akan mendidik anak-anaknya dan mengerti tentang agamanya.

Pada tahun 1914, Nyai Dahlan membuat perkumpulan kelompok perempuan yang diberi nama Sopo Tresno. Sopo Tresno belumlah menjadi sebuah organisasi, hanya kelompok pengajian perempuan yang terdiri dari gadis hingga perempuan-perempuan tua yang belajar Al-Qur’an, ilmu agama, dan keterampilan.

Melalui Sopo Tresno, Nyai Dahlan mencoba menyadarkan kaumnya bahwa pandangan seperti itu tidak berdasar. Dalam pandangannya para wanita adalah partner kaum lelaki dan mereka sendirilah yang harus mempertangungjawabkan hidupnya kepada Allah kelak. Argumentasi Nyai Ahmad Dahlan ini didasarkan pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2] : 228 dan Surah An Nahl [16] : 97 yang artinya[6]:

ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ ٱلَّذِى عَلَيْهِنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan para wanita itu mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yag ma’ruf.”  (QS: Al Baqarah [2] : 228)

مَنۡ عَمِلَ صَالِحًـا مِّنۡ ذَكَرٍ اَوۡ اُنۡثٰى وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَلَـنُحۡيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً‌ ۚ وَلَـنَجۡزِيَـنَّهُمۡ اَجۡرَهُمۡ بِاَحۡسَنِ مَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ‏

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: An Nahl [16] : 97)

Melalui perkumpulan Sopo Tresno inilah Nyai Dahlan berusaha menanamkan kesadaran kepada kaum perempuan tentang guna dan tujuan pendidikan. Usaha yang dilakukan ialah dengan mengadakan pengajian keagamaan bagi kaum perempuan dengan membahas ayat-ayat Al-Quran dengan isu-isu seputar perempuan dan keluarga, belajar mengaji, membaca, menulis, serta mempelajari keterampilan seperti menjahit, menyulam, dan membatik. Kelompok Sopo Tresno mampu merambah hingga kalangan  masyarakat bawah, seperti para buruh dan pembantu rumah tangga.

Melihat perkembangan positif dari perkumpulan tersebut, dalam sebuah pertemuan di rumah Nyai Ahmad Dahlan yang dihadiri oleh Kiai Muchtar, Kiai Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, Kiai Haji Fachrudin dan pengurus Muhammadiyah lainnya, mereka sepakat untuk mengembangkan perkumpulan pengajian Sopo Tresno menjadi sebuah pengajian organisai wanita islam yang mapan dan dilengkapi dengan anggaran dasar dan peraturan organisasi lainnya.

Awalnya, ada yang mengusulkan nama Fatimah, tetapi banyak yang tidak setuju. Lalu diusulkan nama Aisyiyah oleh Almarhum Haji Fachruddin. Nama terakhir itulah yang diterima oleh forum karena diambil dari nama istri Nabi Muhammad ﷺ, Siti Aisyah.

Dari nama itu diharapkan agar perjuangan Siti Aisyah dalam mendakwahkan Islam dapat diwarisi oleh pergerakan Aisyiyah. Setelah semua setuju maka tanggal 22 April 1917 M bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1355 H Organisai Aisyiyah diresmikan[7].

Aisyiyah menjadi organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Organisasi ini diketuai oleh Nyai Dahlan, dengan anggota-anggotanya yang merupakan gadis-gadis dan perempuan-perempuan yang sudah berumah tangga.

Dari kepemimpinan dan perjuangannya itulah perempuan-perempuan merasa terangkat derajat dan kedudukannya. Mereka mengerti status mereka sebagai istri terhadap suaminya.

Sebagai ibu, mereka bertanggung jawab dengan memberikan dan memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya. Nyai Dahlan selalu menekankan bahwa menjadi perempuan itu haruslah pintar karena seorang anak tentu akan mendapat pendidikan pertamanya lewat orangtua dan keluarganya.

Maka dari itu, peran ibu sangatlah penting dan mempunyai tanggung jawab besar dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Nyai Dahlan selalu memberikan nasihatnya kepada para murid perempuannya, yakni agar perempuan jangan memiliki jiwa yang kerdil tetapi berjiwa srikandi.

Perhatian Nyai Dahlan terhadap pendidikan Islam sangat besar. Sebagaimana Ahmad Dahlan, Nyai Dahlan menyepakati suatu formula yang dikenal dengan istilah “Catur Pusat”, yaitu pendidikan di dalam lingkungan keluarga; pendidikan di dalam lingkungan masyarakat; dan pendidikan di dalam lingkungan tempat ibadah.[8] Kiai Dahlan dan Nyai Dahlan sangatlah tegas dalam pendidikan.

Bagi mereka, perempuan atau laki-laki sama saja dalam urusan pendidikan. Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang Muslim, laki-laki atau perempuan, tua ataupun muda, mereka tetap mempunyai kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Kenyataannya, karena pengaruh cara pandang diskriminatif  penjajah Barat terhadap kaum wanita, saat itu pada umumnya pendidikan banyak dimonopoli kaum lelaki. Sedikit sekali kaum wanita yang dapat mengenyam pendidikan.

Hal ini yang mendorong Kiai Dahlan untuk memperluas pendidikan hingga kepada kaum wanita. Bagi Kiai Dahlan, wanita merupakan aset umat dan bangsa. Ia berpendapat tidak mungkin membangun peradaban umat manusia apabila para wanita hanya dibiarkan berdiam diri di dapur dan rumah saja. Untuk itu, sekolah-sekolah Muhammadiyah mempersilakan kaum wanita dan pria untuk belajar di sekolah. Keduanya memiliki hak yang sama dalam menuntut ilmu pengetahuan[9].

Nyai Dahlan mempunyai ide untuk mendirikan asrama khusus bagi kaum wanita. Pendidikan formal untuk wanita pada waktu itu sudah ada yang dikelola Muhammadiyah maka Nyai Dahlan mempunyai pikiran lain.

Untuk penyempurnaan pendidikan bagi kaum wanita, perlu diadakan pendidikan nonformal atau asrama (pondok) sebab pada waktu itu asrama yang ada hanya menampung kaum laki-laki. Asrama khusus kaum wanita itu diperkirakan berdiri pada tahun 1918 karena saat itu sudah banyak wanita yang bersekolah, khususnya di sekolah Pawiyatan.

Namun, pendidikan di luar rumah, terutama kejuruan, umumnya masih diabaikan orangtua. Asrama yang didirikan oleh Nyai Dahlan di rumahnya itu diharapkan dapat mendidik kaum wanita, khususnya di bidang pendidikan agama dalam segala hal yang menyangkut bidang keputrian.[10]

***

Nyai Dahlan merupakan sosok teladan perempuan dalam sejarah. Kecerdasannya, kelembutan bahasa, dan baik budi pekertinya membuat beliau menjadi sosok yang dicintai oleh banyak orang.

Nyai Dahlan adalah seorang Muslimah yang berjuang dalam  menegakkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan sosial. Organisasi Aisyiyah yang saat ini masih berdiri, dalam tumbuhnya telah membuktikan banyak munculnya generasi-generasi ulama perempuan yang cerdas, yang tentu ini tidak terlepas dari semangat perjuangan Nyai Dahlan dalam mendidik perempuan-perempuan Aisyiyah.

Perjuangan yang telah dilakukan oleh Nyai Dahlan tentu sangatlah besar dan tentu memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat, terutama kaum wanita. Atas jasa-jasa yang telah dilakukan Nyai Dahlan kepada agama, bangsa, dan negara, pemerintah RI memberinya gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 22 September 1971.

Nyai Dahlan wafat pada 13 Mei 1946 di usianya yang ke-72 tahun. Wafatnya Nyai Dahlan tidak seketika mematikan perjuangannya. Beliau berpesan kepada murid-muridnya untuk selalu menjaga dan memperjuangkan Aisyiyah.

“Saya titipkan Muhammadiyah dan Aisyiah kepadamu sebagaimana almarhum K.H. Ahmad Dahlan menitipkannya. Menitipkan berarti melanjutkan perjuangan umat Islam Indonesia ke arah perbaikan hidup bangsa Indonesia yang berdasarkan cita-cita luhur mencapai kemerdekaan.”[11].*/Dina Farhana, artikel dimuat di The Gender Centre (TGC)

Daftar Pustaka

[1]M. Yunan Yusuf, Ensiklopedi Muhammadiyah,  Rajawali Press, 2005, hal : 392

[2] Ibid. hal: 392

[3]H.M. Yunus Anis, Nyai A. Dahlan Ibu Muhammadiyah dan Aisiyah Pelopor Pergerakan Indonesia, Yogyakarta: Yayasan Mercusuar, 1968, hal 8-9

[4]Kamajaya, Sembilan Srikandi Pahlawan Nasional, hlm. 40

[5]Jajat Burhanudin, Ulama perempuan Indonesia, Jakarta : Gramedia, 2002, hal:47

[6]M. Yunan Yusuf, Ensiklopedi Muhammadiyah, hal:394

[7] Ibid. hal : 395

[8]Jajat Burhanudin, Ulama perempuan Indonesia,  hal : 53

[9]  Ibid. hal: 54

[10] Ibid. Hal : 56

[11] Ibid. hal : 61

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:'aisyiyahAhmad DahlanNyai DahlanNyai Siti Walidah Dahlan. Siti Walidah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya OKI Mengadopsi Deklarasi Istanbul, Perangi Islamofobia dan Disinformasi di Seluruh Dunia
Tulisan selanjutnya Perempuan Berpistol Coba Terobos Istana, Kapolda Metro: Ini Bukan Teror

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Gelar IACFS ke-10, Perkuat Peran Fatwa dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia

Berita
9 Juli 2026 19:00
Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi
Menko Yusril Sebut Penyebarluasan LGBT Perlu Diantisipasi demi Ketahanan Nasional
Hampir 6.000 Awak Kapal Masih Tertahan di Teluk Arab
Seorang Dokter Jerman Bunuh Sedikitnya 15 Pasien

Terbaru

  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?