Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Ulama-Umara dalam Sejarah Daulah Utsmani [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Maret 2015 08:58 8:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Maret 2015 08:00
Bagikan
Syeikh Aq Syamsuddin (bawah) sebagai guru spiritual Sultan Muhammad al-Fatih (Ilustrasi)
Bagikan

Oleh: Alwi Alatas

SEORANG pemuda tertidur saat berkunjung ke sebuah zawiyah, pusat kegiatan sufi, yang terletak di kawasan Bilecik, Asia Minor (kini Turki). Zawiyah ini dipimpin oleh Syeikh Edebali (w. 1326/7), seorang ulama penting di wilayah itu. Ini bukan pertama kalinya ia mengunjungi tempat itu, tetapi kini ada hal berbeda yang dialaminya.

Dalam tidurnya pemuda itu bermimpi, yang kelak menjadi kisah dan tutur kata masyarakat selama beberapa generasi. Di dalam mimpinya, ia melihat bulan keluar dari dada Syeikh Edebali dan masuk ke perutnya. Kemudian dari perut pemuda itu keluar sebuah pohon yang tumbuh besar. Dahan dan cabangnya menjulang ke langit, menaungi belahan dunia. Di bawah naungan pohon itu, pegunungan berdiri tegak dan sungai-sungai mengalir jauh.

Pemuda itu terbangun, dan beberapa waktu kemudian menceritakan mimpinya itu pada Syeikh Edebali. Sang Syeikh menjelaskan makna mimpi tersebut. “Allah Yang Maha Kuasa akan menganugerahkan kesultanan kepadamu dan kepada anak keturunanmu. Semoga ia diberkati! Dan puteri saya akan menjadi istrimu” (Akgunduz, 2011: 45; Rosenwein, 2014: 451)

Syeikh Edebali kemudian menikahkan puterinya dengan pemuda itu. Ia memang bukan pemuda biasa. Ia adalah seorang emir (pangeran atau pejabat) di kawasan itu. Sang pemuda nantinya benar-benar menjadi seorang pendiri kesultanan baru, kesultanan yang bukan hanya memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas, tetapi juga melewati rentang waktu yang sangat panjang, hingga lebih dari enam abad. Kesultanan itu nantinya dikenal sebagai Turki Utsmani, dan pemuda itu bernama Utsman (Osman), atau kadang disebut juga sebagai Utsman Ghazi.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Mimpi Utsman (w. 1326) mungkin lebih bersifat legenda ketimbang sejarah, karena kisahnya baru ditulis jauh setelah kejadiannya (sebelumnya hanya bersifat oral atau cerita lisan). Terlepas dari itu, Kesultanan Utsmani kemudian memang tumbuh besar dan kuat, bahkan menjadi sebuah Kekhalifahan Islam. Pada masa puncaknya, ia menaungi dunia Islam dari Barat hingga ke Timur, dari Afrika Utara dan sebagian Eropa, hingga ke Syam, Hijaz, dan Iraq. Bahkan Kesultanan Aceh yang jauh di Timur dikatakan pernah juga menerima bantuan dari Turki Utsmani.

Pemerintahan Turki Utsmani baru berakhir beberapa tahun setelah Perang Dunia I. Stanley Lane-Poole (w. 1931), dalam bukunya Turkey (1941: 9)  yang diterbitkan pertama kali tahun 1888, menulis, “Mulai dari Ertoghrul [ayah Utsman, pen.] hingga Sultan Turki yang sekarang, tiga puluh lima pangeran dari jalur lelaki telah memerintah Kekaisaran Utsmani tanpa adanya selaan dalam pergantian kekuasaan. Tidak ada contoh kesinambungan kekuasaan semacam itu dari satu keluarga tunggal di dalam sejarah Eropa.”

Kesultanan Turki Utsmani, sejak pemimpinnya yang awal, menjadikan Islam sebagai landasan utama pemerintahannya. Para pemimpinnya dikenal sebagai ghazi (pejuang, mujahid) dan kesultanannya kadang disebut di dalam buku-buku Sejarah sebagai ghazi-state karena menjadikan jihad sebagai tonggak penting pemerintahan.

Menjelang wafatnya, Utsman memberikan nasihat kepada puteranya, Orhan (w. 1360), “Jangan pernah menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah (SWT). Berkonsultasilah pada para ulama dalam hal-hal yang tidak engkau ketahui” (Maksudoglu, 1993: 42). Nasihat ini jauh dari sekadar basa-basi, karena telah dicontohkan oleh Utsman sendiri yang sering berhimpun dengan para ulama dan melibatkan mereka dalam urusan pemerintahan (Sallabi, 2001: 27). Maka hal ini juga dipegang kuat oleh para penerus Utsman dan menjadi dasar yang mewarnai kebijakan pemerintahan mereka seterusnya.

Para pemimpin Utsmani memiliki hubungan yang sangat baik dengan para ulama dan guru-guru tasawuf. Pengangkatan Orhan sebagai sultan kedua Turki Utsmani dilakukan di sebuah zawiyah yang dikelola oleh kaum sufi (Kia, 2008: 3). Dalam proses penaklukkan Konstantinopel, kita juga membaca besarnya peranan Syeikh Aq Syamsuddin (Aksemseddin) sebagai guru spiritual Muhammad al-Fatih (w. 1481). Syeikh Aq Syamsuddin juga yang diminta oleh al-Fatih untuk mencari makam Abu Ayyub al-Ansari, Sahabat Nabi yang syahid dan dimakamkan di dekat tembok Konstantinopel. Lantas makam itu dirapikan dan disebelahnya dibangun masjid. Sejak saat itu, para Sultan Turki Utsmani menyebut Sahabat Nabi ini sebagai Sultan Ayyub (Eyup Sultan) dan mereka berziarah ke makamnya setiap kali hendak pergi berjihad (Maksudoglu, 1993: 10-11).* (Bersambung)

Alwi Alatas adalah penulis buku-buku sejarah perjuangan Islam

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islampejuangpemimpinTurkiulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mengambil Adab dan Ilmu dari Imam Abu Hanifah
Tulisan selanjutnya Ulama-Umara dalam Sejarah Daulah Utsmani [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi

Berita
13 Oktober 2026 00:13
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?