Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Baitul Hikmah dan Tragedi Tartar [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Mei 2016 15:42 3:42 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Mei 2016 15:00
Bagikan
Kegiatan kuttab di era Abbasiyah.naskah ini, Ilustrasi oleh al-Wasithi
Bagikan

Oleh: Mohammad Ramli

 

KITA pasti tidak asing dengan kisah Negeri 1001 Malam yang sangat melegenda yaitu Kota Baghdad. Baghdad adalah ibu kota Iraq dan merupakan kota terbesar ke dua di Asia Barat Daya setelah Teheran.

Kekhalifahan Abbasiyah telah menjadikan Baghdad sebagai ibu kota kekhalifahan yang sebelumnya pada masa Kehalifahan Umayyah berada di Damaskus.

Islam masuk ke Baghdad dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqash yang diutus oleh Umar bin Khattab. Penduduk Baghdad menerima agama Islam dengan sangat baik hingga dipeluk oleh mayoritas masyakat Baghdad.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Cahaya Peradaban

Baghdad merupakan simbol kejayaan sebuah peradaban, kota yang menjadi saksi keemasan Islam. Kota ini dibangun oleh Abu Ja’far al-Mansur, khalifah Abbasiyah kedua, sekitar 136 H. Sejak itulah, kota ini memainkan peranan penting dalam peradaban Islam dan Arab.

Sepanjang sejarah Kekhalifahan Abbasiyah dan Baghdad sebagai pusat peradaban, tercatat 37 khalifah yang pernah berkuasa secara turun temurun. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena didirikan oleh oleh Abu Al-Abbas keturunan Al-Abbas, paman Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Nama lengkapnya adalah Abdullah As-Saffah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al Abbas.

Keindahan dan kemegahan Baghdad menunjukkan kehebatan Dinasti Abbasiyah. Dibangun istana khalifah yang megah bernama Al-Qasr Az-Zahabi (Istana Emas), dan untuk mempertegas keislamannya disamping istana dibangun  masjid Jami’ Al-Mansur yang berukuran 100×100 m. Kubahnya menjulang tinggi ke langit setinggi 130 kaki.

Kota Baghdad dilengkapi bangunan pengawal istana, polisi, tempat tinggal khalifah, pasar dan pusat perbelanjaan. Untuk menuju pusat kota Baghdad, para pengunjung bisa melalui empat gerbang, barat daya (gerbang kufah) barat laut (gerbang Syam) tenggara (Basrah) dan di timur laut ada gerbang Khurasan. Disetiap gerbang terdapat menara pengawas dan tempat istirahat yang dihiasi ukiran-ukiran nan indah. Sebelum tutup usia, al-mansur juga sempat membangun Istana Ar-Rufasah. Sebagai pendiri Baghdad, khalifah menyebutnya sebagai Madinah As-salam (Kota Perdamaian).

Baghdad menjelma menjadi kota metropolitan, kian elok dipandang. Sarana ibadah, pendidikan, penelitian, kesehatan, perdagangan dan bisnis bermunculan. Baghdad pun saat itu menjadi pusat peradaban. Pendidikan, ilmu pengetahuan, perdangan, ekonomi dan poilitik.

Kota Baghdad mencapai puncak kejayaannya pada era pemerintahan Kekhalifahan Harun Ar-Rasyid (170 – 193 H) dan anaknya Khalifah Al-Ma’mun (198 – 218 H).  Baghdad semakin masyhur, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, semarak dengan aktivitas keilmuan, bisnis dan pusat kekuasaan. Dan Baghdad merupakan kota yang tidak ada tandingannya saat itu.

Dalam capital cities of Arab Islam, Philip K. Hitti menyebut Baghdad sebagai kota intelektual. Sebab, dari kota inilah lahir banyak intelektual Muslim agung yang mengembangkan ilmu pengetahuan, kedokteran, kimia, fisika, biologi, matematika, astronomi, astrologi, farmakologi, geografi, filsafat, sastra, seni, tafsir, hadits, fiqih, theologi, bahasa dan tasawwuf. Inilah masa kekayaan ilmu yang pernah diraih umat Islam saat itu, sangat menakjubkan dan luar biasa.

Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun kota ini memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu pengetahuan yaitu Baitul Hikmah.

Saat itu, Baitul Hikmah adalah bangunan yang terdiri dari berbagai ruangan. Setiap ruangan terdiri dari tempat buku (khazanah) yang diberi nama sesuai nama pendirinya seperti Khazanah Ar-Rasyid dan Khazanah Al-Makmun. Bangunan yang menyatu dengan istana khalifah.

Juga lahirlah Kuttab (sekolah dasar menengah). Anak-anak belajar di rumah, di istana, di toko dan di pinggir-pinggir pasar.

Adapun pelajaran yang diajarkan meliputi: membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, pokok-pokok ajaran Islam, menulis, kisah orang-orang besar islam, membaca dan menghafal syair-syair atau prosa, berhitung, dam juga pokok-pokok nahwu sharaf. Ilmu perkembang pesat.

Lihat saja, Ilmu Tafsir berkembang pesat yang masyhur salah satunya adalah Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an terdiri dari 30 Juz yang dikarang oleh Ibnu Jarir At-Thabari.

Pada masa Dinasti Abbasiyah didirikan rumah sakit yang juga dijadikan sebagai pusat kegiatan pengajaran ilmu kedokteran, sedangkan teorinya diajarkan di masjid dan madrasah. Ali bin Rabban at-Tabbari adalah orang pertama yang mengarang buku kedokteran yaitu Firdaus al-Hikmah (850 M).

Dalam bidang ilmu hadits, masa Dinasti Abbasiyah telah melahirkan banyak ulama perawi hadits yang sangat terkenal  diantaranya ­al-aimmah al-sittah (Imam yang Enam), yaitu Imam Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud Tirmidzi dan Nasa’i.

Waleed Eseily
ilustrasi: Baitul Hikmah era Harun Al Rasyid

Perkembangan fiqih masa itu sangat berkembang pesat sehingga muncul ulama-ulama yang terkemuka, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Sehingga hampir semua Umat Islam mengenal mereka dan bermazhab kepada mereka.

Beberapa ulama dalam bidang tasawwuf dan sejarah juga telah berkembang pesat saat itu, seperti Ibnu Khaldun, Imam Al-Ghazali. Tidak ketinggalan Ilmu sastra dengan tokohnya, Ibnu Muqaffa, Imam Sibawayhi, Abu Nawas, Ibnu Rumy.

Dalam bidang kedokteran ada A-rrazi, Ibnu Sina, Ibnu Saha. Lalu ada Al-khawarizmi, Wabu Wafa dalam bidang matematika. Al-Biruni (Astronomi) dan masih banyak lagi.

Sekitar 30.000 masjid di Bagdad berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran pada tingkat dasar. Perkembangaan pendidikan pada masa Bani Abbasiyah dibagi 2 tahap. Tahap pertama (awal abad ke-7 M sampai dengan ke-10 M ) perkembangan secara alamiah disebut juga sebagai sistem pendidikan khas Arabia. Tahap kedua (abad ke 11) kegiatan pendidikan dan pengajaran diatur oleh pemerintah dan pada masa ini sudah dipengaruhi unsur non-Arab.*

Penulis dan pendidik. Tinggal di Batam

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Badi AbbasiyahBaghdadbukuHulaghu Khanilmu pengetahuanMongoltartar
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pakistan Marah atas Serangan Udara Amerika yang Menarget Akhtar Mansour di Negaranya
Tulisan selanjutnya Menimba Sukses Masjid Jogokariyan Mengelola Jamaah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?