Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Jejak Langkah Umat Islam dalam Kemerdekaan Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Agustus 2021 16:45 4:45 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Agustus 2021 17:20
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | PADA tahun 1939 di Palembang, almarhum Mohammad Jusuf Soe’oed, salah seorang perintis kemerdekaan, menyampaikan pidato cukup menarik, “Kita sama mengetahui, bahwa didalam tarich pergerakan kita tidak sunjinja daripada pengorbanan-pengorbanan.” (E. Ahmad: 1971) Bagi beliau, pengorban sebagai bentuk keikhlasan dan kesucian untuk menuju cita-citan kemerdekaan dan Indonesia mulia.

Bila ditilik dalam sejarah para pejuang kemerdekaan Indonesia, ruh pengorbanan memang sangat kental terasa. Utamanya, jika dibahas tentang para pejuang muslim dalam lanskap perjuangan kemerdekaan. Jejak langkah mereka dalam berbagai lini perjuangan, sebagiannya akan diulas dalam tulisan ini.

Jejak dalam Ranah Politik

Dalam momen peringatan 40 tahun Muhammadiyah (18 November 1952), Mr. Sartono, mantan ketua parlemen dan wakil ketua D.P.A, menyebutkan bahwa pada awal abad 20-an, di antara pergerakan yang berjuang di ranah politik untuk membebaskan dari kekuasaan asing adalah Sarekat Islam (Jusuf Abdullah Puar: 1962), dengan perintisnya pertama Haji Samanhudi hingga menjadi semakin cemerlang di tangan H.O.S. Tjokroaminoti yang dikenal sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Tidak berlebih-lebihan jika Mohamad Roem pernah menulis, “Pergerakan kemerdekaan adalah pergerakan politik. Sarekat Islam adalah pergerakan politik yang pertama yang memperjuangkan nasib rakyat. Jadi merupakan pergerakan rakyat, dari rakyat untuk rakyat.” (Majalah Kiblat, 12/XXV: 1978) Melalui ranah ini, perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia sedikit banyak telah memberikan sumbangsih yang tak kecil.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Menariknya, tidak seperti yang ditulis di berbagai buku sejarah pada umumnya yang sering menyebutkan bahwa berdirinya Sarekat Islam pada tahun 1911, fakta yang didapat oleh Moh. Roem justru berlainan dengan sejarah mainstream. Saat beliau  berkesempatan bertemu Haji Samanhudi –pendiri Sarekat Dagang Islam selaku embrio SI- – di rumah Bapak Gunawan pada tahun 30-an, beliau mendapat informasi langsung dari Bapak Samanhudi bahwa Sarekat Dagang Islam berdiri pada 16 Oktober 1905. Ini berarti, gerakan ini, minimal sebagai embrio SI, lebih dulu ada mendahului Budi Utomo yang didirikan pada tahun 1908.

Jejak dalam Ranah Diplomasi

Ranah diplomasi tidak kalah pentingnya dalam upaya merintis kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh muslim kenamaan yang berjuangan dalam ranah ini misalnya: H. Agus Salim, AR. Baswedan, Rasjidi dan kawan-kawan yang diutus ke timur tengah untuk melakukan perjuangan diplomasi sehingga Indonesia secara de jure mendapatkan pengakuan. Para pejuang diplomasi ini mendapat sambutan hangat, bahkan orang Mesir, sempat terkagum-kagum saat mendengar pidato Agus Salim dengan berbagai bahasa, terutama saat menyampaikannya dengan bahasa Arab.

Menurut catatan Bachrun Martosukarto SH., keberhasilan dalam ranah diplomasi inilah yang bisa mengangkat perjuangan kemerdekakaan Indonesia hingga menjadi masalah dunia. Yang mana, pada waktu itu PBB ikut campur dan harus berperan dalam menyelesaikan persoalan ini. (Kiblat, 23/XXXI: 1984) Dalam ranah ini pula, nama Mohamad Roem, sebagai tokoh Masyumi, juga pernah turut berkontribusi misalnya dalam perjanjian Roem-Royen.

Jejak Ulama dan Santri

Peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan juga sangat besar. Sosok sekaliber KH. Hasyim Asy’ari misalnya dengat resolusi jihadnya, adalah figur ulama yang membakar semangat Bung Tomo dan arek-arek Surabaya dalam pertempuran 10 November di Surabaya .

Jauh sebelum itu, menurut catatan KH. Sholeh Iskandar (Media Da’wah: 1992), tokoh seperti Sultan Agung, Abdul Hamid Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku CIk Di Tiro, Sultan Hasanudin, Baabullah dan lain-lain setidaknya juga “membabat alas” untuk memudahkan jalan menuju kemerdekaan.

Pada zaman Belanda, betapa banyak pemberontakan dan perlawanan fisik yang diinisiasi dan diperjuangkan oleh ulama. Pada ahun 1988 misalnya, KH. Wasid, memimpin pemberontakan massal di Cilegon, Banten. Pada tahun 1926, ada pemberontakan di Labuan yang dipelopori oleh ulama yaitu KH. Asnawi, KH. Mukri dan KH. Tb. Ahmad Khotib.

Bahkan sampai dalam menyiapkan undang-undang kemerdekaan pun, ulama tetap berperan, seperti: H. Agus Salim, KH. Wahid Hasyim, KH. Abdul Kahar Mudzakkir, Ki Bagus Hadikusumo dan lain-lain. Ini menunjukkan peran para ulama dalam mewujudkan kemerdekaan juga sangat besar.

Lebih dari itu, KH. Sholeh Iskandar mencatat peran santri dan pesantren, “Selama periode perang kemerdakaan, kiai-kiai dan ulama Pondok Pesantren mengambil peranan aktif seperti yang terjadi di Jawa Barat sebelah Barat, khususnya daerah Banten dan Bogor.”

Tidak berlebihan jika Danu Dirja Setiabudi (Douwes Dekker) pernah berujar, “Djika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para Ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.” (Api Sejarah I, 2014:XXII).

Jejak Para Pemuda Muslim

Mengenai peran pemuda, catatan H. M. Saleh Suaidy, pelaku sejarah, menulis catatan menarik dengan tajuk “Konperensi Angkatan Muda di Bandung.” (Kiblat, 7/XXIV: 1976). Biasanya, dalam kebanyakan karangan sejarah, disebutkan bahwa para pemuda yang mendesak Bung Karno atau merengasdengklokkan Bung Karno dan Hatta adalah pemuda semisal Sukarni, Chaerul Saleh C.S.

Padahal, fakta sejarah membuktikan bahwa tindakan mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan adalah kelanjutan dari Konferensi Angkatan Muda di Gedung Isola, Bandung (Maret, 1945). Dalam konferensi itu, acaranya sukses di tangan para pemuda Islam. Nama seperti, Anwar Tjokroaminoto, Harsono Tjokroaminoto, Isa Anshary, Moh. Saleh Suaidy adalah contoh para pemuda Islam yang turut serta berkontribusi dalam upaya kemerdekaan Indonesia. Bahkan pada saat itu, para pemuda yang disebut namanya sangat vokal dalam menyampaikan aspirasi kemerdekaan.

Jejak dalam Ranah Militer

Dalam catatan sejarah, perjuangan umat Islam di ranah militer juga sangat signifikan. Sebut saja misalnya Hizbullah. Jendral Sudirman pernah berujar mengenai gerakan militer Islam ini, “Kami yakin dengan benih ikhlas, jujur, dan berani didalam Ketentraan Indonesia seperti antaranya dibuktikan oleh Hizbullah itu Indonesia di hari depan dapat menyaksikan tumbuhnya Tentara Negara yang cakap.”

Perlu juga dikemukakan dalam tulisan ini bahwa Hizbullah bukan saja berperan aktif dalam melawan kolonialisme, bahkan juga turut berkontribusi dalam meredamkan pemberontakan PKI di Madiun oleh Amir Syarifuddin dan kawan-kawan. KH. Muhyiddin Abdul Qadir Al Manafi dalam Api Sejarah II (2016: XII) jihadnya para ulama dan santri pada masa penjajahan Jepang melahirkan tentara PETA (Pembela Tanah Air) pada 3 Oktober 1943  yang merupakan cikal bakal tentara.

Lahir juga Laskas Sabilillah dan Hizbullah sebagai Barisan Istimewa Badan Keamanan Rakyat. Ini artinya, peran umat Islam dalam bidang militer untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia juga sangat besar.

Melihat berbagai jejak umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, maka minimal, setiap kali memperingati kemerdekaan Indonesia, tanpa menafikan peran umat lain, jangan lupa jejak para pejuang Islam yang boleh dikatakan sangat signifikan. Ini bukan skadar alasan mayoritas penduduk, tapi karena peran mereka benar-benar bisa dirasakan diberbagai ranah perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan.

Tidak mengherankan jika di antara  pembukaan UUD 1945 berbunyi, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.”*/ Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kemerdekaanLaskar Hisboellahumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bahan baku vaksin sinovac Kasus Penyuntikan Vaksin Covid-19 Kosong di Pluit Jakarta Utara, Satgas IDI: Peristiwa Serius, Harus Diselidiki
Tulisan selanjutnya Pererat Hubungan dengan Maroko, Menlu ‘Israel’ Kunjungi Kuil Beth El di Casablanca

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?