Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Cara Lain Memandang Penyakit

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Mei 2010 14:57 2:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Mei 2010 14:57
Bagikan
Bagikan

SEBAGIAN besar penderitaan kehidupan kita akhir-akhir ini yang jauh dari arahan Al-Quran, bahkan kondisi fisik yang kronis, merupakan penyakit makna. Penyakit fisik diakibatkan oleh penyakit psikis. Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat (al-‘Aqlus Salim Fil Jismis Salim). Dan sebaliknya, badan yang tidak sehat merupakan turunan (derivat) dari pikiran yang buruk. Penyakit kanker, penyakit jantung, Alzheimer, dan berbagai gangguan lain yang kemungkinan besar didahului oleh depresi, rasa lelah, alkoholisme, dan kecanduan obat adalah bukti dari krisis kekosongan makna yang merasuk ke dalam sel-sel tubuh kita.

Pada akhirnya kematian pun dialami dengan rasa sakit dan kengerian, akibat miskin makna sebagai bekal mengelola kehidupan ini secara utuh, alamiah dan normal. Tidak ada jalan untuk mati secara damai, penuh rahmat dan berkah. Bahkan, baru-baru ini seorang kriminolog Eropa, setelah meneliti tingkat kriminalitas di Negeri Paman Sam yang sangat tidak masuk akal, dia menulis buku yang berisi cara mudah mengakhiri kehidupan (bunuh diri). Setelah membandingkan angka setahun kriminal bangsa Eropa, sama dengan 10 tahun bangsa Arab, dia sendiri menjatuhkan dirinya dari gedung pencakar langit. Diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul: Kaifa inha’ul hayati bisuhulah (bagaimana mengakhiri kehidupan dengan mudah).

Beberapa dokter spesialis dan kaum profesional di bidang kesehatan telah mulai memandang penyakit dari sudut pandang yang berbeda (nonmedis). Mereka mempersepsikan penyakit sebagai jeritan tubuh pemiliknya, agar mendapatkan perhatian khusus dalam kehidupan, yang apabila diabaikan dan ditinggalkan akan berefek pada kerusakan yang bersifat fatal dan permanen, ketidakseimbangan pertumbuhan fisik, emosi dan spiritual, bahkan mengakibatkan kematian yang mengenaskan. Mungkin sikap atau gaya hidup kitalah yang mengakibatkan timbulnya berbagai masalah dan kerumitan dalam nilai-nilai, hakikat atau makna kehidupan.

Inilah inti filsafat Victor Frankle, seorang psikiater besar dari Wina yang hidup pada zaman Freud, seabad yang silam. Ia disekap dalam kamp konsentrasi Nazi Jerman bersama seluruh keluarganya. Ia disiksa, dibiarkan kehausan dan kelaparan, disuruh kerja paksa, anak istrinya dibunuh. Tetapi, ia tetap hidup. Justru karena itulah ia menemukan makna kehidupan. Ia mengelola berbagai kesulitannya dengan optimisme. Ia pandai memaknai sesuatu di balik peristiwa.

Nazi Jerman boleh mengerangkeng dia, menyiksa habis (tanpa sisa) seluruh anggota tubuhnya, membunuh semua orang terdekatnya, tetapi mereka tidak bisa mencengkeram jiwa dan pikiran yang melayang bebas bersama Tuhan yang dijadikan tumpuhan akhir harapannya. Inilah makna kehidupan yang ditemukan orang asing Victor Frankle.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Makna hidup bisa bersifat umum dan universal, tapi bisa pula sangat sederhana dan mudah. Unik, spesifik dan sangat privat bagi kita masing-masing. Makna hidup adalah tanpa pura-pura dan pamrih. Makna hidup adalah untuk makna hidup itu sendiri. Dan makna hidup itu ditemukan bukan berbentuk barang (materi) yang diburu di mall, tempat-tempat wisata. Makna hidup diperoleh dari cahaya Allah SWT yang menerangi hati hamba yang dicintai-Nya.

Jika kita masuk dalam kategori barisan orang-orang yang dipandang sukses materi, hidup berkecukupan, pakaian serba wah, kendaraan mengkilat, ladang yang luas, tempat tinggal yang layak, bahkan berlebih, tetapi kebingungan mencari makna hidup, cobalah kita melakukan hal yang sederhana dan mudah. Buatlah program kehidupan Anda bermulti guna bagi orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang lebih banyak manfaatnya untuk orang lain (HR. Bukhari dan Muslim). Kehidupan kita berarti jika kita mengedepankan tradisi berkorban, memberi. Bukan berapa yang bisa saya ambil dari orang lain.

Carilah anak-anak yatim piatu, kaum dhu’afa (grass root) dan mustadh’afin (tertindas) untuk diasuh di rumah kita. Carikan orang yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja. Buatlah agar komunitas yang termarginalkan oleh pemodal dan penguasa itu tersenyum bahagia, berkat uluran tangan Anda. Berilah apa yang berlebih pada diri Anda dan jangan dihitung berapakah pemberian yang kita keluarkan. Pemberian kita harus di atas standar minimal. Sekalipun banyak orang tidak mau memberi, biarlah. Kita tetap memberi, karena semua pemberian itu akan kembali kepada kita (QS. Al Isra (17) : 7).

Allah SWT Yang Maha Pemberi, tidak pernah menghitung pemberian-Nya. Dengan suka memberi, kita tertantang untuk kreatif, produktif, dan inovatif. Yang tidak memiliki, tidak memiliki kemampuan untuk memberi (faqidusy syai’i laa yu’thihi). Setelah sukses satu pekerjaan, angkatlah pekerjaan baru yang lebih menantang (QS. Al Insyirah (94) : 7).

Makna hidup tidak harus orang lain tahu. Justru makna hidup yang sejati adalah sepi ing pamrih, rame ing gawe (beramal shalih tanpa hiruk pikuk). Hanya kita sendiri yang merasakan, memaknai, dan menikmatinya. Belajarlah makna hidup dari binatang penyu. Sekali bertelur berjumlah 500-3000 buah. Mencari tempat yang sepi dan gelap. Pemiliknya sendiri, tidak mengetahuinya. Binatang penyu boleh dikata, contoh kongkrit keikhlasan. Orang yang ikhlas, kata ibunda Amin Rais : Dicokot dadi otot, dijiwit dadi kulit, syetan ora doyan, dhemit ora ndulit. Orang ikhlas itu memiliki jiwa besar. Selalu bersikap positif dengan orang-orang yang menjahatinya. Justru dengan jiwa besar, setan dan makhluk halus lainnya tidak akan mampu menggodanya.

Barangsiapa yang awal kehidupannya tanpa makna, ending-nya akan sengsara. Sesungguhnya berbagai keluhan, protes, kejenuhan, gundah gulana, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan terhadap sesuatu secara berlebih-lebihan, disebabkan oleh rusaknya cara pandang dalam melihat dan mencermati makna kehidupan (innama tatawalladud da’awaa min fasadil ibtida).

Hiduplah dalam keadaan mulia, kehidupan sekali yang berarti, dengan memberi manfaat kepada orang lain atau jangan sekedar hidup, dan matilah dengan kesan yang sulit dilupakan bagi yang kita tinggalkan (‘isy kariman au mut syahidan). Jika dalam kehidupan kita tidak seimbang antara kebutuhan aktualisasi diri dan potensialisasi diri, akan mengalami kesepian. Dan kesepian cenderung melakukan tindakan destruktif. Dengan cara hidup mulia dan mati syahid, kehadiran kita selalu dirindukan dan kematian kita selalu dikenang. Semoga kita bisa mengambil ‘ibrah dari pelajaran “krisis makna”.

Ahmad Syauqi, sastrawan terkenal dari Mesir mengatakan: “Jagalah dirimu sebelum kematianmu dengan sebutan baik, sesungguhnya sebutan baik bagi manusia merupakan umur kedua.” [Semarang, 22 April 2010/hidayatullah.com]

Penulis adalah dai, sekarang tinggal di Kudus

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hasyim: Perlu Ada Standarisasi Calon Kepala Daerah
Tulisan selanjutnya Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional Akan Gelar Workshop Terorisme

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

Terbaru

  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?