SHALAT Subuh sangatlah unik dan menarik karena berfungsi mengawali hari. Walaupun waktunya terbilang luang dan kita pun dalam kondisi segar, akan tetapi kita cukup melaksanakannya dua rakaat saja. Apa hikmahnya?
Beberapa studi akademis yang dilakukan oleh para ilmuwan membuktikan bahwa ritme tubuh manusia mencapai puncaknya dua kali dalam 24 jam. Masing-masing terjadi setiap 12 jam.
Derajat kebugaran tubuh manusia mencapai puncaknya secara bertahap sejak pukul 04.00 dan mencapai puncak keseimbangannya sekitar pukul 10.00 atau 11.00. Rentang waktunya kurang lebih enam hingga tujuh jam.
Selanjutnya, derajat energi tubuh menurun secara bertahap sekitar pukul 14.00, saat tubuh kita sangat membutuhkan suplai energi dari makanan dan istirahat selama tidak kurang dari dua jam. Setelah itu energi dan kebugaran tubuh manusia akan kembali naik secara bertahap dan bisa menopang aktivitas selama tiga hingga empat jam.
Namun, energi tubuh pada fase kedua ini lebih rendah daripada energi tubuh pada pagi hari. Kemudian, energi mulai menurun kembali secara bertahap sekitar pukul 20.00 atau pukul 21.00, untuk kemudian benar-benar menurun sekitar pukul 23.00 atau 24.00.
Pada jam-jam ini, tubuh sangat membutuhkan tidur dan istirahat sehingga kekuatan energi tubuh mencapai keseimbangan terendahnya pada pukul 01.00 atau 02.00, yaitu saat tubuh kita melakukan proses pembaruan sel-sel. Setelah itu, tubuh manusia memulai siklus baru untuk hari berikutnya, demikian seterusnya.
Kalau kita petakan secara biologis, shalat Subuh ditujukan untuk melatih keseimbangan kondisi hormonal tubuh. Kita tahu bahwa pada waktu itu hormon-hormon kecemasan –semacam kortisol, ACTH, norepinefrin, dan skotofobin– akan diproduksi dalam kadar tinggi sehingga aneka ketakutan datang silih berganti dan berbagai pikiran negatif kerap menghantui walau kedatangannya seringkali tanpa kita sadari karena sudah sangat biasa.
Rasakan saja ketika subuh hari, biasanya orang akan diserang hal-hal negatif semacam itu. Mulai dari malas bangun yang menandakan munculnya rasa takut kehilangan rasa nyaman dalam hangatnya pelukan selimut, takut dingin, takut sesuatu di luar, rasa cemas akan datangnya aneka masalah saat itu –mungkin masalah di kantor, di perjalanan, keluarga, dan sebagainya–, kemudian muncul pula aneka perasaan buruk sangka dan takut kehilangan. Begitulah, tingginya produksi hormon-hormon takut dan kecemasan telah menghadirkan nuansa emosi yang kurang menyenangkan.
Nah, ketika kita berniat shalat Subuh; mulai dari bangun tidur, lalu berwudhu sampai takbiratulihram dan diakhiri dengan salam, pada saat itulah kita dikondisikan untuk dapat mengendalikan produksi hormon dari “departemen malas” tersebut yang kadarnya meningkat tinggi pada waktu subuh hari. Itu artinya, dengan teratur melaksanakan shalat Subuh tepat waktu, kita telah memulai hari baru dengan semangat yang tentu berpengaruh terhadap tubuh secara menyeluruh.
Pengaruh itu akan tampak jelas setelah 1,5 atau 2 jam setelahnya, yaitu saat kita mulai melaksanakan rutinitas harian pada pagi hari. Tubuh kita berada dalam kondisi yang fit, baikdari segi fisik, pikiran, maupun psikologis sehingga akan memengaruhi kemampuan kerja dan tingkat produktivitas.
Hal ini akan lebih optimal kalau kita melakukannya dengan cara berjamaah di masjid, efeknya menjadi sangat luar biasa. Ketika kita mampu melaksanakannya secara rutin dan benar, sistem kebiasaan aktif kita pun akan berubah dengan menjadikan waktu Subuh sebagai acuan kerajinan, tolok ukur prestasi, dan produktivitas harian kita.*/Tauhid Nur Azhar, dari bukunya Mengapa Banyak Larangan? Hikmah dan Efek Pengharaman dalam Akidah, Ibadah, Akhlak, Serta Makan-Minum. [Tulisan selanjutnya]