Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Sikap Tercela Merendahkan Orang Berilmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 April 2017 16:38 4:38 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 April 2017 16:38
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

SYEIKH HABIB Muhammad Ismail mengatakan bahwa medan dakwah dewasa ini menghadapi tantangan semakin berat. Hal ini karena akhlak buruk tumbuh dengan sangat pesat, terutama mereka yang menganut paham at-tarbiyah an-nau’iyyah (pendidikan beragam).

Hal ini memunculkan fenomena berbahaya, seperti anak muda yang tidak menghormati orang yang lebih tua, orang-orang pandir yang berani melangkahi ulama, dan para pelajar berkelahi. Mereka saling bermusuhan, melupakan persaudaraan, tidak santun, tidak mau saling memaafkan, dan tidak mau bersabar. Mereka lebih bersikap pandir, seperti orang yang tidak berpendidikan sama sekali.

Kini para pelajar banyak tenggelam ke dalam lumpur celaan, pertikaian, dan perkelahian. Bahkan, di antara mereka ada yang berani menantang para ulama ternama. Hal ini karena mereka tidak sadar bahwa setan sedang meniupkan api permusuhan. Mereka mengira bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang dibenarkan agama.

Sungguh, seseorang yang menjadikan lidah sebagai pengontrol tingkah laku sangat disayang Tuhan. Karena itu, amal-amal berikut ia jadikan bahan evaluasi atas semua ucapannya.

Evaluasi tersebut mencakup dua pikiran utama sebagai berikut.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

1. Akhlak mulia kepada sesama muslim. Hal ini dilakukan dengan menjaga kehormatan dan menjauhkan orang lain dari hal-hal yang dapat menyakitinya, seperti pembicaraan aib yang kini kian santer terdengar.

2. Akhlak mulia kepada ulama. Hal ini dilakukan dengan menjaga nama baik, serta mengenal dan mengakui kemampuan dan kelebihan mereka. Juga menghindar dari fitnah dan pencemaran nama baik.

Poin kedua patut diperhatikan lebih mendalam. Poin pertama merupakan pendahuluan karena para ulama memiliki dua hak, yaitu sebagai seorang muslim dan sebagai seorang yang memiliki kelebihan. Dalam hal ini kelebihan ilmu. Pola ini senada dengan sikap Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang lebih mengutamakan kaum muslimin dibandingakan dengan umat lain, kemudian Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu di antara kaum muslimin.

Allah swt berfirman, “…Niscaya Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Di sisi lain, jika Allah mengharamkan sesuatu, bisa jadi pengharamannya berbeda dengan sesuatu yang lain. Suatu kesalahan, misalnya, bisa menarik dosa yang lebih besar dibandingkan dengan kesalahan yang lain. Hal ini dihitung berdasarkan banyaknya pelanggaran. Dengan begitu, azab dan hukuman satu dosa bisa berlipat ganda.

Menzalimi diri sendiri dengan berbuat maksiat dilarang oleh agama di mana pun dan lebih tegas pada bulan-bulan haram (Syawwal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram). Mengenai pengharaman ini, Allah swt. berfirman,

“…Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu…” (QS. At-Taubah: 36).

Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam memberikan contoh lain dalam sabda beliau, “Berzina dengan sepuluh orang wanita lebih ringan bagi seseorang daripada berzina dengan seorang wanita tetangganya. Mencuri sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri sebuah rumah milik tetangganya.” (HR. Ahmad, hadits sahih).

Allah juga berfirman,

“…Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji…” (Al-Baqarah: 197).

Hukum diat membunuh dan menyiksa pada bulan-bulan suci tentu lebih berat. Hukuman diat karena membunuh kerabat yang masih ada hubungan darah juga lebih berat. Hal ini sejalan dengan ketentuan dalam mazhab Syafi’i.

Sungguh, orang yang menyakiti dan merendahkan kehormatan ulama telah melakukan kesalahan berat. Hal ini karena kehormatan ulama melebihi seorang muslim biasa. Selain memiliki hak yang sama dengan seorang muslim, ulama memiliki hak sebagai orang tua dan para pembesar.

Di samping itu, mereka memiliki hak sebagai orang yang membawa risalah Al-Qur’an, hak keilmuan, dan hak para wali saleh. Dengan begitu, kita akan mudah memahami perkataan Imam Syafi’i, “Membicarakan aib ulama dan orang-orang yang menyampaikan risalah Al-Qur’an termasuk dosa besar.”*/Sudirman (sumber buku Ensiklopedia Akhlak Muhammad Saw, penulis Mahmud al-Mishri)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:orang berilmuulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rektorat BEM UI Rekonsiliasi Pasca Pilkada, Fadli Zon: Proses Kebijakan dan Hukum Paling Penting
Tulisan selanjutnya Orangtua Harus Bernyali Atasi Kejahatan Pornografi pada Anak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?