Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Ketika Tokoh Agama Bergelimang Tahta dan Harta

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 November 2022 21:27 9:27 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 November 2022 21:30
Bagikan
Bagikan

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS: Ali Imran: 14).

Hidayatullah.com | ISLAM adalah agama yang adil.  Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan dunia agar menjadi orang taqwa.

Justru, umat Islam diperintahkan menjadi umat yang kuat agar bisa menjalankan amanah dakwah dengan baik. Karena itu, umat Islam diperintahkan untuk menaklukkan dunia, bukan untuk mencintainya, tetapi wajib menggunakan dunia itu untuk kebaikan bersama.

Sejumlah sahabat Nabi Muhammad ﷺ, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan sebagainya – radhiyallaahu ‘anhum – dikenal sebagai orang-orang berharta. Bahkan, sebagian juga dikenal sebagai orang yang sangat kaya dan sekaligus sebagai penguasa, seperti Utsman bin Affan r.a.

Tetapi, para sahabat Nabi itu memberikan teladan, bagaimana meletakkan kekuasaan (tahta) dan harta secara adil. Mereka tetap menjadi manusia-manusia yang sangat tinggi ketaqwaan dan akhlaknya. Mereka bisa dijadikan teladan bagi umat manusia.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Namun tidak dapat dipungkiri, godaan tahta dan harta itu begitu kuat. Kekuasaan adalah hal yang diimpikan oleh manusia.

Kadangkala ada orang sudah melimpah hartanya, tetapi tetap berburu tahta, dengan berbagai alasan. Jika tahta dan harta digunakan dengan adil, maka keduanya akan memberikan dampak kebaikan yang besar.

Tetapi, tahta dan harta juga bisa melenakan manusia. Bahkan, tokoh agama pun bisa terjebak untuk mengejar dan menyalahgunakan tahta dan harta.

Padahal, para tokoh agama adalah manusia-manusia yang sepatutnya sudah “selesai” urusan dunianya. Dalam pandangan Islam, para tokoh agama adalah pelanjut perjuangan para nabi.

Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Beliau memberikan contoh yang nyata, bagaimana tahta dan harta beliau gunakan secara optimal untuk kebaikan.

Jika para tokoh agama gagal menjadi contoh dalam penegakan  akhlak mulia, maka musibah besar akan menimpa umat manusia. Sebab, para tokoh agama (ulama) itu ibarat bintang yang menerangi jalan di tengah kegalapan. Manusia akan semakin jauh dari agama, karena tidak menemukan sosok yang bisa dijadikan teladan.

Masyarakat Barat yang menolak campur tangan agama dalam kehidupan pun dipicu oleh perilaku tokoh-tokoh agama mereka yang terjebak dalam kubangan kenikmatan tahta dan harta, ditambah wanita. Inilah yang digambarkan oleh Brenda Ralph Lewis dalam bukunya:  “Dark History of the Popes – Vice Murder and Corruption in the Vatican.” (Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Kompas-Gramedia, dengan judul: “Sejarah Gelap Para Paus – Kejahatan, Pembunuhan, dan Korupsi di Vatikan”).

Seorang Paus – pemimpin tertinggi agama Katolik – bernama Benediktus IX, ditulis sebagai: “salah satu paus abad ke-11 yang paling hebat berskandal, yang dideskripsikan sebagai seorang yang keji, curang, buruk dan digambarkan sebagai ‘iblis dari neraka yang menyamar sebagai pendeta’. (hal.9)

Kejahatan Paus Benediktus IX ini luar biasa. Ia lahir sekitar tahun 1012.

Dua orang pamannya juga sudah menjadi Paus, yaitu Paus Benediktus VIII dan Paus Yohanes  XIX. Ayahnya, Alberic III, yang bergelar Count Tusculum, memiliki pengaruh kuat dan mampu mengamankan singgasana Santo Petrus bagi Benediktus, meskipun saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan.

Paus muda ini digambarkan sebagai seorang yang banyak melakukan perzinahan busuk dan pembunuhan-pembunuhan. Penggantinya, Paus Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan melakukan ‘pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang sangat keji’. 

Kehidupan Benediktus, lanjut Viktor, ‘Begitu keji, curang dan buruk, sehingga  memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus juga dituduh melakukan tindak homoseksual dan bestialitas.

Kekuasaan yang begitu besar dimiliki oleh para tokoh agama yang berujung kepada penyelewengan, kemudian menyulut berbagai protes.  Tahun 1887, Lord Acton seperti menyindir  hegemoni kekuasaan agama dan menulis surat kepada Bishop Mandell Creighton. Isinya antara lain: “All power tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely.”  (Peter de Rosa, Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy).

Revolusi Prancis, tahun  1789, yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”, juga dipicu oleh kerusakan moral sebagian tokoh agama yang terlibat dalam penindasan rakyat. Muncullah trauma masyarakat Barat terhadap para tokoh agama, sampai-sampai mereka memekikkan semboyan: “Berhati-hatilah, jika Anda berada di depan wanita, hatilah-hatilah Anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.” (Beware of a women if you are in front of her, a mule if you are behind it, and a priest wether you are in front or behind).”  (Owen Chadwick, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century, (New York: Cambridge University Press, 1975)).

Kita perlu belajar dari sejarah masyarakat Barat itu. Para tokoh agama yang sedang diuji oleh Allah SWT dengan limpahan tahta dan harta perlu sangat berhati-hati dalam menjalankan amanahnya.

Jangan sampai masyarakat memandang agama hanya dijadikan sebagai alat untuk memenuhi syahwat tahta dan harta. Ingat, Iblis paham betul bagaimana menjerumuskan manusia dalam kesesatan! Iblis tahu titik-titik lemah manusia.

Semoga Allah SWT melindungi kita semua, para ulama dan para pemimpin kita! Aamiin. (Depok, 10 November 2022).*

Penulis pengasuh Ponpes At-Taqwa, Depok

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:pendetatahtatokoh agama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Piala Dunia 2022: Islamofobia dan Solidaritas pada Qatar
Tulisan selanjutnya Lembaga Pendidikan pada Masa Dinasti Abbasiyah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?