Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Bani Adam atau Bani Monyet?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Agustus 2022 11:07 11:07 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Agustus 2022 11:30
Bagikan
Bagikan

“Manusia sekarang adalah bentuk sempurna dari sisa-sisa kehidupan purbakala yang berkembang dari jenis hominid, bangsa kera (monyet).” (Buku Sejarah SMA)

Hidayatullah.com | KUTIPAN di atasadalah penegasan sebuah Buku Sejarah untuk kelas X yang mengacu pada kurikulum 2013. Pendapat itu dikutip dari pernyataan Charles Darwin (1809-1882).  Ditampilkanlah gambar “nenek moyang bangsa Indonesia” berupa sebuah keluarga homo erectus yang mulutnya monyong,  tanpa balutan baju dan celana.

Entah bagaimana prosesnya, mulut kita sekarang tidak monyong, seperti gambar itu?

Konon, seperti dikatakan dalam buku pelajaran ini, kesimpulan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia itu berasal dari bangsa kera (sejenis monyet) adalah hasil pendekatan sains. Artinya, secara saintifik terbukti, bahwa manusia adalah keturunan monyet. Lalu dikatakan pula, pendekatan sains berbeda dengan pendekatan agama.

“Agama berada dalam tingkat eksistensial dan transendental (soal rasa, soal hati), sedangkan sains berada dalam tingkat faktual (soal pembuktian empiris). Dengan kata lain, agama dan sains memiliki otonomi masing-masing… Singkatnya, agama dan sains (ilmu pengetahuan) tidak perlu dicampuradukkan.”

Ironis! Dengan UUD 1945 pasal 31 (3), UU No 20/2003 dan No 12/2012 yang menargetkan terbentuknya manusia beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia, materi pelajaran seperti itu masih dipertahankan. Konsep “manusia dari monyet” sebenarnya keliru secara keilmuan, baik secara ontologis, epistemologis, dan sekaligus aksiologis.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Secara ontologis, konsep ini hanya mendefinisikan “manusia” sebagai entitas materi semata. Bukti-bukti sejarah manusia hanya dilihat dari aspek tulang belulang.

Itu jelas keliru. Sebab, unsur utama manusia adalah Ruh, yang tidak diakui oleh konsep ilmu sekular sebagai objek ilmu, karena merupakan objek non-inderawi (insensible).

Secara epistemologis, konsep manusia dari monyet itu pun keliru. Sama sekali tidak ada bukti empiris dan rasional, bahwa manusia dari monyet.

Hingga kini, tidak ada bukti ilmuwan bisa mengubah monyet jadi manusia. Silakan kuliahkan monyet sampai ketingkat doktoral, tak akan dia berubah jadi manusia.

Atau, jika kita mau, kawinkanlah monyet dengan manusia terpandai. Tak akan lahir anak monyet berakal dan beradab.

Sejarah manusia dahulu kala, hanya bisa dipastikan melalui berita yang benar (khabar shadiq). Semua rekayasa objek purbakala hanya menghasilkan kesimpulan ke tingkat dugaan (dhan).

Sebagian ilmuwan merujuk kepada tingkat persamaan struktur gen manusia dan simpanse yang mencapai 99 persen. Toh, yang 1 persen itu pun tak pernah bisa dipenuhi oleh simpanse. Dengan cara apa pun, monyet tidak pernah jadi manusia.

Secara aksiologis, konsep manusia dari monyet ini pun tak membawa manfaat besar bagi manusia. Hasilnya hanya dugaan, bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daratan China dan sekitarnya.

Jika hanya begitu kesimpulannya, untuk apa trilyunan rupiah dikucurkan untuk penelitian semacam itu?

****

Sekolah-sekolah dan pesantren Islam sepatutnya memahami dampak negatif dari kurikulum yang memaksa guru dan anak didik berpikir paradoks dan sekular: memisahkan kebenaran agama dan kebenaran sains. Padahal, pandangan ini jelas dalah dan bukan kebenaran saintifik.

Konsep itu hanya anggapan dan dugaan; berasal dari rekayasa berbagai fakta empiris. Tidak ada bukti empiris dan rasional yang memastikan manusia berasal dari monyet.

Pencarian manusia tentang asal-usulnya harusnya merujuk kepada kabar dari Sang Pencipta, Allah SWT. Penolakan wahyu Ilahi sebagai sumber ilmu telah memalingkan manusia dari sejarahnya sendiri.

Manusia adalah keturunan Nabi Adam a.s. Manusia itu Bani Adam, bukan bani monyet, dan kebutuhan primer manusia tertinggi adalah ibadah; bukan makan dan minum.

Untuk beribadah, liya’budun – bukan liya’kulun —  (QS 51:56) itulah, maka manusia dicipta; bukan hidup untuk makan! Sebab kalau hanya “untuk makan”, itu tujuan hidup monyet.

Saat berpuasa, seorang Muslim rela meninggalkan kebutuhan makan-minum, demi ibadah. Seorang Ibu rela menyabung nyawa, demi keselamatan anak tercintanya.

Mujahid ikhlas mengorbankan jiwa, demi cita-cita mulia. Kebutuhan ibadah lebih tinggi daripada kebutuhan jasadiah, makan-minum.

Adam a.s. dicipta dan diturunkan ke dunia untuk menjadi khalifah fil-ardh. Tugasnya, dan para Nabi sesudahnya, menegakkan kalimah Tauhid; agar manusia hanya menyembah Allah semata (QS 16:36); bukan menyembah tuyul atau genderuwo.

Sebagai khalifah, manusia bertugas memakmurkan bumi; bukan merusaknya. Jadi, silakan Anda pilih: Bani Adam atau Bani monyet?*

Direktur Attaqwa College, Depok

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bani Adambani monyetmanusia keturunan keramanusia keturunan monyetTeori Darwin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perhatikan Mata Malas pada Anak atau Amblyopia  
Tulisan selanjutnya Muslimah Ini Desak Pengadilan India Batalkan Pembebasan 11 Pria yang Memperkosa dan Membantai Keluarganya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat

Berita
21 Juli 2026 22:34
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Terbaru

  • Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
  • Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Melarang Akses Media Sosial Bagi Anak-anak
  • PM Andy Burnham Izinkan Pangkalan Militer Inggris Dipakai Amerika untuk Menyerang Iran
  • Perang Amerika Serikat atas Iran Sejauh Ini Menelan Biaya $37,5 Miliar Kata Pentagon
  • Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
  • MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?