Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Tiga Butir Benih

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Oktober 2016 22:54 10:54 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Oktober 2016 22:54
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

 

KETIKA Thomas Malthus (1766-1834) berteori bahwa pertumbuhan penduduk dunia mengikuti deret ukur (1,2,4,8 dst.) sementara pertumbuhan ketersediaan pangan mengikuti deret hitung (1,2,3,4 dst.), dunia mengikutinya. Dampaknya korban KB dirancang secara global untuk menekan pertumbuhan jumlah penduduk, dan perebutan sumber-sumber pangan menjadi ‘perang baru’ yang didorong oleh ketakutan manusia akan kelaparan. Bagaimana kalau teori Malthus ini ternyata salah ?

Dan saya termasuk orang yang sangat meyakini bahwa teori Malthus tersebut salah, mengapa demikian ? Ada petunjuk yang sebaliknya, bahwa pertumbuhan ketersediaan pangan itu sesungguhnya bersifat eksponential – bila saja manusia mau melaksanakan perintahNya , yaitu antara lain untuk memakmurkan bumi (QS 11:61).

Bahwasanya sekarang sepertinya teori Malthus yang benar – sekian banyak orang di dunia kelaparan, bukan karena daya dukung kehidupan di bumi yang tidak cukup untuk memberi makan para penduduknya – melainkan karena gagalnya manusia dalam melaksanakan perintahNya.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Maka tidak heran Allah menyatakan  dengan kalimat yang sangat tegas:

“Sekali-kali tidak ! Manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkanNya.” (QS 80:23).

Perintah apa yang sesungguhnya belum kita laksanakan? Bisa sangat banyak, tetapi salah satunya adalah perintah terkait dengan memakmurkan bumi ini atau perintah memberi makan.

Ini bisa kita lihat dari rangkaian ayat berikutnya setelah pernytaan Allah bahwa manusia belum melaksanakan perintahNya tersebut di atas, lihat ayat yang tepat sesudah pernyataan tersebut :

كَلَّا لَمَّا يَقۡضِ مَآ أَمَرَهُ ۥ (

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS Abasa [80:24).

Nah asumsinya kita pingin pindah, dari status manusia yang belum melaksanakan perintahNya (QS Abasa [80]:23) ke orang yang memperhatikan makanannya (QS Abasa [80]:24) – perubahan apa yang kiranya bisa kita lakukan untuk dunia khususnya terkait dengan ketersediaan pangan tersebut diatas?

Gandum di Kebun Al-Qur’an

Pertama adalah adanya petunjukNya bahwa pertumbuhan produksi pangan itu eksponensial ! Dimana ayatnya ? Perhatikan ayat berikut:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٲلَهُمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ۬ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ۬‌ۗ وَٱللَّهُ يُضَـٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ‌ۗ وَٱللَّهُ وَٲسِعٌ عَلِيمٌ (٢٦١)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al Baqarah [2]:261)

Dengan segala keterbatasan yang ada, ketika ayat ini kita coba implementasikan di tanaman gandum yang sedang kami coba tanam di Kebun Al-Qur’an, hasilnya,  dari setiap butir benih, bulir yang dihasikan rata-rata lima dan pada setiap bulir biji yang dihasilkan rata-rata 33. Bukan ayatnya yang salah tetapi keterbatasan kemampuan kami dalam bertani gandum yang memang jauh dari sempurna – artinya masih terbuka ruang yang sangat lebar untuk perbaikan, yaitu menaikkan bulir menjadi tujuh dan menaikkan jumlah biji menjadi sekitar 100 pada setiap bulirnya.

Namun dengan segala keterbatasan ini saja, apa yang bisa kita perbuat bila kita memiliki tiga butir benih gandum saja ? (atau tanaman apapun juga boleh, tetapi dengan matematika model yang pastinya berbeda). Ketika tiga butir ini kita tanam, kemungkinan terbesarnya minimal satu butir akan tumbuh.

Dengan asumsi pertumbuhan hasilnya belum sempurna mengikuti yang diisyaratkan Al-Qur’an di ayat di atas sekalipun, satu butir benih yang tumbuh tersebut bila mengikuti hasil percobaan kami – maka hasilnya akan berada di kisaran angka 165 biji.

Bila dari hasil ini sepertiga kita tanam, dan hanya tumbuh sepertiganya saja – maka pada panenan ke dua sudah menjadi lebih dari 3,000 butir. Pada panenan ke 3 sudah lebih dari 55,000 butir, dan pada panenan ke 4 sudah menjadi lebih dari 1 juta butir. Bila panenan ke 4 ini 2/3-nya dimakan, maka bagian yang dimakan ini cukup untuk memberikan karbohidrat sepasang manusia selama satu tahun.

Bila diteruskan 1/3 dari panenan ke 4 yang tidak dimakan tersebut terus ditanam, dan kemudian polanya tetap 2/3 dimakan dan 1/3 ditanam kembali – maka pada panenan ke 9, jumlah butir yang dihasilkan sudah mencapai lebih dari 2.1 trilyun dan bisa memberi makan sekitar 31 juta orang selama setahun.

Karena gandum yang kita tanam bisa dipanen pada hari ke 75, kalau ditanam secara besar di lahan luas kemungkinan akan mundur di kisaran 90-100 hari, maka gandum di negeri ini sangat bisa jadi akan bisa ditanam 3 kali setahun. Berarti panenan ke 9, dari 3 butir benih sampai mencukupi pangan untuk 31 juta penduduk tersebut waktunya hanya 3 tahun. Dan pada tahun ke 4 kita sudah bisa mencukupi seluruh kebutuhan pangan penduduk negeri ini, yang tumbuh sangat pesat sekalipun!

Dengan matematika pangan ini kita juga bisa lebih mudah memahami, bagaimana Khalifah belia Umar bin Abdul Azis (682-720 M) bisa memakmurkan seluruh negerinya meskipun pemerintahannya sangat singkat yaitu kurang dari 3 tahun. Bagitu makmurnya sehingga di wilayah Afrika yang dari dahulu hingga kini sering dilanda kelaparan – tidak ada kelaparan di wilayah tersebut semasa pemerintahan Umar bin Abdul Azis ini.

Aplikasinya di jaman ini tentu ada kendala disana-sini, itupun biasa – tetapi yang ingin saya sampaikan bahwa dengan contoh ini saja sudah jelas teori Malthus yang menjadi dasar sejumlah kebijakan di dunia adalah keliru adanya. Bahwasanya sekarang nampaknya lebih mendekati pada kenyataan di dunia – itu karena manusia belum melaksanakan perintahNya sebagaimana pernyataan Allah tersebut di atas (QS 80:23).

Bila manusia ini mulai mau belajar melaksanakan perintahNya, mulai memakmurkan bumi untuk bisa memberi makan melalui cara dan petunjukNya – maka jalan untuk kecukupan pangan itu menjadi sangat jelas. Bahkan kita bisa memulai hanya dengan tiga butir benih saja, insyaAllah!

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gandumKhalifah Umar bin Abdul Azismemakmurkan seluruh negeripangan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saudi dan Amerika Menempati Negara dengan Penduduk Berempati Tinggi
Tulisan selanjutnya Ulama Al Azhar, Orientalis dan Gemetarnya Menteri Pendidikan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?