Hidayatullah.com—Keluar dari cengkraman gurita Soeharto, Indonesia justru masuk dalam gurita ‘penjajahan’ lain yang tidak kalah bahanya.
Demikian disampaikan Dr Sri Bintang Pamungkas saat menjadi pembicara dalam Pengajian Politik Islam (PPI), di Masjid Agung Al Azhar (MAAA), Kebayoran Baru, Jakarta belum lama ini.
Menurutnya, ada tiga gurita yang saat ini sedang mencengkeram Indonesia; rezim, asing dan aseng.
Banyak aset negara yang dikuasai asing dengan cara perubahan Undang-undang. Tanpa terasa, perekonomian kita sudah dikuasai oleh China melalui keturunannya yang berbisnis di Indonesia.
Data yang dimiliki Bintang menunjukkan, hasil investasi asing ini pada akhirnya justru mengucur deras ke negara komunis itu dan ke beberapa negara lainnya.
Menurut Bintang, perlahan tapi pasti, sumber daya alam Indonesia habis digerogoti.
Selain itu, saat ini politik dimainkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan keputusan-keputusan yang hanya menguntungkan pihak penguasa namun dalam jangka panjang menggerogoti rakyat.
“Ini bukan SARA. Ini nasionalisme. Ini pembelaan diri terhadap penjajahan,” paparnya dengan nada cukup geram.
Beragam persoalan, menurut Bintang, bermuara pada acuhnya para pemimpin yang tidak pro-rakyat, termasuk para pemimpin yang beragama Islam.
“Mana orang Islam yang pernah menjadi pemimpin, membela umat Islam? Memberikan harta untuk membangun Ruko atau rumah rakyat,”cetusnya mempertanyakan keberanian pemimpin yang beragama Islam.
Menurutnya, untuk hal ini Malaysia bisa dijadikan contoh. Negara tersebut berani terang-terangan membela Islam. Di sana tidak ada rakyat yang tidak punya rumah. Dengan suku bunga pinjaman lunak 2-3 persen, memudahkan rakyatnya memiliki rumah.
“Kok, Indonesia nggak berani?” tanyanya.
“Anda sudah dijajah tapi nggak kerasa kalau dijajah. Kapan Anda mau bangkit? Ini yang jadi soal,” ucapnya.
Peraih gelar PhD dari IOWA State University, AS, itu menyadari, perubahan sistem politik tidak cukup diubah dalam kurun waktu 3-4 bulan.
Namun, setidaknya umat Islam memiliki nasionalisme untuk bangkit dan tidak terus menerus dikebiri oleh sistem yang menindas.*