Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
NoneOpini

Radikal Istilah yang Bermetamorfosis, Tidak Sekadar Kepompong Menjadi Kupu-kupu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 April 2021 11:58 11:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 April 2021 10:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Melihat sepotong Indonesia bisa darI mana saja, dan itu berkenaan dengan kebijakan yang dimunculkan. Bahkan Indonesia bisa dilihat dari kebijakan pada sektor kecil tertentu sekalipun.

Tentu ada parameter untuk melihatnya, sehingga bisa dibuat satu kesimpulan, bahwa itu sebuah kebijakan yang berdiri sendiri, atau bahkan justru saling terkait satu dengan lainnya.

Kesimpulan pun tidak muncul begitu saja, tanpa ada peristiwa yang melatarbelakangi. Peristiwa yang muncul, itu bisa disengaja dimunculkan untuk membuat kebijakan lebih luas.

Maka peristiwa demi peristiwa muncul, seperti diskenariokan. Plot-plotnya seperti drama yang dimainkan. Alur cerita bisa mudah di baca atau sebaliknya.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah
200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang

Alur cerita itu bisa diambil dari mana saja, dari peristiwa apa saja. Maka kita ada dalam permainan drama itu, tentu tidaklah sebagai lakon utama, peran figuran pun tidak. Mungkin kita cuma ada dibarisan penonton pasif.

Bangunan kisah bisa dimulai dari peristiwa yang seolah kecil, tapi lambat laun tidak mustahil bisa jadi role model untuk mengambil kebijakan pada skala yang lebih luas tentang apa yang diperkenankan dan sebaliknya.

Baca: Anti Kritik Rezim yang Ditorpedo

Istilah Radikal PT Pelni

Sebagai penonton adegan disuguhkan, yang plot cerita sudah dibuat. Suka atau tidak suka, itu yang dimainkan-dipertontonkan. Maka kita cuma bisa menggerutu jika kisah itu tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Pekan ini suguhan kisahnya adalah “Pelarangan Kajian Ramadhan”. Itu di PT Pelni, sebuah BUMN. Maka dimunculkan isu radikalis pada penceramah yang berencana mengisi tausiah melalui daring.

Pengisi materi pada acara itu, adalah para ulama yang tergolong sejuk. Bahkan jauh dari mengkritik kebijakan pemerintah. KH Cholil Nafis, salah satu pengisi materi, adalah salah satu Ketua MUI, yang jika harus mengkritik itu dengan bahasa halus lembut.

Sedang pengisi materi lainnya, adalah da’i-da’i Salafiyah (Salafi), yang jauh dari mengkritik kebijakan rezim. Bahkan mengkritik rezim yang sedang berkuasa, itu semacam “diharamkan”.

Tapi kalau radikalis itu karena mereka tampil dengan jenggot lebat dan celana cingkrang, maka para da’i Salafi itu pantas terkena stempel radikalis, karena mereka akrab dengan jenggot dan celana cingkrang.

Ustad Syafiq Reza Basalamah, salah satu pengisi materi, memang berjenggut lebat. Bahkan jenggotnya bisa jadi lebih panjang dari ukuran wajahnya. Tapi jika mendengar kajiannya, cuma masalah ringan yang disampaikan, lebih pada masalah keseharian.

Ada yang lalu menyebutnya, sangar di penampilan wajah tapi lembut dalam penyampaian materi. Begitu pula dengan para pemateri lainnya. Tapi jika jenggot dan celana cingkrang yang mereka kenakan menjadikan mereka distempel radikal. Maka bisa disimpulkan bahwa istilah radikal itu tengah bermetamorfosa.

Baca: Narasi Kontroversial Menteri Hilang Akal

Istilah radikal yang bermetamorfosis, bisa terus berkembang, tidak sekadar kepompong yang berhenti saat menjadi kupu-kupu. Definisi radikal itu terus akan berkembang di tangan mereka yang menginginkan. Berkembang dengan sesuka-sukanya.

Dan jika kasus PT Pelni ini dibiarkan oleh Kementerian BUMN, atau tidak ada koreksi dari Kementerian Agama, meski MUI telah mengomentari pelarangan itu. Maka bisa disimpulkan, bahwa kasus PT Pelni ini memang menjadi kebijakan, yang akan ditularkan pada Perusahaan BUMN lainnya, bahkan pada departemen lainnya.

Dari PT Pelni, bangunan kisah melihat sepotong Indonesia tentang kebijakan pelarangan dakwah pada para da’i tertentu bisa dilihat dengan terang benderang. Semua bisa melihat kisah itu, meski kisah yang tidak disuka, dengan hati dongkol. Dan karenanya, ingin sesegera mungkin mengakhirinya. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:PelniradikalSalafi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mesir Ungkap Temuan Kota Kuno Era Firaun
Tulisan selanjutnya Munas AKBAM: Momen Bangkitnya Perguruan Tinggi Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
BeritaNone

Jerman Penjarakan Seorang Pria Libanon Anggota Hizbullah

11 Maret 2026 15:18
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
BeritaNone

Kurma Israel Beredar di Eropa dengan Label Palsu

20 Februari 2026 07:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?